Berangkat dari keinginan untuk lebih dekat dengan keluarga, Budiardi yang awalnya bekerja sebagai pelaut akhirnya memilih itik sebagai sumber mata pencaharian hidup. Sebenarnya usaha ini sudah dirintis oleh istrinya sejak tahun 1993 dengan beternak itik. Tahun 2002 Budiardi mulai serius menekuni ternak itik tersebut dengan memanfaatkan halaman belakang rumahnya yang cukup luas didesa Taman Sari Kecamatan Dringu. Awalnya bapak dua anak ini beternak 100 ekor itik. Guna mengembangkan usahnya, Budiardi mengajukan Proposal kepada Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Probolinggo untuk mendapatkan kredit modal kerja. Alhasil proposal diterima. Tahun 2002 ia menerima kucuran dana pinjaman Kredit Modal Kerja UKM ( KMK UKM ) sebesar Rp. 3.000.000,-
Berkat ketekunan dan keseriusannya, usaha ternak Budiardi terus berkembang. Tahun 2004 ia kembali mendapatkan kucuran KMK UKM sebesar Rp. Juta. Terakhir Budiardi mendapatkan pinjaman sebesar Rp. 20 juta untuk pengembangan usahanya. Kini Budiardi telah memiliki tak kurang dari 1000 ekor itik yang dipeliharanya bersama istri dan seorang tenaga pembantu.
Awalnya ia mendapatkan informasi tentang bantuan pinjaman untuk modal kerja saat mengikuti pelatihan yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga kerja dan transmigrasi Kabupaten Probolinggo tahun 2002, dan pemateri dari Dinas Koperasi, UKM menjelaskan tentang pinjaman untuk permodalan.
Terkait produksi ternaknya, Budiardi menjelaskan perhari bisa dihasilkan 700 butir telur. Telur telur tersebut sebagian langsung dijual dan yang sebagian lagi diasinkan. Untuk pemasaran, sementara ini Budiardi masih melayani permintaan dari sekitar Probolinggo. Pelanggan juga ada yang rutin datang langsung mengambil telur ditempat.
Budiardi menjelaskan itik yang dipelihara adalh jenis Campbell yang menurutnya lebih cocok dengan lingkungan setempat. Perawatan unggas yang satu ini memang lebih mudah dan murah dibandingkan unggas lainnya seperti ayam dan burung. Untuk menjaga kesehatan ternak, perawatannya lebih mudah, karena bebek ( itik I lebih kuat, yang terpenting kebersihan kandang harus selalu dijaga.
Dari penghasilan beternak itik ini, Budiardi dapat menafkahi istri dan dua orang anaknya. Biaya produksi dan perawatan ternak dapat diimbangi dengan hasil produksi telur tiap hari. Meskipun berkembang cukup pesat, Budiardi mengaku masih ingin terus mengembangkan usahanya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat jumlah itiknya bisa bertambah, harap Bapak berusia 43 tahun ini.
Berkat ketekunan dan keseriusannya, usaha ternak Budiardi terus berkembang. Tahun 2004 ia kembali mendapatkan kucuran KMK UKM sebesar Rp. Juta. Terakhir Budiardi mendapatkan pinjaman sebesar Rp. 20 juta untuk pengembangan usahanya. Kini Budiardi telah memiliki tak kurang dari 1000 ekor itik yang dipeliharanya bersama istri dan seorang tenaga pembantu.
Awalnya ia mendapatkan informasi tentang bantuan pinjaman untuk modal kerja saat mengikuti pelatihan yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga kerja dan transmigrasi Kabupaten Probolinggo tahun 2002, dan pemateri dari Dinas Koperasi, UKM menjelaskan tentang pinjaman untuk permodalan.
Terkait produksi ternaknya, Budiardi menjelaskan perhari bisa dihasilkan 700 butir telur. Telur telur tersebut sebagian langsung dijual dan yang sebagian lagi diasinkan. Untuk pemasaran, sementara ini Budiardi masih melayani permintaan dari sekitar Probolinggo. Pelanggan juga ada yang rutin datang langsung mengambil telur ditempat.
Budiardi menjelaskan itik yang dipelihara adalh jenis Campbell yang menurutnya lebih cocok dengan lingkungan setempat. Perawatan unggas yang satu ini memang lebih mudah dan murah dibandingkan unggas lainnya seperti ayam dan burung. Untuk menjaga kesehatan ternak, perawatannya lebih mudah, karena bebek ( itik I lebih kuat, yang terpenting kebersihan kandang harus selalu dijaga.
Dari penghasilan beternak itik ini, Budiardi dapat menafkahi istri dan dua orang anaknya. Biaya produksi dan perawatan ternak dapat diimbangi dengan hasil produksi telur tiap hari. Meskipun berkembang cukup pesat, Budiardi mengaku masih ingin terus mengembangkan usahanya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat jumlah itiknya bisa bertambah, harap Bapak berusia 43 tahun ini.
Usaha yang digeluti Nito panggilan panggilan Anshori pria asli Wonomerto memang tergolong cukup langka bagaimana tidak produk yang dihasilkan Pak Nito lain dari pada usaha yang digeluti kebanyakan orang, Pak Nito memproduksi tali “Tongar” tali yang berukuran 3 meteran dengan kombinasi warna merah biru dikhususkan untuk seekor sapi yang dililitkan dihidung sampai kebelakang.
Tali Tongar memang asing bagi telinga orang awam, tapi bagi pemilik sapi tali ini merupakan kebutuhan untuk mengendalikan keseimbangan sapi-sapi yang dimiliki para peternak, tali disamping berperan untuk mejaga keseimbangan sapi juga untuk menjaga keamanan sapi jika sewaktu waktu llepas.
Tongar diproduksi oleh Pak Nito sejak sepuluh tahun yang lalu, berbahan tali raffia yang khusus didatangkan dari Surabaya, tali raffia diolah , dipilah dan dianyam sedemikian rupa hingga membentuk tali yang kuat dan sintetis.
Menurut Nito “ sebulan ia mampu memproduksi 5 ton tali yang sudah dispesan oleh pembelinnya, selain tali tongar saya juga memproduksi tali raffia yang digulung kecil-kecil untuk dijual kembali”
Bagi Nito ayah dua putra ini, menggeluti usaha tali sudah merupakan garis hidupnya, dengan usaha ini ia sudah mampu mencukupi keluarga dan 12 karyawannya, apalagi usahanya masih belum ada pesaing, jadi ia satu-satunya yang memproduksi tongar ini.
Tongar Nito dipasarkan keberbagai daerah terutama daerah madura, Surabaya, dan Pasuruan, yang menjadi kendala bagi Nito adalah kesediaaan bahan baku, kadang-kadang begitu pesanan mulai mengalir bahan baku yang dipesan masih belum ada, hal ini yang menghambat hasil produksinya, kalau sudah begini kami hanya bisa menunggu bersama 12 karyawannya.
Tali Tongar memang asing bagi telinga orang awam, tapi bagi pemilik sapi tali ini merupakan kebutuhan untuk mengendalikan keseimbangan sapi-sapi yang dimiliki para peternak, tali disamping berperan untuk mejaga keseimbangan sapi juga untuk menjaga keamanan sapi jika sewaktu waktu llepas.
Tongar diproduksi oleh Pak Nito sejak sepuluh tahun yang lalu, berbahan tali raffia yang khusus didatangkan dari Surabaya, tali raffia diolah , dipilah dan dianyam sedemikian rupa hingga membentuk tali yang kuat dan sintetis.
Menurut Nito “ sebulan ia mampu memproduksi 5 ton tali yang sudah dispesan oleh pembelinnya, selain tali tongar saya juga memproduksi tali raffia yang digulung kecil-kecil untuk dijual kembali”
Bagi Nito ayah dua putra ini, menggeluti usaha tali sudah merupakan garis hidupnya, dengan usaha ini ia sudah mampu mencukupi keluarga dan 12 karyawannya, apalagi usahanya masih belum ada pesaing, jadi ia satu-satunya yang memproduksi tongar ini.
Tongar Nito dipasarkan keberbagai daerah terutama daerah madura, Surabaya, dan Pasuruan, yang menjadi kendala bagi Nito adalah kesediaaan bahan baku, kadang-kadang begitu pesanan mulai mengalir bahan baku yang dipesan masih belum ada, hal ini yang menghambat hasil produksinya, kalau sudah begini kami hanya bisa menunggu bersama 12 karyawannya.
Tak semua orang mempunyai mimpi untuk membuat daerahnya lebih dikenal masyarakat dengan ciri khas potensi daerahnya. Salah satunya, Hj. Chotimatul Husnah. Ia mempunyai cita-cita besar untuk menjadikan Paiton Kota Batik. Terinspirasi dari keinginan untuk melanjutkan warisan nenek moyang di daerah Paiton tempo doloe, yang rata-rata adalah pengerajin batik. Maka sejak 3 tahun
lalu, ibu 3 orang anak ini, memulai usahanya memproduksi batik tradisional khas Probolinggo, dengan lebel UD. Mutiara.
Menurut dia tidak mudah memuai usaha batik.Karena tidak semua orang bisa dan mau membatik. Karena itu, setahun sebelum memulai usaha batinya, ia lebih dulu mengikuti berbagai pelatihan batik sekaligus magang di luar kota. Seperti di Pekalongan, Banyuwangi bahkan Yogyakarta.
Dari pelatihan dan magang tersebut ia muali mencari tenaga kerja di sekitar tempat tinggalnya yakni Desa Sukodadi Kecamatan Paiton. Itupun tidak mudah. Sebab, tidak semua orang bisa dan mau mbatik.
“Orang yang mau mbatik itu harus disiplin, sabar, tekun dan ikhlas,”terangnya menerawang.Dari 10 orang tenaga kerja kini usaha batiknya terus berkembang. Sehingga ia pun membutuhkan 25 tenaga kerja, untuk proses produksi mulai dari pengecapan, pewarnaan, nglorod hingga penjemuran.

sehari ia mampu memproduksi 25 – 30 potong kain batik. Dengan harga per potong, Rp. 40.000. Sehingga dalam sebulan produksi batik Mutiara rata-rata mencapai 900 potong. Namun di moment tertentu, seperti pemilu baru-baru ini, pesanan bisa melonjak hingga 1.500 potong.Tak heran omzet yang ia dapat pun mencapai Rp. 30.000 – Rp. 60.000 setiap bulannya.
Selain melayani pesanan lokal, ibu yang masih terlihat muda di usia menjelang 40 tahun ini, juga melayani pesanan dari luar daerah seperti Pasuruan dan Lumajang.
Ke depan, ia mempunyai keinginan untuk lebih fokus ke batik painting, yang sekarang sedang menjadi trend masyarakat. Dengan batik painting itu pula Chotimatul berencana membidik dunia pendidikan melalui produksi seragam batik SD hingga SMA.
Penghargaan Sebagai Perempuan Inovatif
Memiliki suami yang juga sibuk di bidang jasa pemberangkatan haji dan 3 orang anak yang masih kecil, tidak menghalangi Hj. Chtimatul untuk berkarya dan berinovasi. Melalui ide-ide kreatifnya, ia mampu memberdayakan kaum perempuan di desa dan sekitarnya untuk memperoleh penghasilan keluarga. Selain memiliki usaha batik, ia juga mempunyai 3 kelompok usaha binaan yang tersebar di Sukodadi dan sekitarnya.
Diantaranya, usaha produksi rengginang, pengerajin kulit kerang dan payet. Tidak hanya memberikan pembinaan, Hj. Chotimatul yang dalam penampilannya selalu menutup aurat ini, juga membantu pemasaran dari hasil usaha kelompok binaannya
Dari usaha kerasnya memperdayakan ekonomi mayarakat lokal tersebut, tahun 2006 lalu ia dinobatkan sebagai Perempuan Inovatif oleh Kantor Pemberdayaan Perempuan Propinsi Jawa Timur. Melalui Program Pembangunan Pemberdayaan Ekonomi Lokal akhirnya ia memperoleh bantuan Dana sebesar 25 juta rupiah.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas penghargaan ini. Walaupun jujur saya tidak terpikir sama sekali usaha saya untuk membantu masyarakat dihargai oleh pemerintah,”urainya bersemangat.

Namun di tengah kebahagiaannya itu, Hj. Chotimatul masih menyimpan impian dan cita-cita besar yang belum terwujud yakni menjadikan Paiton sebagai Kota Batik. SELAMAT BU, TERUSLAH BERJUANG UNTUK CITA-CITAMU !!!!.
lalu, ibu 3 orang anak ini, memulai usahanya memproduksi batik tradisional khas Probolinggo, dengan lebel UD. Mutiara.
Menurut dia tidak mudah memuai usaha batik.Karena tidak semua orang bisa dan mau membatik. Karena itu, setahun sebelum memulai usaha batinya, ia lebih dulu mengikuti berbagai pelatihan batik sekaligus magang di luar kota. Seperti di Pekalongan, Banyuwangi bahkan Yogyakarta.
Dari pelatihan dan magang tersebut ia muali mencari tenaga kerja di sekitar tempat tinggalnya yakni Desa Sukodadi Kecamatan Paiton. Itupun tidak mudah. Sebab, tidak semua orang bisa dan mau mbatik.
“Orang yang mau mbatik itu harus disiplin, sabar, tekun dan ikhlas,”terangnya menerawang.Dari 10 orang tenaga kerja kini usaha batiknya terus berkembang. Sehingga ia pun membutuhkan 25 tenaga kerja, untuk proses produksi mulai dari pengecapan, pewarnaan, nglorod hingga penjemuran.
sehari ia mampu memproduksi 25 – 30 potong kain batik. Dengan harga per potong, Rp. 40.000. Sehingga dalam sebulan produksi batik Mutiara rata-rata mencapai 900 potong. Namun di moment tertentu, seperti pemilu baru-baru ini, pesanan bisa melonjak hingga 1.500 potong.Tak heran omzet yang ia dapat pun mencapai Rp. 30.000 – Rp. 60.000 setiap bulannya.
Selain melayani pesanan lokal, ibu yang masih terlihat muda di usia menjelang 40 tahun ini, juga melayani pesanan dari luar daerah seperti Pasuruan dan Lumajang.
Ke depan, ia mempunyai keinginan untuk lebih fokus ke batik painting, yang sekarang sedang menjadi trend masyarakat. Dengan batik painting itu pula Chotimatul berencana membidik dunia pendidikan melalui produksi seragam batik SD hingga SMA.
Penghargaan Sebagai Perempuan Inovatif
Memiliki suami yang juga sibuk di bidang jasa pemberangkatan haji dan 3 orang anak yang masih kecil, tidak menghalangi Hj. Chtimatul untuk berkarya dan berinovasi. Melalui ide-ide kreatifnya, ia mampu memberdayakan kaum perempuan di desa dan sekitarnya untuk memperoleh penghasilan keluarga. Selain memiliki usaha batik, ia juga mempunyai 3 kelompok usaha binaan yang tersebar di Sukodadi dan sekitarnya.
Diantaranya, usaha produksi rengginang, pengerajin kulit kerang dan payet. Tidak hanya memberikan pembinaan, Hj. Chotimatul yang dalam penampilannya selalu menutup aurat ini, juga membantu pemasaran dari hasil usaha kelompok binaannya
Dari usaha kerasnya memperdayakan ekonomi mayarakat lokal tersebut, tahun 2006 lalu ia dinobatkan sebagai Perempuan Inovatif oleh Kantor Pemberdayaan Perempuan Propinsi Jawa Timur. Melalui Program Pembangunan Pemberdayaan Ekonomi Lokal akhirnya ia memperoleh bantuan Dana sebesar 25 juta rupiah.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas penghargaan ini. Walaupun jujur saya tidak terpikir sama sekali usaha saya untuk membantu masyarakat dihargai oleh pemerintah,”urainya bersemangat.
Namun di tengah kebahagiaannya itu, Hj. Chotimatul masih menyimpan impian dan cita-cita besar yang belum terwujud yakni menjadikan Paiton sebagai Kota Batik. SELAMAT BU, TERUSLAH BERJUANG UNTUK CITA-CITAMU !!!!.
Berburu Ikan Asin Kering Bu Soleh
Semua yang diciptakan Allah SWT tidak ada yang sia-sia. Tidak ada yang berani menyangkal bahwa Allah SWT adalah pencipta terhandal di muka bumi. Tak satupun cipta - Nya yang kalau kita mau mengelola dengan serius tidak bermanfaat.
Diantaranya ikan laut yang tersebar luas di perairan Paiton, yang dikelola secara serius oleh Hj. Sholehatul. Dengan melalui proses pengeringan ikan asin olahannya, mampu menembus pasar lokal dan luar daerah seperti Malang dan Tulungagung. Bahkan ikan asin produksi UD.Berkah telah merajai swalayan dan supermaket di Probolinggo, Malang dan Tulungagung.
Dengan menambahkan bumbu dan sedikit garam, ikan asin Bu Sholeh mampu bersaing dengan produksi ikan asin lainnya.
“Tapi produksi ikan kering ini tergantung pesanan konsumen. Kalau pelanggan malang biasanya minta ikan jenggelek. Sedangkan Probolinggo dan Tulungagung sering minta ikan sisik,”urainya singkat.
Tak tanggung-tanggung, dari usaha pengeringan ikan itu, Bu Sholeh mampu meraup omzet Rp. 10 juta per hari. Dengan penghasilan itu, ia mampu memberi penhasilan pada 8 orang hingga 20 orang pekerjanya.
Sedikit banyaknya pekerja yang andil dalam usaha pengeringan ikan miliknya, tergantung dari musim dan banyaknya pesanan. Hasil tangkapan ikan melimpah saat musim penghujan
Diantaranya ikan laut yang tersebar luas di perairan Paiton, yang dikelola secara serius oleh Hj. Sholehatul. Dengan melalui proses pengeringan ikan asin olahannya, mampu menembus pasar lokal dan luar daerah seperti Malang dan Tulungagung. Bahkan ikan asin produksi UD.Berkah telah merajai swalayan dan supermaket di Probolinggo, Malang dan Tulungagung.
Dengan menambahkan bumbu dan sedikit garam, ikan asin Bu Sholeh mampu bersaing dengan produksi ikan asin lainnya.
“Tapi produksi ikan kering ini tergantung pesanan konsumen. Kalau pelanggan malang biasanya minta ikan jenggelek. Sedangkan Probolinggo dan Tulungagung sering minta ikan sisik,”urainya singkat.
Tak tanggung-tanggung, dari usaha pengeringan ikan itu, Bu Sholeh mampu meraup omzet Rp. 10 juta per hari. Dengan penghasilan itu, ia mampu memberi penhasilan pada 8 orang hingga 20 orang pekerjanya.
Sedikit banyaknya pekerja yang andil dalam usaha pengeringan ikan miliknya, tergantung dari musim dan banyaknya pesanan. Hasil tangkapan ikan melimpah saat musim penghujan
Eko memiliki ayam – ayam ajaib. Betapa tidak ajaib, ayam-ayam jenis broiler milik Ny. Eko ini bisa menghasilkan uang hingga jutaan rupiah.
Berawal dari hobi mancing di tambak sang suami, Anang Budiarto, Ny. Eko punya ide untuk mimiliki tambak sendiri. Di awal tahun 2006 dengan modal Rp 50 juta, di bawah naungan UD. Kharisma, dipilihlah tambak bandeng untuk memulai usahanya. Tambak yang terletak di Desa Gending Kecamatan Gending ini, didirikan di lahan seluas 3 hektare.
Ditengah jalan Ny. Eko merasa kesulitan mencari makanan bandeng berupa tahi ayam, yang menyebabkan pertumbuhan bandeng mulai bibit hingga masa panen terbilang lama yakni 8 bulan. Tentunya ini membuat perputaran modalpun lambat, akhirnya ia pun banting setir dengan menjadi peternak ayam broiler.
Tak kehilangan akal, agar dua keuntungan bisa diraihnya, Bu Anang begitu dia biasa disapa mendirikan kandang ayam diatas kolam bandeng. Sehingga selain memperoleh keuntungan dari penjualan ayam broiler, Bu Anang juga bisa memberikan
makanan bagi bandeng-bandeng-nya. Dengan kemudahan memperoleh pakan bandeng itu, Bu Anang bisa panen bandeng dalam waktu relatif singkat. Yakni 3 bulan (awal nya 8 Bulan ).
Untuk pemeliharaan ayam brolier, dikatakan tidak terlalu rumit. Dengan memberikan consentrat, jagung, vitamain plus vaksin, ayam broiler dapat dijual dalam jangka waktu 40 hari.
Kini dengan mempekerjakan 8 orang karyawan, usaha ayam broilernya mampu meningkatkan jumlah ayam broiler dari 2000 ekor, menjadi 7000 ekor. Ditanya tim cabe rawit tentang daerah pemasaran, lulusan SPG Lumajang ini mengungkapkan. Bahwa walaupun pemasaran ayam broilernya hanya di Probolinggo dan Malang, ia yang di awal usahanya hanya mampu memperoleh keutungan sebesar 3 juta / bulannya, kini bisa meraup keuntungan hingga 15 jt setiap bulannya.
Ke depan, selain serius menekuni usaha ayam broiler, ibu satu orang anak yang tinggal di Perum Sumber Taman Indah Problinggo ini, punya impian mengembangkan usaha bandengnya agar mempunyai nilai tambah. Caranya dengan mengolah bandeng menjadi bandeng asap dan bandeng presto. Kerena kedua bahan olahan tersebut lagi booming saat ini.
PAVING dan BAHAN BANGUNAN SEKAWAN RIMBA
Kualitas paving yang dihasilkan sentra industri paving di UD Sekawan Rimba tidak kalah dari produk buatan pabrik besar. Padahal alat yang yang digunakan tergolong sederhana dengan pencetakan, penekanan serta pengadukan adonan semen, pasir dan air yang kesemuanya masih dikerjakan secara manual ( manual process ).
Bahan baku yang digunakan seperti pasir muntilan didatangkan langsung dari daerah asalnya dan untuk semen serta bahan lainnya cukup didapatkan di toko-toko bangunan Semarang dengan sistem asas kepercayaan ( langganan ) melalui pemesanan via telepon dan barang langsung dikirim sampai tujuan.
Menurut penuturan Ali Fani Bachtiar pemilik salah satu usaha pembuatan dan perdagangan kecil Bahan Bangunan, UD Sekawan Rimba . Usaha ini dirintis sejak tahun 2000. Setiap minggunya dibutuhkan bahan baku pasir sebanyak 6 truk fuso dengan volume ± 12 meter kubik per truk, semen ± 160 sak semen, semen warna ± 10 sak dan besi rangka ± 300 batang per bulannya. Kapasitas produksinya per hari untuk paving ± 70 meter persegi, bis beton ± 50 buah, batako ± 150 buah, grass block ± 75 buah dengan tenaga kerja total sebanyak 15 orang yang terspesialisasi menurut ketrampilannya.
Produk yang dihasilkan antara lain berbagai macam model paving block, batako, loster, bis beton, grass block, kastin. Dengan penawaran bervariasi menurut bentuk, kombinasi, warna, ketebalan dan ukuran dengan harga yang relatif lebih murah dari produk serupa pada pabrik besar.
Harga jual untuk paving berkisar antara Rp 16.000,00 – Rp 26.000,00 per meter persegi, batako Rp 1.900,00 per buah, grass block Rp 25.000,00 per meter persegi, kastin Rp 4.500,00 per buah dengan ongkos kirim dalam Kota Probolinggo dan sekitarnya gratis sedangkan untuk luar Kota ada biaya tambahan ongkos kirim sesuai dengan jarak tempat tujuan.
Pemasaran usaha paving ini sebelumnya hanya mengandalkan melalui informasi melalui pelanggannya atau berdasarkan informasi dari mulut ke mulut warga sekitar Desa Wangkal Gading, dimana daerah ini sudah dikenal oleh warga Probolinggo dan sekitarnya sebagai sentra industri paving. Namun demikian selayaknya Usaha Kecil usaha paving di Wangkal ini juga masih membutuhkan pinjaman modal untuk mengembangkan usaha dan maningkatkan produksi sehingga dapat melayani permintaan yang meningkat.
Bahan baku yang digunakan seperti pasir muntilan didatangkan langsung dari daerah asalnya dan untuk semen serta bahan lainnya cukup didapatkan di toko-toko bangunan Semarang dengan sistem asas kepercayaan ( langganan ) melalui pemesanan via telepon dan barang langsung dikirim sampai tujuan.
Menurut penuturan Ali Fani Bachtiar pemilik salah satu usaha pembuatan dan perdagangan kecil Bahan Bangunan, UD Sekawan Rimba . Usaha ini dirintis sejak tahun 2000. Setiap minggunya dibutuhkan bahan baku pasir sebanyak 6 truk fuso dengan volume ± 12 meter kubik per truk, semen ± 160 sak semen, semen warna ± 10 sak dan besi rangka ± 300 batang per bulannya. Kapasitas produksinya per hari untuk paving ± 70 meter persegi, bis beton ± 50 buah, batako ± 150 buah, grass block ± 75 buah dengan tenaga kerja total sebanyak 15 orang yang terspesialisasi menurut ketrampilannya.
Produk yang dihasilkan antara lain berbagai macam model paving block, batako, loster, bis beton, grass block, kastin. Dengan penawaran bervariasi menurut bentuk, kombinasi, warna, ketebalan dan ukuran dengan harga yang relatif lebih murah dari produk serupa pada pabrik besar.
Harga jual untuk paving berkisar antara Rp 16.000,00 – Rp 26.000,00 per meter persegi, batako Rp 1.900,00 per buah, grass block Rp 25.000,00 per meter persegi, kastin Rp 4.500,00 per buah dengan ongkos kirim dalam Kota Probolinggo dan sekitarnya gratis sedangkan untuk luar Kota ada biaya tambahan ongkos kirim sesuai dengan jarak tempat tujuan.
Pemasaran usaha paving ini sebelumnya hanya mengandalkan melalui informasi melalui pelanggannya atau berdasarkan informasi dari mulut ke mulut warga sekitar Desa Wangkal Gading, dimana daerah ini sudah dikenal oleh warga Probolinggo dan sekitarnya sebagai sentra industri paving. Namun demikian selayaknya Usaha Kecil usaha paving di Wangkal ini juga masih membutuhkan pinjaman modal untuk mengembangkan usaha dan maningkatkan produksi sehingga dapat melayani permintaan yang meningkat.
Tokek yang menggiurkan
akrab dengan tokek. Seperti kesibukan sehari-hari yang terlihat di rumah Pak Prabudi. Di tempat ini, binatang mirip cicak berukuran agak besar, diolah menjadi bahan makanan kering atau dendeng.
Bisnis pengolahan tokek ini, ternyata mendatangkan keuntungan menggiurkan. Saat bisnis ini pertama kali ditekuni masyarakat setempat, tingkat konsumsinya memang tidak terlalu besar. Sejak awal, dendeng tokek diproduksi memang bukan untuk konsumsi sehari-hari, namun untuk alternatif pengobatan. Waktu itu hanya untuk memenuhi pasar Jakarta. Pak Haji sendiri baru memulai bisnis ini tahun 1998, dan pesanan diperolehnya secara kebetulan.
Bisa dibilang menjalankan bisnis pengolahan dendeng tokek ini tidak butuh modal besar. Tokek dicari di lingkungan tempat tinggal mereka. Proses pengolahan tokek menjadi makanan kering, tak terlalu rumit.
Tokek-tokek yang telah dimatikan ini, tubuhnya dibelah dan seluruh isinya dikeluarkan.
Bagi yang tidak terbiasa bergaul dengan tokek, akan merasa geli. Kulit tubuhnya bersisik dan terdapat totol-totol berwarna ungu. Namun bagi kebanyakan masyarakat Gending Leces, menguliti tokek menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Tokek yang telah bersih dan dibentuk mirip sayap ini, lalu dimasukkan ke dalam oven. Panas oven harus merata, agar tokek tidak mentah dan juga tidak terlalu matang. Tokek dipanggang dalam oven selama 2 hari dua malam dengan suhu 60 derajat celcius.
Tokek yang telah menjadi dendeng ini, siap dikemas.

Harga jualnya perekor 1500 rupiah. Untuk pasar dalam negeri, dendeng tokek dijual dalam keadaan tanpa kepala dan kaki. Sedangkan untuk pasar luar negeri, dikemas utuh berikut kepala dan kaki. Kemasan untuk ekspor memang harus diperlakukan ekstra hati-hati dan serapi mungkin.
Dendeng tokek dalam kemasan ini bisa tahan selama seminggu. Agar lebih awet, dapat disimpan di lemari pendingin. Untuk pasaran ekspor sedikitnya membutuhkan 60 ribu ekor tokek, sekali pengiriman. Kemasan-kemasan dendeng tokek ini selanjutnya diekspor ke sejumlah negara seperti Singapura,Taiwan, Cina, Hongkong, Jepang dan Korea.
Dendeng tokek bisa langsung dikonsumsi, tanpa harus diolah lagi. Bahkan masyarakat sekitar Gending Leces, biasa mengkonsumsi tokek dalam keadaan mentah. Tokek diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit mulai dari jerawat hingga eksim.
Selain bertani, masyarakat Gending Leces juga punya pekerjaan lain. Sebagai pemburu tokek. Ada yang sepenuhnya sebagai pemburu tokek, sebagian ada pula yang menjadikan pekerjaan berburu tokek sebagai pekerjaan sampingan sembari bertani.
Beginilah cara mereka berburu tokek. Biasanya terbagi dalam kelompok beranggotakan 8 hingga 10 orang. Perburuan tokek dimulai menjelang malam. Persiapannya tak terlalu rumit. Hanya berbekal lampu sorot, keranjang dan galah dengan pengkait diujungnya. Dengan bersepeda, mereka akan menempuh jarak puluhan kilometer.
Ada pula kelompok yang memilih berburu tokek dengan berjalan kaki. Dari desa ke desa. Dari hutan ke hutan dan mereka baru pulang saat subuh menjelang. Tokek, yang menjadi primadona bisnis di Probolinggo, sangat mudah didapat. Bahkan hampir diseluruh wilayah Indonesia, tokek bisa dijumpai. Tokek hidup dan berkembang biak di hutan jati, pemakaman dan rumah-rumah penduduk.Biasanya tokek akan berkeliaran pada malam hari, saat musim kemarau dan terang bulan. Namun disaat musim hujan, tak banyak tokek yang berkeliaran. Memang agak sulit mengenali tokek di kegelapan malam. Harus teliti dan waspada. Karena mendengar suara berisik sedikitpun, tokek akan kabur. Menangkapnya tak terlalu sulit, karena jika terpapar cahaya tokek tidak akan kabur. Meski begitu, harus tetap hati-hati. Binatang melata ini selain suka menggigit, ditenggarai juga memiliki racun dikepalanya, namun tak seganas bisa ular.
Suparman, Sumarto da anggota kelompok lainnya, malam itu cukup beruntung. Di lokasi pemakaman yang tak jauh dari tempat tinggal, mereka berhasil menangkap sedikitnya 20 ekor tokek per-orang. Namun disaat musim kemarau, masing-masing bisa menangkap minimal 50 ekor.
Tak selamanya berburu tokek di hutan jati, pemakaman atau rumah penduduk membawa keberuntungan. Para pemburu tokek ini pernah punya pengalaman pahit, disangka pencuri. Keesokan harinya, mereka menyetor tokek-tokek ini kerumah pengusaha dendeng tokek. Per-ekor dihargai Rp 1100. Dirumah Pak Haji Budi, tokek-tokek ini tak langsung diolah menjadi dendeng. Namun dipilah-pilah, jantan betina. Ukuran tubuhnya pun diperhatikan betul, agar memenuhi standar mutu. Berbeda dengan tokek jantan, anakan tokek betina akan dibiakkan lebih dulu hingga dewasa, dalam kandang penangkaran. Makanan mereka, belatung dan lalat. Butuh waktu 2 atau 3 bulan, tokek ini akan bertelur minimal 20 butir sekali bertelur. Setelah bertelur, tokek betina dewasa bisa langsung diolah.
Upaya penangkaran ini dilakukan Pak Haji, mengingat kebutuhan pasar ekspor kadang tidak dapat dipenuhi karena langkanya tokek. Dalam setahun, Pak Haji minimal 4 hingga 5 kali, masing-masing sebanyak 60 ribu ekor dendeng tokek.
Usaha penangkaran memang baru dijalankan Pak Haji setahun
belakangan ini, karena permintaan ekspor yang terus melonjak. Tampaknya perlu sentuhan tangan pemilik modal, siapa tahu sang
primadona bisnis masyarakat Gending Leces, Probolinggo, Jawa Timur ini, bisa berkembang pesat.
Bisnis pengolahan tokek ini, ternyata mendatangkan keuntungan menggiurkan. Saat bisnis ini pertama kali ditekuni masyarakat setempat, tingkat konsumsinya memang tidak terlalu besar. Sejak awal, dendeng tokek diproduksi memang bukan untuk konsumsi sehari-hari, namun untuk alternatif pengobatan. Waktu itu hanya untuk memenuhi pasar Jakarta. Pak Haji sendiri baru memulai bisnis ini tahun 1998, dan pesanan diperolehnya secara kebetulan.
Bisa dibilang menjalankan bisnis pengolahan dendeng tokek ini tidak butuh modal besar. Tokek dicari di lingkungan tempat tinggal mereka. Proses pengolahan tokek menjadi makanan kering, tak terlalu rumit.
Tokek-tokek yang telah dimatikan ini, tubuhnya dibelah dan seluruh isinya dikeluarkan.
Bagi yang tidak terbiasa bergaul dengan tokek, akan merasa geli. Kulit tubuhnya bersisik dan terdapat totol-totol berwarna ungu. Namun bagi kebanyakan masyarakat Gending Leces, menguliti tokek menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Tokek yang telah bersih dan dibentuk mirip sayap ini, lalu dimasukkan ke dalam oven. Panas oven harus merata, agar tokek tidak mentah dan juga tidak terlalu matang. Tokek dipanggang dalam oven selama 2 hari dua malam dengan suhu 60 derajat celcius.
Tokek yang telah menjadi dendeng ini, siap dikemas.
Harga jualnya perekor 1500 rupiah. Untuk pasar dalam negeri, dendeng tokek dijual dalam keadaan tanpa kepala dan kaki. Sedangkan untuk pasar luar negeri, dikemas utuh berikut kepala dan kaki. Kemasan untuk ekspor memang harus diperlakukan ekstra hati-hati dan serapi mungkin.
Dendeng tokek dalam kemasan ini bisa tahan selama seminggu. Agar lebih awet, dapat disimpan di lemari pendingin. Untuk pasaran ekspor sedikitnya membutuhkan 60 ribu ekor tokek, sekali pengiriman. Kemasan-kemasan dendeng tokek ini selanjutnya diekspor ke sejumlah negara seperti Singapura,Taiwan, Cina, Hongkong, Jepang dan Korea.
Dendeng tokek bisa langsung dikonsumsi, tanpa harus diolah lagi. Bahkan masyarakat sekitar Gending Leces, biasa mengkonsumsi tokek dalam keadaan mentah. Tokek diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit mulai dari jerawat hingga eksim.
Selain bertani, masyarakat Gending Leces juga punya pekerjaan lain. Sebagai pemburu tokek. Ada yang sepenuhnya sebagai pemburu tokek, sebagian ada pula yang menjadikan pekerjaan berburu tokek sebagai pekerjaan sampingan sembari bertani.
Beginilah cara mereka berburu tokek. Biasanya terbagi dalam kelompok beranggotakan 8 hingga 10 orang. Perburuan tokek dimulai menjelang malam. Persiapannya tak terlalu rumit. Hanya berbekal lampu sorot, keranjang dan galah dengan pengkait diujungnya. Dengan bersepeda, mereka akan menempuh jarak puluhan kilometer.
Ada pula kelompok yang memilih berburu tokek dengan berjalan kaki. Dari desa ke desa. Dari hutan ke hutan dan mereka baru pulang saat subuh menjelang. Tokek, yang menjadi primadona bisnis di Probolinggo, sangat mudah didapat. Bahkan hampir diseluruh wilayah Indonesia, tokek bisa dijumpai. Tokek hidup dan berkembang biak di hutan jati, pemakaman dan rumah-rumah penduduk.Biasanya tokek akan berkeliaran pada malam hari, saat musim kemarau dan terang bulan. Namun disaat musim hujan, tak banyak tokek yang berkeliaran. Memang agak sulit mengenali tokek di kegelapan malam. Harus teliti dan waspada. Karena mendengar suara berisik sedikitpun, tokek akan kabur. Menangkapnya tak terlalu sulit, karena jika terpapar cahaya tokek tidak akan kabur. Meski begitu, harus tetap hati-hati. Binatang melata ini selain suka menggigit, ditenggarai juga memiliki racun dikepalanya, namun tak seganas bisa ular.
Suparman, Sumarto da anggota kelompok lainnya, malam itu cukup beruntung. Di lokasi pemakaman yang tak jauh dari tempat tinggal, mereka berhasil menangkap sedikitnya 20 ekor tokek per-orang. Namun disaat musim kemarau, masing-masing bisa menangkap minimal 50 ekor.
Tak selamanya berburu tokek di hutan jati, pemakaman atau rumah penduduk membawa keberuntungan. Para pemburu tokek ini pernah punya pengalaman pahit, disangka pencuri. Keesokan harinya, mereka menyetor tokek-tokek ini kerumah pengusaha dendeng tokek. Per-ekor dihargai Rp 1100. Dirumah Pak Haji Budi, tokek-tokek ini tak langsung diolah menjadi dendeng. Namun dipilah-pilah, jantan betina. Ukuran tubuhnya pun diperhatikan betul, agar memenuhi standar mutu. Berbeda dengan tokek jantan, anakan tokek betina akan dibiakkan lebih dulu hingga dewasa, dalam kandang penangkaran. Makanan mereka, belatung dan lalat. Butuh waktu 2 atau 3 bulan, tokek ini akan bertelur minimal 20 butir sekali bertelur. Setelah bertelur, tokek betina dewasa bisa langsung diolah.
Upaya penangkaran ini dilakukan Pak Haji, mengingat kebutuhan pasar ekspor kadang tidak dapat dipenuhi karena langkanya tokek. Dalam setahun, Pak Haji minimal 4 hingga 5 kali, masing-masing sebanyak 60 ribu ekor dendeng tokek.
Usaha penangkaran memang baru dijalankan Pak Haji setahun
belakangan ini, karena permintaan ekspor yang terus melonjak. Tampaknya perlu sentuhan tangan pemilik modal, siapa tahu sang
primadona bisnis masyarakat Gending Leces, Probolinggo, Jawa Timur ini, bisa berkembang pesat.
Mengintip Pabrik Rokok Rumahan
Di tengah dominasi pasar atas rokok-rokok bermerek dari pabrik rokok besar, ternyata produk rokok rumahan masih bisa bertahan. Lihat saja rokok ” Anugrah Ilahi”rokok lintingan asli Probolinggo yang tidak kehilangan penggemar yang membuat pabriknya terus mengebul.
Pabrik Rokok rumahan yang dikelola Abdul Halil, merupakan satu dari sekian banyak produsen rokok pabrikan rumah tangga yang ada di Paiton Probolinggo
"Saya memulai usaha ini sejak tahun 1971," ujar pemilik “Anugrah Ilahi “Abdul Halil di pabriknya, Desa Sidodadi Kecamatan Paiton
Jawa Timur
Lokasi pabrik terletak di Desa Sidodadi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Sekilas, lokasi pabrik tidak seperti layaknya pabrik-pabrik rokok yang menggunakan teknologi mesin-mesin canggih.
Mesin yang dimiliki sederhana karena jenis produksi PR “Anugrah Ilahi” ini termasuk dalam kategori Sigaret Kretek Tangan (SKT). Jadi seluruhnya diproduksi dengan tangan, mulai dari pelintingan hingga pengepakan.
Luas pabriknya pun masing-masing tidak lebih dari 60 meter persegi, memiliki dua ruangan produksi Abdul Halil mengatakan, rokok diproduksi sebanyak 75 bal per bulan. Satu bal kira-kira berisi 200 bungkus rokok. Jadi total produksinyasekitar 10.000 ribu bungkus per bulannya.
"Jumlah pegawai pabrik ada 50 orang. Mereka kerja secara bergantian," ujar Abdul halil Jadwal produksi pelintingan hingga pengepakan hanya dilakukan selama 10 hari dalam 1 bulan. Sisanya untuk pra produksi dan proses distribusi.
"Setiap 10 bungkus kami dapat Rp 500. Rata-rata satu hari kami
dapat Rp 10 ribu," ujar salah seorang pegawai pabrik.
Harga jual dua merek tersebut sebesar Rp 1.750 per bungkus, sudah termasuk cukai rokok. Menurut Abdul Halil, harga jual di tingkat distributor atau di pasar sekitar Rp 2 ribuan per bungkusnya. Jadi omzet sebulannya kira-kira Rp 26,25 juta.
"Keuntungan (laba) tidak begitu besar ya. Kira-kira Rp 100 ribu per hari.
Paling tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujar Hallil
Meski untung tidak seberapa, rupanya industri rumah tangga ini masih bisa bertahan ditengah kondisi ekonomi seperti sekarang ini. "Alhamdulillah, sejauh ini kami masih bisa produksi," ujar Halil.Dengan volume produksi yang tidak begitu besar, namun dua merek ala Abdul halil ini bisa diekspor ke kota lain.
"Distribusi merek kami terutama di Situbondo dan Lumajang,"
Di sisi lain, keberadaan Pabrik Roko juga memberikan pemberdayaan ekonomi pada masyarakat sekitarnya. Sebab selain memiliki pabrik, Halil juga memiliki lahan perkebunan tembakaunya sendiri.
"Total luas lahan perkebunan tembakau untuk produksi kami sekitar 30 hektar. Dari jumlah tersebut, hanya 3 hektar yang milik saya sendiri, sisanya disewa," papar Halil
Masyarakat sekitar pun menilai keberadaan pabrik rokok adalah
suatu bentuk mutualisme ekonomi, terutama dalam memberi mata pencaharian alternatif.
Mayoritas mata pencaharian penduduk sekitar pabrik adalah di sektor pertanian dan perkebunan. Nah, hampir semua pekerja proses pelintingan hingga pengepakan di pabrik pak Halil adalah ibu-ibu rumah tangga.
"Dengan adanya pabrik ini, waktu luang kami bisa dimanfaatkan untuk mendapat pemasukan tambahan," ujar salah seorang pegawai pabrik.
Secara pribadi, Halil adalah seorang pengusaha yang patut dicontoh. Ia sama sekali tidak tergoda menggunakan pita cukai palsu.
Pabrik Rokok rumahan yang dikelola Abdul Halil, merupakan satu dari sekian banyak produsen rokok pabrikan rumah tangga yang ada di Paiton Probolinggo
"Saya memulai usaha ini sejak tahun 1971," ujar pemilik “Anugrah Ilahi “Abdul Halil di pabriknya, Desa Sidodadi Kecamatan Paiton
Jawa Timur
Lokasi pabrik terletak di Desa Sidodadi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Sekilas, lokasi pabrik tidak seperti layaknya pabrik-pabrik rokok yang menggunakan teknologi mesin-mesin canggih.
Mesin yang dimiliki sederhana karena jenis produksi PR “Anugrah Ilahi” ini termasuk dalam kategori Sigaret Kretek Tangan (SKT). Jadi seluruhnya diproduksi dengan tangan, mulai dari pelintingan hingga pengepakan.
Luas pabriknya pun masing-masing tidak lebih dari 60 meter persegi, memiliki dua ruangan produksi Abdul Halil mengatakan, rokok diproduksi sebanyak 75 bal per bulan. Satu bal kira-kira berisi 200 bungkus rokok. Jadi total produksinyasekitar 10.000 ribu bungkus per bulannya.
"Jumlah pegawai pabrik ada 50 orang. Mereka kerja secara bergantian," ujar Abdul halil Jadwal produksi pelintingan hingga pengepakan hanya dilakukan selama 10 hari dalam 1 bulan. Sisanya untuk pra produksi dan proses distribusi.
"Setiap 10 bungkus kami dapat Rp 500. Rata-rata satu hari kami
dapat Rp 10 ribu," ujar salah seorang pegawai pabrik.
Harga jual dua merek tersebut sebesar Rp 1.750 per bungkus, sudah termasuk cukai rokok. Menurut Abdul Halil, harga jual di tingkat distributor atau di pasar sekitar Rp 2 ribuan per bungkusnya. Jadi omzet sebulannya kira-kira Rp 26,25 juta.
"Keuntungan (laba) tidak begitu besar ya. Kira-kira Rp 100 ribu per hari.
Paling tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujar Hallil
Meski untung tidak seberapa, rupanya industri rumah tangga ini masih bisa bertahan ditengah kondisi ekonomi seperti sekarang ini. "Alhamdulillah, sejauh ini kami masih bisa produksi," ujar Halil.Dengan volume produksi yang tidak begitu besar, namun dua merek ala Abdul halil ini bisa diekspor ke kota lain.
"Distribusi merek kami terutama di Situbondo dan Lumajang,"
Di sisi lain, keberadaan Pabrik Roko juga memberikan pemberdayaan ekonomi pada masyarakat sekitarnya. Sebab selain memiliki pabrik, Halil juga memiliki lahan perkebunan tembakaunya sendiri.
"Total luas lahan perkebunan tembakau untuk produksi kami sekitar 30 hektar. Dari jumlah tersebut, hanya 3 hektar yang milik saya sendiri, sisanya disewa," papar Halil
Masyarakat sekitar pun menilai keberadaan pabrik rokok adalah
suatu bentuk mutualisme ekonomi, terutama dalam memberi mata pencaharian alternatif.
Mayoritas mata pencaharian penduduk sekitar pabrik adalah di sektor pertanian dan perkebunan. Nah, hampir semua pekerja proses pelintingan hingga pengepakan di pabrik pak Halil adalah ibu-ibu rumah tangga.
"Dengan adanya pabrik ini, waktu luang kami bisa dimanfaatkan untuk mendapat pemasukan tambahan," ujar salah seorang pegawai pabrik.
Secara pribadi, Halil adalah seorang pengusaha yang patut dicontoh. Ia sama sekali tidak tergoda menggunakan pita cukai palsu.
Usaha ternak sapi perah milik Ir. Suroso selalu diminati konsumen. Kuncinya, Sapi harus berpenampilan sehat dan bersih agar bisa memproduksi susu yang baik
Desa Bermi, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, kini tidak saja dikenal sebagai tempat istirahat dan produk sayur mayur, tapi juga sentra peternakan sapi perah. Predikat sebagai daerah peternakan sapi perah itu muncul setelah adanya KUD Argopuro yang menjadi distributor susu perah
Begitu memasuki mulut desa Bermi, setiap pengunjung atau tamu dengan mudah melihat para peternak terutama ternak milik Suroso, karena nama Ir. Suroso sudah begitu dikenal oleh tukang ojek yang mangkal di sana. Peternakan yang dirintis oleh Ir.Suroso mulai dari usaha kecil-kecilan itu, kini telah berkembang cukup pesat. Di sana sekarang terdapat rarusan ekor sapi perah, tak terkecuali milik Ir. Suroso yang mempunyai 37 ekor sapi,sapi-sapi ini ditempatkan dalam kandang kayu. Semua kandang terawat bersih, bahkan tidak tercium bau sapi.
Suroso (47) biasa menerima para tamu di sebuah kamar sekaligus tempatnya bekerja, yang berada persis di depan kandang sapi. Para tamu yang berkunjung ke sana datang dari berbagai kalangan. Mahasiswa jurusan peternakan dari berbagai universitas misalnya, sering kali menjadikan peternakan Suroso ini sebagai tempat magang.
“Tapi saya sendiri tidak punya ilmunya. Saya hanya tukang angon,“ kata Suroso merendah. Sapi-sapi hasil binaan Ir. Suroso memang sudah dikenal, bukan saja di Krucil tapi hingga ke wilayah Surabaya dan Jawa Timur.
Meski sudah 14 tahun menggeluti usaha sapi perah, Suroso merasa masih belum pantas disebut sebagai peternak yang sukses. Baginya, peternak yang sukses salah satu persayaratannya harus sudah punya lahan sendiri,sapi ratusan ekor dan tempat menanam rumput sebagai makanan utama sapi.
Untuk saat ini guna memenuhi kebutuhan pakan sapinya, Suloso masih harus mencari rumput ke kawasan lain di sekitar Bermi. Tapi, saat musim kemarau lokasi tempat pengambilan rumput semakin jauh, sehingga harus menambah beban transportasi. Setidaknya, dalam sehari, 20 karung rumput harus disediakan untuk semua sapinya, yang diberi makan sebanyak dua kali, pagi dan sore.
Tidak heran bila sapi-sapi milik Suroso tampak sehat. Bulu-bulu sapinya tidak dibiarkan tumbuh tak terawat. Ketika sapi dari warga yang dibelinya masuk ke peternakan, harus dicukur biar bersih. Kukunya dipotong secara berkala. Obat cacing juga rutin diberikan untuk membersihkan isi perutnya. Sebab, menurut Bapak dua putra ini, hampir semua sapi yang dipelihara warga pasti terkena penyakit
Sapi yang sehat dan terawat akan menghasil produk susu yang baik . “Mereka akan merasa puas dengan produk susu sapi seperti ini, “ kata lelaki kelahiran Lumajang 47 tahun lalu.
Keberhasilan Suroso menggeluti usaha sapi perah, bermula dari hobi memelihara sapi. Ketika itu pada 1995, Suroso memelihara empat ekor di belakang rumahnya selama sepuluh tahun suroso sudah bisa mengembangkan sapi perah menjadi 30 ekor.
Namun di tengah keberhasilan itu, Suroso sebenarnya memiliki trauma dalam usaha peternakan. Kisahnya terjadi ktika harga susu mulai guncang akibat impor susu dari pemerintah tidak diproteksi, yang mengakibatkan harga susu anjlok, dan ini merugikan para peternak sapi pada umumnya.
Tapi, saat ini pemerintah mulai merespon harga susu, proteksi dibatasi sehingga harga susu kembali stabil,
Masih beruntung saat itu Suroso tidak punya tanggungan. Sementara ada kawan-kawannya sesama peternak sapi lebih tragis lagi. Menurut cerita suroso, ada peternak yang mempunyai lebih dari 100 ekor sapi tapi produk susunya sedikit , dengan harga turun jelas peternak itu rugi besar karena biaya operasional sapi lebih tinggi dari harga susu yang dijual.
Berkat usahanya ini di tahun 2007 Dinas Peternakan Jawa Timur telah memberi penghargaan sebagai peternak berprestasi tingkat jawa timur
Desa Bermi, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, kini tidak saja dikenal sebagai tempat istirahat dan produk sayur mayur, tapi juga sentra peternakan sapi perah. Predikat sebagai daerah peternakan sapi perah itu muncul setelah adanya KUD Argopuro yang menjadi distributor susu perah
Begitu memasuki mulut desa Bermi, setiap pengunjung atau tamu dengan mudah melihat para peternak terutama ternak milik Suroso, karena nama Ir. Suroso sudah begitu dikenal oleh tukang ojek yang mangkal di sana. Peternakan yang dirintis oleh Ir.Suroso mulai dari usaha kecil-kecilan itu, kini telah berkembang cukup pesat. Di sana sekarang terdapat rarusan ekor sapi perah, tak terkecuali milik Ir. Suroso yang mempunyai 37 ekor sapi,sapi-sapi ini ditempatkan dalam kandang kayu. Semua kandang terawat bersih, bahkan tidak tercium bau sapi.
Suroso (47) biasa menerima para tamu di sebuah kamar sekaligus tempatnya bekerja, yang berada persis di depan kandang sapi. Para tamu yang berkunjung ke sana datang dari berbagai kalangan. Mahasiswa jurusan peternakan dari berbagai universitas misalnya, sering kali menjadikan peternakan Suroso ini sebagai tempat magang.
“Tapi saya sendiri tidak punya ilmunya. Saya hanya tukang angon,“ kata Suroso merendah. Sapi-sapi hasil binaan Ir. Suroso memang sudah dikenal, bukan saja di Krucil tapi hingga ke wilayah Surabaya dan Jawa Timur.
Meski sudah 14 tahun menggeluti usaha sapi perah, Suroso merasa masih belum pantas disebut sebagai peternak yang sukses. Baginya, peternak yang sukses salah satu persayaratannya harus sudah punya lahan sendiri,sapi ratusan ekor dan tempat menanam rumput sebagai makanan utama sapi.
Untuk saat ini guna memenuhi kebutuhan pakan sapinya, Suloso masih harus mencari rumput ke kawasan lain di sekitar Bermi. Tapi, saat musim kemarau lokasi tempat pengambilan rumput semakin jauh, sehingga harus menambah beban transportasi. Setidaknya, dalam sehari, 20 karung rumput harus disediakan untuk semua sapinya, yang diberi makan sebanyak dua kali, pagi dan sore.
Tidak heran bila sapi-sapi milik Suroso tampak sehat. Bulu-bulu sapinya tidak dibiarkan tumbuh tak terawat. Ketika sapi dari warga yang dibelinya masuk ke peternakan, harus dicukur biar bersih. Kukunya dipotong secara berkala. Obat cacing juga rutin diberikan untuk membersihkan isi perutnya. Sebab, menurut Bapak dua putra ini, hampir semua sapi yang dipelihara warga pasti terkena penyakit
Sapi yang sehat dan terawat akan menghasil produk susu yang baik . “Mereka akan merasa puas dengan produk susu sapi seperti ini, “ kata lelaki kelahiran Lumajang 47 tahun lalu.
Keberhasilan Suroso menggeluti usaha sapi perah, bermula dari hobi memelihara sapi. Ketika itu pada 1995, Suroso memelihara empat ekor di belakang rumahnya selama sepuluh tahun suroso sudah bisa mengembangkan sapi perah menjadi 30 ekor.
Namun di tengah keberhasilan itu, Suroso sebenarnya memiliki trauma dalam usaha peternakan. Kisahnya terjadi ktika harga susu mulai guncang akibat impor susu dari pemerintah tidak diproteksi, yang mengakibatkan harga susu anjlok, dan ini merugikan para peternak sapi pada umumnya.
Tapi, saat ini pemerintah mulai merespon harga susu, proteksi dibatasi sehingga harga susu kembali stabil,
Masih beruntung saat itu Suroso tidak punya tanggungan. Sementara ada kawan-kawannya sesama peternak sapi lebih tragis lagi. Menurut cerita suroso, ada peternak yang mempunyai lebih dari 100 ekor sapi tapi produk susunya sedikit , dengan harga turun jelas peternak itu rugi besar karena biaya operasional sapi lebih tinggi dari harga susu yang dijual.
Berkat usahanya ini di tahun 2007 Dinas Peternakan Jawa Timur telah memberi penghargaan sebagai peternak berprestasi tingkat jawa timur
