Kacang Sembunyi Tak Lagi Sembunyi
Tak sedikit UKM yang mampu bertahan di tengah arus globalisasi saat ini. Salah satunya UKM milik H. Hasan yang telah ditekuni sejak tahun 1994 lalu.
Berbagai kreativitas terus dilakukan agar kacang sembunyi produksi UD. Soponyono-nya H. Hasan tetap diminati masyarakat. Diantaranya dengan memberikan penampilan baru pada kemasan kacang sembunyi. Jika sebelumnya kacang sembunyi dikemas dalam plastik kiloan, kini kacang sembunyi juga dikemas lebih rapi dalam sebuah kotak.
Bahkan terobosan baru dilakukan dengan melayani pesanan souvenir untuk acara hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Agar lebih bervariasi, H. Hasan juga memproduksi stick dengan duo rasa manis dan asin,pastel kecil dan kacang telur. Hal ini lagi-lagi dilakukan untuk memenuhi selera masyarakat.
Yang pasti produksi kacang sembunyi, stick, pastel dan kacang telur ini aman dikonsumsi karena telah mengantongi lebel kesehatan dari Departemen Kesehatan.”ungkap jebolan Universitas Zainul Hasan Paiton ini.
Saat ini masyarakat se antero Probolinggo dan Pasuruan sudah tidak asing lagi dengan produksi Ud. Soponyono, yang lebih di kenal dengan Kacang sembunyi H. Hasan. Karena selain di jual di toko-toko pracangan, kacang sembunyi, stick, paste dan kacang telur tersebut sudah merambah ke swalayan dan supermaket.
Dalam sehari ia bisa memproduksi 25 kg kacang sembunyi, pastel kecil, stick dan kacang telur. Tak heran dari usaha tersebut, H. Hasan bisa meraup keuntungan hingga Rp. 5 juta setipa bulannya. Bahkan jika musim lebaran ayah dua orang anak ini, bisa memperoleh Rp. 30 juta salam sebulan.
Berbagai pelatihan pernah diikuti Walaupun usia sudah lansia, semangat belajar H. Hasan tidak pernah pupus. Karena itu, berbagai pelatihan pernah ia nikmati. Mulai pelatihan manajemen keuangan, pamasaran, medis plan, dll selalu diikutinya.
Selain pelatihan H. Hasan juga beberapa kali merasakan bantuan dari pemerintah, baik daerah, provinsi maupun pusat. Diantaranya bantuan pinjaman modal sebesar Rp. 40 juta dari provinsi dan Rp. 100 juta dari pemerintah pusat di th 2003. Sementara yang rutin adalah pinjaman modal dari Pemkab melalui program Peningkatan dan Pengembangan Kredit Modal Kerja Dinas Kopeprasi UKM Kabupaten Probolinggo, sebesar Rp. 5 juta – Rp. 10 juta.
Selain pinjaman modal, H. Hasan juga mendapatkan bantuan peralatan secara cuma-cuma dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabuapten Probolinggo dan Provinsi Jatim. Masing-masing berupa alat kemas dan gilingan, yang harganya ± senilai Rp. 50 juta.
‘Saya sangat berharap ada bantuan modal yang besar untuk memperluas tempat usaha. Karena dengan 15 orang karyawan, saya merasakan rumah induk sekaligus tempat usaha ini, kurang luas. Apalagi kalau musim lebaran, pasanan semakin banyak, sehingga membutuhkan perluasan secepatnya,”tegasnya singkat.
Ke depan, usaha yang ditekuni bersama istri tercintanya ini akan dilanjutkan putri bungsungnya. Yang saat ini tengah menempuh pendidikan S1 jurusan management.
“Sayang kalau usaha ini tidak diteruskan, sebab dari usaha ini juga saya dan istri bisa berhaji, dua anak saya bisa umrah dan menempuh pendidikan hingga S1. Bahkan si sulung saat ini sedang merampungkan program masternya (S2), “ungkapnya bangga.(Zdan)
Berburu Ikan Asin Kering Bu Soleh
Semua yang diciptakan Allah SWT tidak ada yang sia-sia. Tidak ada yang berani menyangkal bahwa Allah SWT adalah pencipta terhandal di muka bumi. Tak satupun cipta - Nya yang kalau kita mau mengelola dengan serius tidak bermanfaat.
Diantaranya ikan laut yang tersebar luas di perairan Paiton, yang dikelola secara serius oleh Hj. Sholehatul. Dengan melalui proses pengeringan ikan asin olahannya, mampu menembus pasar lokal dan luar daerah seperti Malang dan Tulungagung. Bahkan ikan asin produksi UD.Berkah telah merajai swalayan dan supermaket di Probolinggo, Malang dan Tulungagung.
Dengan menambahkan bumbu dan sedikit garam, ikan asin Bu Sholeh mampu bersaing dengan produksi ikan asin lainnya.
“Tapi produksi ikan kering ini tergantung pesanan konsumen. Kalau pelanggan malang biasanya minta ikan jenggelek. Sedangkan Probolinggo dan Tulungagung sering minta ikan sisik,”urainya singkat.
Tak tanggung-tanggung, dari usaha pengeringan ikan itu, Bu Sholeh mampu meraup omzet Rp. 10 juta per hari. Dengan penghasilan itu, ia mampu memberi penhasilan pada 8 orang hingga 20 orang pekerjanya.
Sedikit banyaknya pekerja yang andil dalam usaha pengeringan ikan miliknya, tergantung dari musim dan banyaknya pesanan. Hasil tangkapan ikan melimpah saat musim penghujan
Diantaranya ikan laut yang tersebar luas di perairan Paiton, yang dikelola secara serius oleh Hj. Sholehatul. Dengan melalui proses pengeringan ikan asin olahannya, mampu menembus pasar lokal dan luar daerah seperti Malang dan Tulungagung. Bahkan ikan asin produksi UD.Berkah telah merajai swalayan dan supermaket di Probolinggo, Malang dan Tulungagung.
Dengan menambahkan bumbu dan sedikit garam, ikan asin Bu Sholeh mampu bersaing dengan produksi ikan asin lainnya.
“Tapi produksi ikan kering ini tergantung pesanan konsumen. Kalau pelanggan malang biasanya minta ikan jenggelek. Sedangkan Probolinggo dan Tulungagung sering minta ikan sisik,”urainya singkat.
Tak tanggung-tanggung, dari usaha pengeringan ikan itu, Bu Sholeh mampu meraup omzet Rp. 10 juta per hari. Dengan penghasilan itu, ia mampu memberi penhasilan pada 8 orang hingga 20 orang pekerjanya.
Sedikit banyaknya pekerja yang andil dalam usaha pengeringan ikan miliknya, tergantung dari musim dan banyaknya pesanan. Hasil tangkapan ikan melimpah saat musim penghujan
Eko memiliki ayam – ayam ajaib. Betapa tidak ajaib, ayam-ayam jenis broiler milik Ny. Eko ini bisa menghasilkan uang hingga jutaan rupiah.
Berawal dari hobi mancing di tambak sang suami, Anang Budiarto, Ny. Eko punya ide untuk mimiliki tambak sendiri. Di awal tahun 2006 dengan modal Rp 50 juta, di bawah naungan UD. Kharisma, dipilihlah tambak bandeng untuk memulai usahanya. Tambak yang terletak di Desa Gending Kecamatan Gending ini, didirikan di lahan seluas 3 hektare.
Ditengah jalan Ny. Eko merasa kesulitan mencari makanan bandeng berupa tahi ayam, yang menyebabkan pertumbuhan bandeng mulai bibit hingga masa panen terbilang lama yakni 8 bulan. Tentunya ini membuat perputaran modalpun lambat, akhirnya ia pun banting setir dengan menjadi peternak ayam broiler.
Tak kehilangan akal, agar dua keuntungan bisa diraihnya, Bu Anang begitu dia biasa disapa mendirikan kandang ayam diatas kolam bandeng. Sehingga selain memperoleh keuntungan dari penjualan ayam broiler, Bu Anang juga bisa memberikan
makanan bagi bandeng-bandeng-nya. Dengan kemudahan memperoleh pakan bandeng itu, Bu Anang bisa panen bandeng dalam waktu relatif singkat. Yakni 3 bulan (awal nya 8 Bulan ).
Untuk pemeliharaan ayam brolier, dikatakan tidak terlalu rumit. Dengan memberikan consentrat, jagung, vitamain plus vaksin, ayam broiler dapat dijual dalam jangka waktu 40 hari.
Kini dengan mempekerjakan 8 orang karyawan, usaha ayam broilernya mampu meningkatkan jumlah ayam broiler dari 2000 ekor, menjadi 7000 ekor. Ditanya tim cabe rawit tentang daerah pemasaran, lulusan SPG Lumajang ini mengungkapkan. Bahwa walaupun pemasaran ayam broilernya hanya di Probolinggo dan Malang, ia yang di awal usahanya hanya mampu memperoleh keutungan sebesar 3 juta / bulannya, kini bisa meraup keuntungan hingga 15 jt setiap bulannya.
Ke depan, selain serius menekuni usaha ayam broiler, ibu satu orang anak yang tinggal di Perum Sumber Taman Indah Problinggo ini, punya impian mengembangkan usaha bandengnya agar mempunyai nilai tambah. Caranya dengan mengolah bandeng menjadi bandeng asap dan bandeng presto. Kerena kedua bahan olahan tersebut lagi booming saat ini.
Petis udang ala maron
Untuk bisa menjangkau pasar yang lebih luas, pengusaha petis udang Desa Ganting Wetan Kecamatan Maron, terkendala persoalan teknik pengolahan serta pengawetan produk. Padahal, dengan kemampuan produksi rata-rata 50-100 kg per hari, sekitar delapan pengusaha petis udang di daerah Probolinggo ini mampu memasarkan produksi mereka ke beberapa kota seperti Surabaya, Malang, Mojosari, Mojokerto, dan Banyuwangi.
"Selama itu petis hanya bisa bertahan dua minggu, setelah itu berjamur. Hal itu tidak menjadi masalah jika kami hanya memasarkannya ke para pelanggan seperti biasa. Sebelum dua minggu barang dipastikan sudah habis terjual. Tetapi, jika kami mencoba memasarkannya ke lokasi baru, belum tentu dalam dua minggu petis kami habis terjual. Karena itulah kami perlu mengawetkan petis, tetapi tidak tahu caranya," ujar pengusaha petis udang UD.
Tiga Berlian Usaha pengolahan petis udang di Maron ini sudah dimulai sejak lebih dari tiga dekade lalu. Dimulai dari usaha yang saat itu masih menggunakan peralatan sederhana seperti lumpang untuk menumbuk rebusan kepala udang dan tungku perapian. Kemampuan produksinya pun masih kecil dan hanya dipasarkan ke sekitar probolinggo dan Situbondo. Hingga sekarang usahanya menyerap 10 pekerja. Untuk memproduksi empat setengah kuintal petis diperlukan satu ton lebih bahan baku kepala udang. Bahan baku itu dibeli dari pabrik-pabrik pengolahan udang ekspor seharga Rp 200 per kg. Setiap kali produksi sedikitnya harus tersedia modal Rp 5 juta sampai Rp 10 juta.
Setelah itu bahan baku direbus selama empat jam dan dihaluskan dengan menggunakan mesin penggiling. Setelah digiling ampasnya diperas dan air perasan itulah yang menjadi bahanutama pembuatan petis. "Proses membuatnya selama 24 jam dan dari bahan baku yang sama bisa dibuat petis dengan dua kualitas berbeda,"
"Selama itu petis hanya bisa bertahan dua minggu, setelah itu berjamur. Hal itu tidak menjadi masalah jika kami hanya memasarkannya ke para pelanggan seperti biasa. Sebelum dua minggu barang dipastikan sudah habis terjual. Tetapi, jika kami mencoba memasarkannya ke lokasi baru, belum tentu dalam dua minggu petis kami habis terjual. Karena itulah kami perlu mengawetkan petis, tetapi tidak tahu caranya," ujar pengusaha petis udang UD.
Tiga Berlian Usaha pengolahan petis udang di Maron ini sudah dimulai sejak lebih dari tiga dekade lalu. Dimulai dari usaha yang saat itu masih menggunakan peralatan sederhana seperti lumpang untuk menumbuk rebusan kepala udang dan tungku perapian. Kemampuan produksinya pun masih kecil dan hanya dipasarkan ke sekitar probolinggo dan Situbondo. Hingga sekarang usahanya menyerap 10 pekerja. Untuk memproduksi empat setengah kuintal petis diperlukan satu ton lebih bahan baku kepala udang. Bahan baku itu dibeli dari pabrik-pabrik pengolahan udang ekspor seharga Rp 200 per kg. Setiap kali produksi sedikitnya harus tersedia modal Rp 5 juta sampai Rp 10 juta.
Setelah itu bahan baku direbus selama empat jam dan dihaluskan dengan menggunakan mesin penggiling. Setelah digiling ampasnya diperas dan air perasan itulah yang menjadi bahanutama pembuatan petis. "Proses membuatnya selama 24 jam dan dari bahan baku yang sama bisa dibuat petis dengan dua kualitas berbeda,"
Kekayaan alam dan budaya yang begitu besar bila dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat mampu memberikan manfaat yang tak terhingga, terutama untuk meningkatkan pendapatan keluarga.
Bahkan tumbuhan yang semula dianggap tidak berguna dengan sentuhan seni tinggi mampu bernilai jual tinggi, bahkan mampu
mengangkat derajat seseorang yang semula hanya sebagai petani biasa hingga menjadi seorang pengusaha cukup sukses, dan mampu menopang kehidupan keluarga.
Sumarwi merupakan contoh pengusaha kerajinan sukses asal Desa Pesawahan Kec. Tiris, Kabupaten Probolinggo, selain mampu menjadi seorang pengusaha kerajinan yang cukup sukses ia juga mampu memotivasi masyarakat sekitar termasuk pembantu rumah tangganya untuk menjadi pengrajin, sekaligus pengusaha kerajinan yang sukses.
Selain membantu masyarakat sekitar untuk sama-sama memanfaatkan potensi yang ada di Kabupaten Probolinggo untuk dijadikan kerajianan tangan yang enak dipandang mata, Sumarwi yang kini sukses membangun usaha kerajinan songkok bambu bernilai seni, juga menghimpun para pengrajin untuk bisa sama-sama memasarkan hasil produk yang telah mereka buat.
Sukses yang sekarang diperoleh Sumarwi bukan tanpa hambatan. Jatuh bangun usaha yang dirintisnya mulai dari bawah ini pernah mengalami kegagalan yang membuat kami sekeluarga harus hidup prihatin. Namun berkat kerja keras, disiplin dan prinsip tidak mudah menyerah akhirnya impian untuk dapat mendirikan usaha kerajinan bisa terwujud seperti sekarang ini.
Songkok yang dihasilkan dibagi berbagai jenis dan warna yang khas, songkok bambu Semarwi asli Tiris merupakan songkok lain dari yang lain, biasanya songkok identik dengan warna hitam, produk nya warna asli bambu coklat kekuning-kuningan.
Bahkan tumbuhan yang semula dianggap tidak berguna dengan sentuhan seni tinggi mampu bernilai jual tinggi, bahkan mampu
mengangkat derajat seseorang yang semula hanya sebagai petani biasa hingga menjadi seorang pengusaha cukup sukses, dan mampu menopang kehidupan keluarga.
Sumarwi merupakan contoh pengusaha kerajinan sukses asal Desa Pesawahan Kec. Tiris, Kabupaten Probolinggo, selain mampu menjadi seorang pengusaha kerajinan yang cukup sukses ia juga mampu memotivasi masyarakat sekitar termasuk pembantu rumah tangganya untuk menjadi pengrajin, sekaligus pengusaha kerajinan yang sukses.
Selain membantu masyarakat sekitar untuk sama-sama memanfaatkan potensi yang ada di Kabupaten Probolinggo untuk dijadikan kerajianan tangan yang enak dipandang mata, Sumarwi yang kini sukses membangun usaha kerajinan songkok bambu bernilai seni, juga menghimpun para pengrajin untuk bisa sama-sama memasarkan hasil produk yang telah mereka buat.
Sukses yang sekarang diperoleh Sumarwi bukan tanpa hambatan. Jatuh bangun usaha yang dirintisnya mulai dari bawah ini pernah mengalami kegagalan yang membuat kami sekeluarga harus hidup prihatin. Namun berkat kerja keras, disiplin dan prinsip tidak mudah menyerah akhirnya impian untuk dapat mendirikan usaha kerajinan bisa terwujud seperti sekarang ini.
Songkok yang dihasilkan dibagi berbagai jenis dan warna yang khas, songkok bambu Semarwi asli Tiris merupakan songkok lain dari yang lain, biasanya songkok identik dengan warna hitam, produk nya warna asli bambu coklat kekuning-kuningan.
PAVING dan BAHAN BANGUNAN SEKAWAN RIMBA
Kualitas paving yang dihasilkan sentra industri paving di UD Sekawan Rimba tidak kalah dari produk buatan pabrik besar. Padahal alat yang yang digunakan tergolong sederhana dengan pencetakan, penekanan serta pengadukan adonan semen, pasir dan air yang kesemuanya masih dikerjakan secara manual ( manual process ).
Bahan baku yang digunakan seperti pasir muntilan didatangkan langsung dari daerah asalnya dan untuk semen serta bahan lainnya cukup didapatkan di toko-toko bangunan Semarang dengan sistem asas kepercayaan ( langganan ) melalui pemesanan via telepon dan barang langsung dikirim sampai tujuan.
Menurut penuturan Ali Fani Bachtiar pemilik salah satu usaha pembuatan dan perdagangan kecil Bahan Bangunan, UD Sekawan Rimba . Usaha ini dirintis sejak tahun 2000. Setiap minggunya dibutuhkan bahan baku pasir sebanyak 6 truk fuso dengan volume ± 12 meter kubik per truk, semen ± 160 sak semen, semen warna ± 10 sak dan besi rangka ± 300 batang per bulannya. Kapasitas produksinya per hari untuk paving ± 70 meter persegi, bis beton ± 50 buah, batako ± 150 buah, grass block ± 75 buah dengan tenaga kerja total sebanyak 15 orang yang terspesialisasi menurut ketrampilannya.
Produk yang dihasilkan antara lain berbagai macam model paving block, batako, loster, bis beton, grass block, kastin. Dengan penawaran bervariasi menurut bentuk, kombinasi, warna, ketebalan dan ukuran dengan harga yang relatif lebih murah dari produk serupa pada pabrik besar.
Harga jual untuk paving berkisar antara Rp 16.000,00 – Rp 26.000,00 per meter persegi, batako Rp 1.900,00 per buah, grass block Rp 25.000,00 per meter persegi, kastin Rp 4.500,00 per buah dengan ongkos kirim dalam Kota Probolinggo dan sekitarnya gratis sedangkan untuk luar Kota ada biaya tambahan ongkos kirim sesuai dengan jarak tempat tujuan.
Pemasaran usaha paving ini sebelumnya hanya mengandalkan melalui informasi melalui pelanggannya atau berdasarkan informasi dari mulut ke mulut warga sekitar Desa Wangkal Gading, dimana daerah ini sudah dikenal oleh warga Probolinggo dan sekitarnya sebagai sentra industri paving. Namun demikian selayaknya Usaha Kecil usaha paving di Wangkal ini juga masih membutuhkan pinjaman modal untuk mengembangkan usaha dan maningkatkan produksi sehingga dapat melayani permintaan yang meningkat.
Bahan baku yang digunakan seperti pasir muntilan didatangkan langsung dari daerah asalnya dan untuk semen serta bahan lainnya cukup didapatkan di toko-toko bangunan Semarang dengan sistem asas kepercayaan ( langganan ) melalui pemesanan via telepon dan barang langsung dikirim sampai tujuan.
Menurut penuturan Ali Fani Bachtiar pemilik salah satu usaha pembuatan dan perdagangan kecil Bahan Bangunan, UD Sekawan Rimba . Usaha ini dirintis sejak tahun 2000. Setiap minggunya dibutuhkan bahan baku pasir sebanyak 6 truk fuso dengan volume ± 12 meter kubik per truk, semen ± 160 sak semen, semen warna ± 10 sak dan besi rangka ± 300 batang per bulannya. Kapasitas produksinya per hari untuk paving ± 70 meter persegi, bis beton ± 50 buah, batako ± 150 buah, grass block ± 75 buah dengan tenaga kerja total sebanyak 15 orang yang terspesialisasi menurut ketrampilannya.
Produk yang dihasilkan antara lain berbagai macam model paving block, batako, loster, bis beton, grass block, kastin. Dengan penawaran bervariasi menurut bentuk, kombinasi, warna, ketebalan dan ukuran dengan harga yang relatif lebih murah dari produk serupa pada pabrik besar.
Harga jual untuk paving berkisar antara Rp 16.000,00 – Rp 26.000,00 per meter persegi, batako Rp 1.900,00 per buah, grass block Rp 25.000,00 per meter persegi, kastin Rp 4.500,00 per buah dengan ongkos kirim dalam Kota Probolinggo dan sekitarnya gratis sedangkan untuk luar Kota ada biaya tambahan ongkos kirim sesuai dengan jarak tempat tujuan.
Pemasaran usaha paving ini sebelumnya hanya mengandalkan melalui informasi melalui pelanggannya atau berdasarkan informasi dari mulut ke mulut warga sekitar Desa Wangkal Gading, dimana daerah ini sudah dikenal oleh warga Probolinggo dan sekitarnya sebagai sentra industri paving. Namun demikian selayaknya Usaha Kecil usaha paving di Wangkal ini juga masih membutuhkan pinjaman modal untuk mengembangkan usaha dan maningkatkan produksi sehingga dapat melayani permintaan yang meningkat.
PROSPEK CERAH SEKTOR USAHA UNGGULAN KERAJINAN BORDIR
Kerajinan bordir merupakan salah satu sektor usaha unggulan yang dapat menopang peningkatan taraf hidup masyarakat di Indonesia. Kerajinan bordir juga terbukti mampu menembus pasar ekspor. Salah satunya pengusaha yang berhasil dalam usaha kerajinan bordir adalah Bapak Moch. Anwar
Usaha ini dilakoni Bapak Moch. Anwar, pemilik Busana Indah Bordir sejak tahun 1987. Namun usahanya sekarang telah berkembang. Dari hanya mempunyai 1 buah mesin jahit, sekarang menjandi lebih dari 10 buah mesin jahit, dengan beberapa karyawan.
Punya Keunggulan Tersendiri
Dalam ruangan berukuran sekitar 2 x 5 m inilah usaha Busana Indah Bordir dibuat. Bordir lebih mengkhususkan dibidang garmen. Produk yang dihasilkan berupa baju-baju dengan bordir yang khas.
Konsumen akan dapat langsung melihat keunikan motif bordir yang menempel pada baju-baju yang dihasilkan dari Busana Indah Bordir . Motifnya yang klasik hampir seperti motif batik tulis menjadi keunggulan Busana Indah Bordir untuk bersaing dengan kompetitor yang lain.
Busana Indah Bordir memang belum lama beralih ke motif klasik ini, namun demi memenuhi keinginan pasar yang terus berkembang pilihan untuk menemukan satu inovasi yang baru harus terus berkembang.
“Inovasi untuk desain itu harus selalu berjalan bahkan berlari mbak,” ungkap Moch. Anwar. Bahan baku pokok untuk usahanya ini dibelinya dari satu pabrik di Jogja dan Surabaya sedangkan bahan kombinasi hanya dibelinya dipasar terdekat.
Produk dari Busana Indah Bordir sangatlah terjangkau, rata rata berkisar antara 80 ribu rupiah. Saat ini Anwar mengakui sedang kekurangan sumber daya manusia yang terampil, namun usahanya tetap berjalan seperti biasanya.
Prospek Pasar.
Pecinta Busana Indah Bordir memang barulah domestik saja, selain memenuhi pasar Probolinggo kebanyakan produknya lari ke Lumajang, Pasuruan dan ada beberapa diantaranya ke Surabaya, bahkan Jember. Busana Indah Bordir bekerja memang bedasarkan dari pesanan yang ada selain menyediakan stok untuk gerai kecil didalam rumah Pak Anwar sendiri.
Karena memang sudah sangat lama usaha dibidang ini Busana Indah Bordir mempunyai banyak kolega yang biasa memesan produknya untuk dipasarkan, walaupun diakui bapak yang selalu murah senyum ini sangatlah banyak usaha yang bergerak dibidang yang sama dengan yang dilakoninya tersebut.
Omzet penjualan bisa mencapai 10 juta rupiah dalam sebulan. Untuk para karyawannya, Pak Anwar memberi upah sesuai dengan bagian kerja yang mereka lakukan yakni antara 15.000 sampai 25.000 per harinya dan jika banyak pesanan sistem upah borongan.
Jenis produk bordir bermacam-macam satu diantaranya adalah pakaian. Permintaan produk bordir berupa pakaian senantiasa mengalami peningkatan terutama menjelang perayaan hari besar umat Islam yaitu pada Idul Fitri dan Idul Adha.
Permintaan produk bordir lainnya relatif stabil tidak terlalu terpengaruh dengan hari-hari besar Islam. Produk-produk dimaksud seperti louper, bedcover, penunjang alat makan dan lain-lain. Sebagian besar produk bordir ditujukan untuk memenuhi permintaan konsumen luar negeri, hanya 40% produksi bordir yang ditujukan untuk konsumen dalam negeri.
Tahap Perkerjaan Kerajinan Bordir
Tahap pekerjaan secara garis besar dibagi menjadi 10 macam :
1.Menyediakan dan menyiapkan alat-alat yang diperlukan.
2.Menyiapkan dan membuat desain motif.
3. Memindah atau menjiplak desain motif pada kain yang hendak dibordir.
4. Memasang kain yang sudah diberi motif pada ring.
5. Memilih, menentukan dan memasang benang bordir pada mesin bordir.
6. Menyiapkan, memeriksa dan menggerakkan mesin bordir yang hendak kita pakai.
7.Membuat bordiran sesuai dengan motif pada kain.
8. Membuat krawang dengan alat solder apabila krawang tidak dibuat langsung dengan mesin bordir.
9. Membersihkan sisa-sisa benang bordir yang melekat dibalik permukaan kain yang sudah dibordir.
10. Menyetrika hasil bordiran agar kelihatan bagus
Usaha ini dilakoni Bapak Moch. Anwar, pemilik Busana Indah Bordir sejak tahun 1987. Namun usahanya sekarang telah berkembang. Dari hanya mempunyai 1 buah mesin jahit, sekarang menjandi lebih dari 10 buah mesin jahit, dengan beberapa karyawan.
Punya Keunggulan Tersendiri
Dalam ruangan berukuran sekitar 2 x 5 m inilah usaha Busana Indah Bordir dibuat. Bordir lebih mengkhususkan dibidang garmen. Produk yang dihasilkan berupa baju-baju dengan bordir yang khas.
Konsumen akan dapat langsung melihat keunikan motif bordir yang menempel pada baju-baju yang dihasilkan dari Busana Indah Bordir . Motifnya yang klasik hampir seperti motif batik tulis menjadi keunggulan Busana Indah Bordir untuk bersaing dengan kompetitor yang lain.
Busana Indah Bordir memang belum lama beralih ke motif klasik ini, namun demi memenuhi keinginan pasar yang terus berkembang pilihan untuk menemukan satu inovasi yang baru harus terus berkembang.
“Inovasi untuk desain itu harus selalu berjalan bahkan berlari mbak,” ungkap Moch. Anwar. Bahan baku pokok untuk usahanya ini dibelinya dari satu pabrik di Jogja dan Surabaya sedangkan bahan kombinasi hanya dibelinya dipasar terdekat.
Produk dari Busana Indah Bordir sangatlah terjangkau, rata rata berkisar antara 80 ribu rupiah. Saat ini Anwar mengakui sedang kekurangan sumber daya manusia yang terampil, namun usahanya tetap berjalan seperti biasanya.
Prospek Pasar.
Pecinta Busana Indah Bordir memang barulah domestik saja, selain memenuhi pasar Probolinggo kebanyakan produknya lari ke Lumajang, Pasuruan dan ada beberapa diantaranya ke Surabaya, bahkan Jember. Busana Indah Bordir bekerja memang bedasarkan dari pesanan yang ada selain menyediakan stok untuk gerai kecil didalam rumah Pak Anwar sendiri.
Karena memang sudah sangat lama usaha dibidang ini Busana Indah Bordir mempunyai banyak kolega yang biasa memesan produknya untuk dipasarkan, walaupun diakui bapak yang selalu murah senyum ini sangatlah banyak usaha yang bergerak dibidang yang sama dengan yang dilakoninya tersebut.
Omzet penjualan bisa mencapai 10 juta rupiah dalam sebulan. Untuk para karyawannya, Pak Anwar memberi upah sesuai dengan bagian kerja yang mereka lakukan yakni antara 15.000 sampai 25.000 per harinya dan jika banyak pesanan sistem upah borongan.
Jenis produk bordir bermacam-macam satu diantaranya adalah pakaian. Permintaan produk bordir berupa pakaian senantiasa mengalami peningkatan terutama menjelang perayaan hari besar umat Islam yaitu pada Idul Fitri dan Idul Adha.
Permintaan produk bordir lainnya relatif stabil tidak terlalu terpengaruh dengan hari-hari besar Islam. Produk-produk dimaksud seperti louper, bedcover, penunjang alat makan dan lain-lain. Sebagian besar produk bordir ditujukan untuk memenuhi permintaan konsumen luar negeri, hanya 40% produksi bordir yang ditujukan untuk konsumen dalam negeri.
Tahap Perkerjaan Kerajinan Bordir
Tahap pekerjaan secara garis besar dibagi menjadi 10 macam :
1.Menyediakan dan menyiapkan alat-alat yang diperlukan.
2.Menyiapkan dan membuat desain motif.
3. Memindah atau menjiplak desain motif pada kain yang hendak dibordir.
4. Memasang kain yang sudah diberi motif pada ring.
5. Memilih, menentukan dan memasang benang bordir pada mesin bordir.
6. Menyiapkan, memeriksa dan menggerakkan mesin bordir yang hendak kita pakai.
7.Membuat bordiran sesuai dengan motif pada kain.
8. Membuat krawang dengan alat solder apabila krawang tidak dibuat langsung dengan mesin bordir.
9. Membersihkan sisa-sisa benang bordir yang melekat dibalik permukaan kain yang sudah dibordir.
10. Menyetrika hasil bordiran agar kelihatan bagus
Probolinggo – Meskipun industri berskala menengah ke atas untuk memproduksi keripik kentang juga hadir di Probolinggo, namun industri kripik skala rumah tangga di daerah Sukapura tetap bertahan. Ini didukung pasar yang mulai membaik. Harga penjualan produk ini juga relatif tinggi.
“Industri keripik kentang yang makin banyak itu makin baik.
Pemasarannya sekarang tidak lagi sulit seperti dulu,” kata Ibu Ninik S yang menjual dan memproduksi keripik kentang dengan skala industri rumah tangga, di Sukapura Ninik mengatakan, usaha pembuatan keripik kentang yang diawali oleh ibunya sejak 10 tahun lalu, pada awalnya susah pemasarannya. Namun,akhir-akhir ini para pembeli yang berwisata ke Bromo sudah sering singgah dan berbelanja di tokonya.
Keripik kentang menjadi oleh-oleh khas Sukapura, selain Mangga yang populer sejak lama. Namun, kekhasan keripik kentang buatan Sukapura seolah-olah hanya dikenal masyarakat lapisan ekonomi menengah keatas. Sebab, harga keripik kentang kini Rp 60.000 per kilogram (kg)untuk kualitas keripik kentang super. Yang paling murah Rp 20.000per kg. Harga keripik kentang dipengaruhi oleh kualitasnya.
Keripik kentang termahal berukuran besar, dan setelah digoreng berwarna putih bersih. Keripik kentang yang termurah berukuran acak, tetapi kecil-kecil dan berwarna putih kecoklatan.
Rendah kolesterol
Produk ini menjadi banyak disukai karena kadar kolesterol kentang tergolong paling rendah, namun memberi kalori yang cukup. Ninik mengatakan, pembuatan keripik kentang semuanya berbahan baku
lokal dari daerah Sukapura. Agen penjualnya sekarang selalu menyetor kentang mentah ke rumahnya. Setiap bulan dia membutuhkan 2,1 ton kentang mentah, dan setiap hari jumlah kentang mentah yang dia olah menjadi kripik rata-rata 70 kg. Penyusutan bobot kentang menjadi keripik kentang cukup tinggi. Dari setiap 10 kg kentang, setelah diproses hanya menghasilkan satu kilogram keripik. Ini pula yang membuat harga keripik kentang tergolong mahal.
Harga bahan mentah kentang untuk musim hujan dan musim kemarau juga berbeda. Pada musim hujan harga kentang Rp 2.500 per kg, tetapi pada musim panas harga kentang Rp 4.000 per kg. Uniknya, perbedaan harga bahan mentah itu tidak mempengaruhi harga keripik kentang. Harga yang tetap sama juga berlaku untuk keripik kentang yang belum
matang atau sudah matang. Sebab, satu kg keripik kentang mentah, setelah digoreng bobotnya naik menjadi 1,2 kg.
Pengeringan keripik kentang dari industri rumahan Ninik ini memanfaatkan panas matahari. Masa pengeringan
terbaik, dengan panas matahari yang optimal harus mencapai tiga hari. Kalau kurang dari itu, keripik kentangnya akan berwarna putih kecoklatan dan kurang renyah.
“Industri keripik kentang yang makin banyak itu makin baik.
Pemasarannya sekarang tidak lagi sulit seperti dulu,” kata Ibu Ninik S yang menjual dan memproduksi keripik kentang dengan skala industri rumah tangga, di Sukapura Ninik mengatakan, usaha pembuatan keripik kentang yang diawali oleh ibunya sejak 10 tahun lalu, pada awalnya susah pemasarannya. Namun,akhir-akhir ini para pembeli yang berwisata ke Bromo sudah sering singgah dan berbelanja di tokonya.
Keripik kentang menjadi oleh-oleh khas Sukapura, selain Mangga yang populer sejak lama. Namun, kekhasan keripik kentang buatan Sukapura seolah-olah hanya dikenal masyarakat lapisan ekonomi menengah keatas. Sebab, harga keripik kentang kini Rp 60.000 per kilogram (kg)untuk kualitas keripik kentang super. Yang paling murah Rp 20.000per kg. Harga keripik kentang dipengaruhi oleh kualitasnya.
Keripik kentang termahal berukuran besar, dan setelah digoreng berwarna putih bersih. Keripik kentang yang termurah berukuran acak, tetapi kecil-kecil dan berwarna putih kecoklatan.
Rendah kolesterol
Produk ini menjadi banyak disukai karena kadar kolesterol kentang tergolong paling rendah, namun memberi kalori yang cukup. Ninik mengatakan, pembuatan keripik kentang semuanya berbahan baku
lokal dari daerah Sukapura. Agen penjualnya sekarang selalu menyetor kentang mentah ke rumahnya. Setiap bulan dia membutuhkan 2,1 ton kentang mentah, dan setiap hari jumlah kentang mentah yang dia olah menjadi kripik rata-rata 70 kg. Penyusutan bobot kentang menjadi keripik kentang cukup tinggi. Dari setiap 10 kg kentang, setelah diproses hanya menghasilkan satu kilogram keripik. Ini pula yang membuat harga keripik kentang tergolong mahal.
Harga bahan mentah kentang untuk musim hujan dan musim kemarau juga berbeda. Pada musim hujan harga kentang Rp 2.500 per kg, tetapi pada musim panas harga kentang Rp 4.000 per kg. Uniknya, perbedaan harga bahan mentah itu tidak mempengaruhi harga keripik kentang. Harga yang tetap sama juga berlaku untuk keripik kentang yang belum
matang atau sudah matang. Sebab, satu kg keripik kentang mentah, setelah digoreng bobotnya naik menjadi 1,2 kg.
Pengeringan keripik kentang dari industri rumahan Ninik ini memanfaatkan panas matahari. Masa pengeringan
terbaik, dengan panas matahari yang optimal harus mencapai tiga hari. Kalau kurang dari itu, keripik kentangnya akan berwarna putih kecoklatan dan kurang renyah.
Rumah makan yang mampu menyajikan hidangan dengan rasa memikat akan terus dicari penggemarnya. Rumah makan Rawon Nguling Salah satunya. Dari tahun 1942 berdiri rumah makan yang pusatnya ada di Jl. Raya Tambakrejo No. 75, Kec. Tongas Kab. Probolinggo ini sukses memperluas sayap usahanya hingga mencakup
beberapa lokasi di Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, dan Malang. Seperti apa menu istimewa rawon nguling yang bikin penasaran hingga kalangan artis dan pejabat Negara ini?
Bila Anda bosan menghadapi kemacetan di jalur Pantura, Anda bisa mencoba mencari suasana baru dengan memburu satu makanan yang terkenal di Nguling. Lokasinya tepat berada di perbatasan Pasuruan - Probolinggo tepatnya di Jl. Raya Tambakrejo No. 75 Kec. Tongas Kab. Probolinggo.
namanya rawon nguling. Rawon memang identik dengan masakan khas Jawa Timur. Tidak lengkap rasanya jika Anda ke Probolinggo tidak singgah mencicipi rawon nguling yang sudah terkenal sejak tahun 1942 ini.
Anda akan dengan mudah menemui rumah makan ini karena plang nama Rawon Nguling cukup besar, tepat berada di
sebelah kiri jalan arah dari Surabaya dengan model rumahnya tampak seperti rumah tinggal dengan warna tembok bangunan luarnya paduan warna oranye dan kuning muda tampak serasi dan memberi kesan elegan. Ruangannya bercat hijau cerah memberi kesan luas dan sejuk dengan jendela terbuat dari kayu yang terbuka lebar di bagian atasnya. Dilengkapi dengan kursi terbuat dari kayu agar terkesan adem dan lebih alami. Tampak menarik perhatian foto Presiden SBY bersalaman dengan pemilik dan perintis Rawon Nguling, Hj. Siti Fatimah Dahlan yang saat ini usianya menginjak 80 tahun.
Kapasitas ruangannya kurang lebih 200 kursi dan luas parkir kurang lebih bisa menampung 35 sampai 40 mobil ukuran kecil, bahkan tak jarang pengunjung biasanya parkir di rumah pemiliknya yang kebetulan bersebelahan dengan rumah makan. Tak hanya parkiran yang luas yang tersedia. Di sini juga ada mushola yang cukup besar dan toilet yang cukup bersih, sehingga Anda bisa melepas lelah sembari menikmati menu rawon nguling yang legendaris ini. Jam buka rumah makan ini dari pukul 05.00 sampai 22.00 WIB. Jam buka yang terbilang cukup pagi ini karena lokasinya dekat dengan Pasar Hewan, di
mana pada pagi hari pengunjungnya yang datang umumnya kusir dokar, pencari rumput, pejagal sapi. Ramainya jam 12 hingga jam 3 sore dan mulai jam 6 sore hingga jam 8 malam mulai ramai lagi. Namun rumah makan ini tutup pada saat bulan Puasa, dan akan kembali buka H+2 Lebaran.
Kaya Bumbu Dapur dan Rempah. Dengan merogoh kocek Rp 10.000 Anda bisa menikmati satu mangkok rawon nguling plus nasi berisi daging sapi dengan kuah berwarna cokelat yang dihasilkan dari kluwek atau disebut juga pucung. Aroma rawon yang khas karena ada campuran 13 macam bumbu dan rempah yang dipakai seperti kunyit untuk menetralisir warna hitam kluwek sehingga warna kuah rawon tidak hitam pekat tetapi tampak cokelat. Jenis kluwek yang dipilihnya juga yang berwarna hitam pekat dan rasanya manis. Rasa manis rawon ditimbulkan dari rasa manis kluwek, bukan karena kecap, karena rawon nguling tidak menggunakan kecap dalam proses pengolahannya. Rasanya semakin segar saat dinikmati dengan tambahan perasan jeruk purut.
Sejak Awal Tidak Pindah-Pindah. Semenjak berdiri hingga saat ini Rofiq Ali Pribadi mengaku tidak pernah pindah tempat. Hanya bangunannya saja yang bertambah besar. Usaha keluarga ini memang berdiri sudah puluhan tahu lalu, tepatnya pada tahun 1942 yang didirikan oleh almarhum Karyodirso dan Hj. Siti Fatimah Dahlan yang saat ini usianya menginjak 70 tahunan dengan investasi sekitar Rp 30 saat itu.
Awal berdirinya Rawon Nguling dikenal dengan nama Warung Lumayan. Seiring waktu berjalan dan warung pun semakin ramai dengan pengunjung yang beragam, akhirnya tahun 1985 Warung Lumayan ini didaftarkan ke Haki dengan nama Rawon Nguling. Nama Nguling sendiri
diambil dari nama kecamatan di wilayah Pasuruan. Alhasil karena perkembangan usahanya saat ini Rawon Nguling memiliki 6 cabang dan semua cabang dikelola oleh keluarga antara lain berlokasi di Jl. Kendangsari Industri 41-B Surabaya, Jl. Kutai No.34 Surabaya, Jl. Rajawali No.110 Surabaya, Jl. Raya Kedungturi 33-B V Taman Sepanjang-Sidoarjo, Jl. Zainul Arifin No. 62 Malang, Jl. Raya Kepulungan Pandaan-Pasuruan.
Setiap harinya rumah makan ini selalu ramai dikunjungi pelanggannya. Terutama hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Kalangan yang datang pun beragam mulai dari pekerja kantoran, keluarga yang kebetulan lewat jalur Pantura bahkan tak jarang pula sering dijadikan tempat kumpulnya para ulama NU, pegawai negeri atau koperasi yang mengadakan acara syukuran. Tak hanya itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah singgah ke rumah makan ini saat ia berkunjung ke Jember bulan Januari 2006 lalu. Masih banyak lagi orang terkenal lainnya seperti Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, Ketum PBNU KH Hasyim Muzadi, mantan gubernur Jawa Timur Imam Utomo dan selebritis Ibukota seperti Sahrul Gunawan,

Ayu Azhari, serta Putri Indonesia Nadine Chandrawinata.
Tak heran jika dalam sehari ia bisa menghabiskan 1 kuintal daging sapi, di mana untuk 1 kg daging bisa menjadi 10 porsi. Sedangkan hari libur atau weekend bisa mencapai 2 kuintal daging sapi. Dan saat momen Lebaran seperti saat ini, dalam sehari ia bisa menghabiskan 3 kuintal daging. Dan kebutuhan beras per harinya bisa menghabiskan 60 kg. Untuk belanja daging sapi dan bahan baku lain serta peralatan masak di Pasar Probolinggo.
Untuk mengembangkan usahanya, suami dari Ratnawati dibantu oleh 50 orang karyawan. Untuk tenaga kerja bagian depan atau yang melayani tamu semuanya laki-laki dengan seragam batik dan celana kain hitam, sedangkan karyawan wanita di bagian dapur. Gajinya per hari berkisar Rp 25.000 hingga Rp 30.000. Keuntungan usahanya digunakan untuk mengembangkan usaha dan menghidupi 50 orang tenaga kerjanya.
beberapa lokasi di Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, dan Malang. Seperti apa menu istimewa rawon nguling yang bikin penasaran hingga kalangan artis dan pejabat Negara ini?
Bila Anda bosan menghadapi kemacetan di jalur Pantura, Anda bisa mencoba mencari suasana baru dengan memburu satu makanan yang terkenal di Nguling. Lokasinya tepat berada di perbatasan Pasuruan - Probolinggo tepatnya di Jl. Raya Tambakrejo No. 75 Kec. Tongas Kab. Probolinggo.
namanya rawon nguling. Rawon memang identik dengan masakan khas Jawa Timur. Tidak lengkap rasanya jika Anda ke Probolinggo tidak singgah mencicipi rawon nguling yang sudah terkenal sejak tahun 1942 ini.
Anda akan dengan mudah menemui rumah makan ini karena plang nama Rawon Nguling cukup besar, tepat berada di
sebelah kiri jalan arah dari Surabaya dengan model rumahnya tampak seperti rumah tinggal dengan warna tembok bangunan luarnya paduan warna oranye dan kuning muda tampak serasi dan memberi kesan elegan. Ruangannya bercat hijau cerah memberi kesan luas dan sejuk dengan jendela terbuat dari kayu yang terbuka lebar di bagian atasnya. Dilengkapi dengan kursi terbuat dari kayu agar terkesan adem dan lebih alami. Tampak menarik perhatian foto Presiden SBY bersalaman dengan pemilik dan perintis Rawon Nguling, Hj. Siti Fatimah Dahlan yang saat ini usianya menginjak 80 tahun.
Kapasitas ruangannya kurang lebih 200 kursi dan luas parkir kurang lebih bisa menampung 35 sampai 40 mobil ukuran kecil, bahkan tak jarang pengunjung biasanya parkir di rumah pemiliknya yang kebetulan bersebelahan dengan rumah makan. Tak hanya parkiran yang luas yang tersedia. Di sini juga ada mushola yang cukup besar dan toilet yang cukup bersih, sehingga Anda bisa melepas lelah sembari menikmati menu rawon nguling yang legendaris ini. Jam buka rumah makan ini dari pukul 05.00 sampai 22.00 WIB. Jam buka yang terbilang cukup pagi ini karena lokasinya dekat dengan Pasar Hewan, di
mana pada pagi hari pengunjungnya yang datang umumnya kusir dokar, pencari rumput, pejagal sapi. Ramainya jam 12 hingga jam 3 sore dan mulai jam 6 sore hingga jam 8 malam mulai ramai lagi. Namun rumah makan ini tutup pada saat bulan Puasa, dan akan kembali buka H+2 Lebaran.
Kaya Bumbu Dapur dan Rempah. Dengan merogoh kocek Rp 10.000 Anda bisa menikmati satu mangkok rawon nguling plus nasi berisi daging sapi dengan kuah berwarna cokelat yang dihasilkan dari kluwek atau disebut juga pucung. Aroma rawon yang khas karena ada campuran 13 macam bumbu dan rempah yang dipakai seperti kunyit untuk menetralisir warna hitam kluwek sehingga warna kuah rawon tidak hitam pekat tetapi tampak cokelat. Jenis kluwek yang dipilihnya juga yang berwarna hitam pekat dan rasanya manis. Rasa manis rawon ditimbulkan dari rasa manis kluwek, bukan karena kecap, karena rawon nguling tidak menggunakan kecap dalam proses pengolahannya. Rasanya semakin segar saat dinikmati dengan tambahan perasan jeruk purut.
Sejak Awal Tidak Pindah-Pindah. Semenjak berdiri hingga saat ini Rofiq Ali Pribadi mengaku tidak pernah pindah tempat. Hanya bangunannya saja yang bertambah besar. Usaha keluarga ini memang berdiri sudah puluhan tahu lalu, tepatnya pada tahun 1942 yang didirikan oleh almarhum Karyodirso dan Hj. Siti Fatimah Dahlan yang saat ini usianya menginjak 70 tahunan dengan investasi sekitar Rp 30 saat itu.
Awal berdirinya Rawon Nguling dikenal dengan nama Warung Lumayan. Seiring waktu berjalan dan warung pun semakin ramai dengan pengunjung yang beragam, akhirnya tahun 1985 Warung Lumayan ini didaftarkan ke Haki dengan nama Rawon Nguling. Nama Nguling sendiri
diambil dari nama kecamatan di wilayah Pasuruan. Alhasil karena perkembangan usahanya saat ini Rawon Nguling memiliki 6 cabang dan semua cabang dikelola oleh keluarga antara lain berlokasi di Jl. Kendangsari Industri 41-B Surabaya, Jl. Kutai No.34 Surabaya, Jl. Rajawali No.110 Surabaya, Jl. Raya Kedungturi 33-B V Taman Sepanjang-Sidoarjo, Jl. Zainul Arifin No. 62 Malang, Jl. Raya Kepulungan Pandaan-Pasuruan.
Setiap harinya rumah makan ini selalu ramai dikunjungi pelanggannya. Terutama hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Kalangan yang datang pun beragam mulai dari pekerja kantoran, keluarga yang kebetulan lewat jalur Pantura bahkan tak jarang pula sering dijadikan tempat kumpulnya para ulama NU, pegawai negeri atau koperasi yang mengadakan acara syukuran. Tak hanya itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah singgah ke rumah makan ini saat ia berkunjung ke Jember bulan Januari 2006 lalu. Masih banyak lagi orang terkenal lainnya seperti Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, Ketum PBNU KH Hasyim Muzadi, mantan gubernur Jawa Timur Imam Utomo dan selebritis Ibukota seperti Sahrul Gunawan,
Ayu Azhari, serta Putri Indonesia Nadine Chandrawinata.
Tak heran jika dalam sehari ia bisa menghabiskan 1 kuintal daging sapi, di mana untuk 1 kg daging bisa menjadi 10 porsi. Sedangkan hari libur atau weekend bisa mencapai 2 kuintal daging sapi. Dan saat momen Lebaran seperti saat ini, dalam sehari ia bisa menghabiskan 3 kuintal daging. Dan kebutuhan beras per harinya bisa menghabiskan 60 kg. Untuk belanja daging sapi dan bahan baku lain serta peralatan masak di Pasar Probolinggo.
Untuk mengembangkan usahanya, suami dari Ratnawati dibantu oleh 50 orang karyawan. Untuk tenaga kerja bagian depan atau yang melayani tamu semuanya laki-laki dengan seragam batik dan celana kain hitam, sedangkan karyawan wanita di bagian dapur. Gajinya per hari berkisar Rp 25.000 hingga Rp 30.000. Keuntungan usahanya digunakan untuk mengembangkan usaha dan menghidupi 50 orang tenaga kerjanya.

Alat Dapur Produk Muchlis Tak Kalah dengan Produk Modern
Probolinggo - Seiring perkembangan teknologi, alat dapur serba otomatis kini banyak mewarnai pasaran. Namun kemajuan zaman ini tidak serta merta membuat produsen tradisional menyerah pada keadaan. Di Kabupaten Probolinggo misalnya, seorang produsen alat dapur mampu bertahan meski hanya bekerja dengan alat sederhana.
Aktivitas produksi alat dapur yang dilakukan Muchlis, warga Desa Pajurangan, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo tersebut telah ditekuninya sejak tahun 1995. Ia memproduksi berbagai jenis alat dapur menggunakan alat-alat sederhana.
Meski alat yang digunakan jauh tertinggal dibanding alat pabrikan, namun Muchlis tidak berkecil hati. Bahkan, dia mengaku produksinya memiliki konsumen fanatik. Dibantu 12 karyawannya, Muchlis mengolah sendiri bahan baku dasar berbentuk lempengan aluminium yang dibelinya dari Surabaya. Untuk menjamin kebersihan produksi, dia juga melakukan sistem pemanasan menggunakan soda api. Eksistensi usaha Muchlis putra asli Sidoarjo ini tidak sekadar bermodal kenekatan. Meski hanya mengantongi ijazah SLTA, keahliannya di bidang pengelasan sangat mendukung kualitas
barang yang diciptakan. Tidak heran, jika alat dapur berbahan dasar aluminium seperti alat penggorengan, tungku hingga alat menanak nasi memiliki nilai lebih dibanding produk modern. Selain lapisannya lebih tebal, alat dapur buatannya juga tahan lama. Karena pertimbangan kualitas, Muchlis mengaku tidak tertarik mengembangkan usahanya menggunakan alat modern. Sebab, dengan alat produksi sederhana pun omzet penjualan produknya telah mencapai hasil jutaan rupiah per bulan
Muchlis berharap penjualannya akan mempunyai prospek yang besar terutama untuk pemasaraan didaerah probolinggo dan sekitarnya.
Aktivitas produksi alat dapur yang dilakukan Muchlis, warga Desa Pajurangan, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo tersebut telah ditekuninya sejak tahun 1995. Ia memproduksi berbagai jenis alat dapur menggunakan alat-alat sederhana.
Meski alat yang digunakan jauh tertinggal dibanding alat pabrikan, namun Muchlis tidak berkecil hati. Bahkan, dia mengaku produksinya memiliki konsumen fanatik. Dibantu 12 karyawannya, Muchlis mengolah sendiri bahan baku dasar berbentuk lempengan aluminium yang dibelinya dari Surabaya. Untuk menjamin kebersihan produksi, dia juga melakukan sistem pemanasan menggunakan soda api. Eksistensi usaha Muchlis putra asli Sidoarjo ini tidak sekadar bermodal kenekatan. Meski hanya mengantongi ijazah SLTA, keahliannya di bidang pengelasan sangat mendukung kualitas
barang yang diciptakan. Tidak heran, jika alat dapur berbahan dasar aluminium seperti alat penggorengan, tungku hingga alat menanak nasi memiliki nilai lebih dibanding produk modern. Selain lapisannya lebih tebal, alat dapur buatannya juga tahan lama. Karena pertimbangan kualitas, Muchlis mengaku tidak tertarik mengembangkan usahanya menggunakan alat modern. Sebab, dengan alat produksi sederhana pun omzet penjualan produknya telah mencapai hasil jutaan rupiah per bulan
Muchlis berharap penjualannya akan mempunyai prospek yang besar terutama untuk pemasaraan didaerah probolinggo dan sekitarnya.
PANDAI besi di Desa Tandun Sentul, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, boleh dikata bekerja dengan naluri. Mereka menyesuaikan produksinya dengan situasi pasar. Misalnya, saat petani turun ke sawah, maka produksi yang diutamakan adalah perkakas untuk pertanian, seperti cangkul, sekop, sabit, dan garu.
Uniknya, selain sebagai pandai besi, mereka juga petani. Mereka tahu mengatur waktu kapan saatnya harus bertani, dan kapan saatnya berada di dapur pembakaran besi menjadi pandai besi. Tentu saja sebagai petani tradisional mereka membuat perkakas bertani untuk keperluan diri sendiri.
Salah satu hasil produksi perkakas pertanian yang terkenal dari Desa ini adalah sekop/pacul yang kualitasnya tak kalah dengan barang impor buatan Cina atau Taiwan. Kuat dan tangguh serta bentuknya disesuaikan dengan keinginan para petani Lumbang dan daerah sekitarnya. Karena kualitasnya dan banyak dicari oleh petani maka Wagito (40) pembuatnya berani menjaga kulaitas produknya . Selain sekop, Wagito juga membuat cangkul, garu, sabit, dan berbagai perkakas bertani tradisional lainnya.
Meski produknya bermutu dan pasarnya luas, namun usaha itu nampak sulit berkembang karena keterbatasan teknologi dan modal.
Wagito memang harus bekerja dengan naluri. Artinya kalau akan musim sawah, mereka pasti membuat perkakas besi untuk bertani padi. Kalau akan memasuki makmeugang (hari memotong bulan puasa), mereka membuat pisau dan parang. Pokoknya, produk mereka disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Meskipun begitu tetap ada spesialisasi produk karena sudah dikenal mutunya.
Pemasaran produknya juga tidak sulit karena hampir semua perkakas besi untuk bertani dan perkakas rumah tangga sudah lama terkenal karena mutunya itu. Para pedagang setiap hari datang membeli berbagai perkakas dan kemudian menjualnya lagi ke pengecer toko atau kedai berbagai kota dan desa hampir seluruh Probolinggo
Tak jarang pada musim bertani atau sedang ada pameran kesenian, para pedagang lebih dulu memesannya dalam jumlah besar dengan pembayaran di muka. Pesanan dalam jumlah besar, misalnya, untuk souvenir, rencong, pedang , pisau, dan perkakas rumah tangga.
Uniknya, selain sebagai pandai besi, mereka juga petani. Mereka tahu mengatur waktu kapan saatnya harus bertani, dan kapan saatnya berada di dapur pembakaran besi menjadi pandai besi. Tentu saja sebagai petani tradisional mereka membuat perkakas bertani untuk keperluan diri sendiri.
Salah satu hasil produksi perkakas pertanian yang terkenal dari Desa ini adalah sekop/pacul yang kualitasnya tak kalah dengan barang impor buatan Cina atau Taiwan. Kuat dan tangguh serta bentuknya disesuaikan dengan keinginan para petani Lumbang dan daerah sekitarnya. Karena kualitasnya dan banyak dicari oleh petani maka Wagito (40) pembuatnya berani menjaga kulaitas produknya . Selain sekop, Wagito juga membuat cangkul, garu, sabit, dan berbagai perkakas bertani tradisional lainnya.
Meski produknya bermutu dan pasarnya luas, namun usaha itu nampak sulit berkembang karena keterbatasan teknologi dan modal.
Wagito memang harus bekerja dengan naluri. Artinya kalau akan musim sawah, mereka pasti membuat perkakas besi untuk bertani padi. Kalau akan memasuki makmeugang (hari memotong bulan puasa), mereka membuat pisau dan parang. Pokoknya, produk mereka disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Meskipun begitu tetap ada spesialisasi produk karena sudah dikenal mutunya.
Pemasaran produknya juga tidak sulit karena hampir semua perkakas besi untuk bertani dan perkakas rumah tangga sudah lama terkenal karena mutunya itu. Para pedagang setiap hari datang membeli berbagai perkakas dan kemudian menjualnya lagi ke pengecer toko atau kedai berbagai kota dan desa hampir seluruh Probolinggo
Tak jarang pada musim bertani atau sedang ada pameran kesenian, para pedagang lebih dulu memesannya dalam jumlah besar dengan pembayaran di muka. Pesanan dalam jumlah besar, misalnya, untuk souvenir, rencong, pedang , pisau, dan perkakas rumah tangga.
Sirup Limun Gading ”Dwi Putra”
SIRUP Limun bikinan Syamsi (49) merupakan produkhome industry legendaris dari Kecamatan Gading tepat di Dusun Prasi Selatan. Selama hampir 10 tahun, sirup limun ini menjadi “kekhasan” tersendiri bagi warga gading dan sekitarnya maupun pelancong yang sedang singgah di kota itu. Hambar rasanya jika telah mengunjungi Gading, tapi belum membawa buah tangan sirup limun bikinan Syamsi.
Menilik jauh ke belakang, sekitar tahun 2001 Syamsi yang mewarisi usaha perusahaan Limun “Dwi Putra” dari keluarganya Syamsi merasakan segarnya bermacam buah yang banyak terdapat di sekitar tempat tinggalnya . Tiba-tiba terpikir olehnya
untuk meracik aneka buah yang berasa manis, segar itu untuk dijadikan bahan dasar pembuatan sirup yang bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Pemikirannya saat itu, buah tersebut bisa terus segar meski disimpan berhari-hari.
Meskipun perusahan Syamsi telah berusia 10 tahun lebih dan nama sirup limun ”Dwi Putra” sudah terkenal luas, tidak membuat perusahan itu melebarkan usahanya ke daerah lain. Hingga saat ini, sirup khas ini hanya bisa didapatkan di Kecamatan Gading dan daerah Probolinggo sekitarnya.
Menilik jauh ke belakang, sekitar tahun 2001 Syamsi yang mewarisi usaha perusahaan Limun “Dwi Putra” dari keluarganya Syamsi merasakan segarnya bermacam buah yang banyak terdapat di sekitar tempat tinggalnya . Tiba-tiba terpikir olehnya
untuk meracik aneka buah yang berasa manis, segar itu untuk dijadikan bahan dasar pembuatan sirup yang bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Pemikirannya saat itu, buah tersebut bisa terus segar meski disimpan berhari-hari.
Meskipun perusahan Syamsi telah berusia 10 tahun lebih dan nama sirup limun ”Dwi Putra” sudah terkenal luas, tidak membuat perusahan itu melebarkan usahanya ke daerah lain. Hingga saat ini, sirup khas ini hanya bisa didapatkan di Kecamatan Gading dan daerah Probolinggo sekitarnya.
Probolinggo. Buah pinang merupakan salah satu komoditi penting dalam industri pewarnaan pakaian. Buah pinang kering banyak diekspor ke Yaman, India, Pakistan dan Nepal. Dan juga banyak dikomsumsi di dalam negeri
Sayangnya, imbas krisis global memaksa ekspor pinang harus terhenti sesaat. Bahkan harga jual pinang pun ikutan goyah. Tak heran, para pengusaha penjualan pinang mulai mengalihkan penjualan ke komoditas cokelat. Dus, mengalihkan pasar pinang
ke pasar lokal.
Salah satu penjual pinang kering adalah Suja’i Khatib asal Gading Kabupaten Probolinggo. Menurut Sudja’i, sang pemilik, potensi bisnis pinang di Probolinggo tergolong masih bagus walau mulai tergerus krisis.
Probolinggo sendiri menurut Sudja’i merupakan daerah pemasok pinang ke beberapa pasar lokal seperti Lumajang dan Surabaya Bahkan, Sudja’i berani bilang bahwa potensi pinang kering bisa mencapai sekitar 20 ton per bulan. Walau begitu, sebelum krisis penjualan pinang baru mencapai 50 ton per bulan.
Sudjai memulai usaha pinang kering sejak tahun 1991, berawal dari keinginannya untuk terus menghidupi keluarga Sudjai melirik buah pinang sebagai lahan untuk memulai usahanya, dengan modal Rp. 500.000,- dan mempekerjakan 2 orang Sudja’i memulai usahanya mengolah buah pinang kering.

Dengan ketelatenan Sudjai’i lambat laun usahanya menampakan hasil, terbukti hingga saat ini ia sudah mampu memperoleh pendapatan sekitar 4 jutaperbulan" saat ini pasar pinang saya hanya ke lokal. terutama untuk pasokan ke Surabaya, Lumajang dan Probolinggo lainnya," ujar Sudja’i yang mewarisi bisnis bidang agro tersebut dari sang mertua tahun 1991 lalu. Dan kini ia akan berkonsentrasi untuk memasarkan produknya ke seluruh indonesia
Sayangnya, imbas krisis global memaksa ekspor pinang harus terhenti sesaat. Bahkan harga jual pinang pun ikutan goyah. Tak heran, para pengusaha penjualan pinang mulai mengalihkan penjualan ke komoditas cokelat. Dus, mengalihkan pasar pinang
ke pasar lokal.
Salah satu penjual pinang kering adalah Suja’i Khatib asal Gading Kabupaten Probolinggo. Menurut Sudja’i, sang pemilik, potensi bisnis pinang di Probolinggo tergolong masih bagus walau mulai tergerus krisis.
Probolinggo sendiri menurut Sudja’i merupakan daerah pemasok pinang ke beberapa pasar lokal seperti Lumajang dan Surabaya Bahkan, Sudja’i berani bilang bahwa potensi pinang kering bisa mencapai sekitar 20 ton per bulan. Walau begitu, sebelum krisis penjualan pinang baru mencapai 50 ton per bulan.
Sudjai memulai usaha pinang kering sejak tahun 1991, berawal dari keinginannya untuk terus menghidupi keluarga Sudjai melirik buah pinang sebagai lahan untuk memulai usahanya, dengan modal Rp. 500.000,- dan mempekerjakan 2 orang Sudja’i memulai usahanya mengolah buah pinang kering.
Dengan ketelatenan Sudjai’i lambat laun usahanya menampakan hasil, terbukti hingga saat ini ia sudah mampu memperoleh pendapatan sekitar 4 jutaperbulan" saat ini pasar pinang saya hanya ke lokal. terutama untuk pasokan ke Surabaya, Lumajang dan Probolinggo lainnya," ujar Sudja’i yang mewarisi bisnis bidang agro tersebut dari sang mertua tahun 1991 lalu. Dan kini ia akan berkonsentrasi untuk memasarkan produknya ke seluruh indonesia
Berkunjung ke Probolinggo pastinya akan mengetahui bahwa kota ini terkenal akan buah mangga dan anggur, hampir disetiap rumah bila anda menyelusuri ruas jalan kota ini ditanami mangga dan anggur. Bagi para wisatawan mengunjungi daerah wisata tentu kurang sreg tanpa membawa pulang oleh-oleh buat keluarga & kerabat dirumah, namun bagi sebagian orang tentu
akan menemui kesulitan memilih oleh-oleh khas Probolinggo selain mangga dan anggur.
Di jalan raya Kebon Agung Km 125 Kraksaan-Probolinggo terdapat barang tempat penjual khas souvenir unik dari kayu jati asli. Nama toko itu cukup panjang sesuai yang tertera didepan nama depan toko yang terpampang tulisan ” Unique Antique, Primitive Furniture Cipta Graha Craft.
Didepan toko tak tampak dijumpai keramaian seperti layaknya sebuah toko, ternyata keramaian ada dibelakang toko yang juga menjadi bengkel kerja sekaligus show room. Toko ini terletak sebelah kiri jalan arah menuju Probolinggo dari Situbondo.
Toko ini menjual segala jenis souvenir unik terbuat dari bahan kayu jati asli, ada juga kalung-kalung dari kerang. Semua jenis souvenir unik disukai pelancong bule/turis. Ada buku telepon mini, Replika perahu dari kayu, asbak rokok, album foto, miniatur
burung yang kesemuanya terbuat dari bahan kayu jati asli. Selain itu ditoko ini juga menerima pesanan perabot rumah tangga seperti perhiasan pajangan, rak lampu, meja makan, kursi serta pajangan lain yang tentunya semua terbuat dari kayu jati asli yang didaur ulang dan memiliki nilai seni.
Menurut Irianto, usaha yang dijalankan baru berumur 5 tahun. ”Awalnya saya tertarik dengan kreasi seni dari kayu, kemudian saya berimprovisasi dan berkreasi dengan kayu jati ” ungkap Irianto yang memiliki latar belakang sebagai dr. Gigi.

Proses pembuatan semua barang yang ada ditoko Irianto, berbahan baku dari jati bekas pakai yang disuplai agen / pengepul dari daerah Probolinggo dan sekitarnya. Semua kayu yang dipilih haruslah memenuhi kriteria tertentu, seperti masih alami, tidak keropos, tidak dirayapi, serta punya texture asli. Kemudian dibentuklah kayu ini sesuai dengan pesanan atau sesuai imajinasi pemiliknya, tentu mengikuti pola asli dan tekno kayu jasti asli yang didapat. Design kayu tidak mengalami perubahan berarti, kayu bekas kandang kuda atau bekas kayu perahu, dibuatlah sesuai imajinasi didesign secara unik.
Harga per item barang antik ini sesuai dengan besar kecilnya ”barang seni” mulai dari Rp. 20.000,- sampai yang puluhan juta
rupiah. Usaha Irianto ini dijalankan secara profesional walaupun terkesan terlihat apa adanya, tapi untuk promosi dilakukan melalui berbagai media yang di suport dan difasilitasi oleh Pemerintah daerah.
Produk Irianto, sudah mempunyai beberapa show room dikota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan bali, bahkan kreasi seni ini sudah menjajaki dalam ajang pameran diberbagai negara.
akan menemui kesulitan memilih oleh-oleh khas Probolinggo selain mangga dan anggur.
Di jalan raya Kebon Agung Km 125 Kraksaan-Probolinggo terdapat barang tempat penjual khas souvenir unik dari kayu jati asli. Nama toko itu cukup panjang sesuai yang tertera didepan nama depan toko yang terpampang tulisan ” Unique Antique, Primitive Furniture Cipta Graha Craft.
Didepan toko tak tampak dijumpai keramaian seperti layaknya sebuah toko, ternyata keramaian ada dibelakang toko yang juga menjadi bengkel kerja sekaligus show room. Toko ini terletak sebelah kiri jalan arah menuju Probolinggo dari Situbondo.
Toko ini menjual segala jenis souvenir unik terbuat dari bahan kayu jati asli, ada juga kalung-kalung dari kerang. Semua jenis souvenir unik disukai pelancong bule/turis. Ada buku telepon mini, Replika perahu dari kayu, asbak rokok, album foto, miniatur
burung yang kesemuanya terbuat dari bahan kayu jati asli. Selain itu ditoko ini juga menerima pesanan perabot rumah tangga seperti perhiasan pajangan, rak lampu, meja makan, kursi serta pajangan lain yang tentunya semua terbuat dari kayu jati asli yang didaur ulang dan memiliki nilai seni.
Menurut Irianto, usaha yang dijalankan baru berumur 5 tahun. ”Awalnya saya tertarik dengan kreasi seni dari kayu, kemudian saya berimprovisasi dan berkreasi dengan kayu jati ” ungkap Irianto yang memiliki latar belakang sebagai dr. Gigi.
Proses pembuatan semua barang yang ada ditoko Irianto, berbahan baku dari jati bekas pakai yang disuplai agen / pengepul dari daerah Probolinggo dan sekitarnya. Semua kayu yang dipilih haruslah memenuhi kriteria tertentu, seperti masih alami, tidak keropos, tidak dirayapi, serta punya texture asli. Kemudian dibentuklah kayu ini sesuai dengan pesanan atau sesuai imajinasi pemiliknya, tentu mengikuti pola asli dan tekno kayu jasti asli yang didapat. Design kayu tidak mengalami perubahan berarti, kayu bekas kandang kuda atau bekas kayu perahu, dibuatlah sesuai imajinasi didesign secara unik.
Harga per item barang antik ini sesuai dengan besar kecilnya ”barang seni” mulai dari Rp. 20.000,- sampai yang puluhan juta
rupiah. Usaha Irianto ini dijalankan secara profesional walaupun terkesan terlihat apa adanya, tapi untuk promosi dilakukan melalui berbagai media yang di suport dan difasilitasi oleh Pemerintah daerah.
Produk Irianto, sudah mempunyai beberapa show room dikota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan bali, bahkan kreasi seni ini sudah menjajaki dalam ajang pameran diberbagai negara.
Mantan Supervisor, pernah Bisnis Kain dan Jamu Berbagai usaha telah dilakoni Rohman, 39. Menjadi TKI, berjualan kain dan meracik jamu telah dicobanya. Namun toh, semuanya tak berujung untung. Nasib baik mulai tampak berpihak kepadanya baru pada tahun 2001 lalu. Saat ia mulai menekuni usaha membuat limun dan sirup di rumahnya. Ikuti cerita suksesnya.
Sementara itu Rohman, sang pemilik perusahaan tampak asyik menerima telepon yang rupanya berasal dari salah seorang pelanggan produknya. Yang menarik, jika telepon dari pelanggan itu berhubungan dengan rencana pemesanan, Rohman selalu mengganti biayanya. "Hanya sekedar mengganti ongkos ke wartel," tukasnya merendah.
Meski sepele, Rohman mengaku kebijakan mengganti uang telepon pelanggan yang menghubunginya sangat efektif. Sebab, pelanggan tidak akan keberatan menelepon dirinya untuk memesan barang. Dan, tentu saja meningkatkan jumlah pesanan langganan kepadanya.
Rohman mengaku, sebenarnya di daerah Kecamatan Paiton dan
sekitarnya dirinya tidak sendirian. Ada beberapa pengusaha minuman limun lain yang menjadi pesaingnya. "Alhamdulillah, adanya pesaing tidak membuat pemesanan terhadap produk saya berkurang. Bahkan sehari-hari para pegawai masih sering kewalahan memenuhi pesanan pelanggan," ujarnya.
Dengan harga Rp 7800/krat (di pasaran rata-rata dijual Rp 325/botol), perusahaan Rohman mampu menjual hingga 80 krat per hari. Dengan hitungan tiap krat terdiri dari 24 botol minuman.
"Lima orang tenaga pemasaran berkeliling menjajakan produk ke warung-warung di desa-desa. Ada juga langganan yang langsung memesan produk dengan cara menelepon ke sini," ujar laki-laki kelahiran Keras, Kediri 9 Nopember 1967 ini.
Berkah menekuni usaha pembuatan minuman limun itu tak hanya berefek pada kehidupan ekonomi keluaganya yang semakin membaik. Saat ini, Rohman juga mampu menggaji 9 orang karyawan yang dipekerjakannya. "Alhamdulillah. Doakan saja akan semakin berkembang. Saya bersyukur sudah bisa seperti ini," pintanya kepada Radar Bromo yang mendatangi pabriknya di Desa Pandean, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo dua hari lalu.
Meski sudah terbilang lumayan, Rohman mengaku tidak akan bisa melupakan perjalanan hidupnya meniti sukses seperti sekarang. "Tidak tiba-tiba seperti ini. Ada proses yang panjang
sampai akhirnya saya memutuskan bisnis minuman limun di sini," ujarnya.
Rohman bercerita, dulu saat masih muda, ia sempat menjajal diri menjadi TKI di Riyadh Arab Saudi. Hanya dua tahun, akhirnya ia tak kerasan dan memutuskan pulang kembali ke tanah air. "Waktu itu pertimbangannya saya merasa sudah tua dan ingin menikah," katanya. Tak lama sesampai di tanah air, Rohman menyunting Lilik Suryani, gadis asal Blitar yang hingga kini menjadi istrinya.
Sepulang dari Arab, Rohman sempat bekerja sebagai karyawan sebuah pabrik plastik. Posisi sebagai supervisor di pabrik tersebut ternyata tak membuatnya puas. Buktinya Rohman memilih keluar.
Ia lebih memilih berdikari melakukan bisnis dan menjajal berbagai usaha untuk menghidupi keluarganya. Petualangan pertamanya di dunia niaga dilakoninya sebagai pengusaha angkutan. Namun itu hanya berjalan beberapa tahun saja.
Merasa usaha itu tak cocok dengan peruntungannya, Rohman pun berbelok menekuni usaha dagang kain. Namun, lagi-lagi usaha itu tak cukup mengundang laba ke kantongnya. "Kain tak pernah bisa habis total. Sebab selera pasar sangat dipengaruhi oleh tren yang terus berkembang," tegasnya.
Gagal di kain, Rohman mencoba berjualan jamu sebagai usaha berikutnya. Entah karena apa, usaha itupun juga gagal. Gagal di
berjualan kain, jamu dan angkutan tak membuat bapak dua anak ini patah arang.
Sampai akhirnya muncul ide membuat usaha minuman limun. "Awalnya saya sering melihat di warung-warung. Para pemilik warung mengaku bahwa mereka sering kehabisan stok. Padahal peminatnya banyak. Saya berpikir akan sangat menguntungkan, kalau seandainya saya menangkap peluang itu," kenangnya.
Dengan tekad bulat, Rohman akhirnya memilih jenis usaha minuman itu sebagai pilihannya. Tak main-main, ia sempat menjalani kursus singkat membuat limun berbiaya tinggi. "Kursusnya Rp 1 juta untuk dua jam. Saya ikut di Blitar pada 2001 lalu," ujarnya.
Hasilnya mengagumkan. Ia pun menguasai teknis membuat limun dalam enam rasa. Ia bisa mengolah air putih yang disaring, lalu dicampur dengan sejumlah zat kimia menjadi minuman berkarbonase dalam rasa nanas, strawberi, kopi, mocca, jambu biji, jeruk dan leci.
Kemahiran dan teknik saja ternyata tidak cukup. Rohman harus merayu istrinya agar merelakan kalung miliknya dijual untuk modal. Dan, barangkali sudah sesuai garis tangannya bisnis minuman itupun berhasil sampai sekarang. Perusahaannya juga sudah terdaftar di Departemen Kesehatan Pusat.
"Awalnya saya memasarkan sendiri dengan menggunakan satu motor. Lalu berkembang menjadi dua motor. Berkembang lagi sekarang saya memiliki Tossa dan lima orang karyawan bagian pemasaran," ujarnya dengan muka berbinar
Sementara itu Rohman, sang pemilik perusahaan tampak asyik menerima telepon yang rupanya berasal dari salah seorang pelanggan produknya. Yang menarik, jika telepon dari pelanggan itu berhubungan dengan rencana pemesanan, Rohman selalu mengganti biayanya. "Hanya sekedar mengganti ongkos ke wartel," tukasnya merendah.
Meski sepele, Rohman mengaku kebijakan mengganti uang telepon pelanggan yang menghubunginya sangat efektif. Sebab, pelanggan tidak akan keberatan menelepon dirinya untuk memesan barang. Dan, tentu saja meningkatkan jumlah pesanan langganan kepadanya.
Rohman mengaku, sebenarnya di daerah Kecamatan Paiton dan
sekitarnya dirinya tidak sendirian. Ada beberapa pengusaha minuman limun lain yang menjadi pesaingnya. "Alhamdulillah, adanya pesaing tidak membuat pemesanan terhadap produk saya berkurang. Bahkan sehari-hari para pegawai masih sering kewalahan memenuhi pesanan pelanggan," ujarnya.
Dengan harga Rp 7800/krat (di pasaran rata-rata dijual Rp 325/botol), perusahaan Rohman mampu menjual hingga 80 krat per hari. Dengan hitungan tiap krat terdiri dari 24 botol minuman.
"Lima orang tenaga pemasaran berkeliling menjajakan produk ke warung-warung di desa-desa. Ada juga langganan yang langsung memesan produk dengan cara menelepon ke sini," ujar laki-laki kelahiran Keras, Kediri 9 Nopember 1967 ini.
Berkah menekuni usaha pembuatan minuman limun itu tak hanya berefek pada kehidupan ekonomi keluaganya yang semakin membaik. Saat ini, Rohman juga mampu menggaji 9 orang karyawan yang dipekerjakannya. "Alhamdulillah. Doakan saja akan semakin berkembang. Saya bersyukur sudah bisa seperti ini," pintanya kepada Radar Bromo yang mendatangi pabriknya di Desa Pandean, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo dua hari lalu.
Meski sudah terbilang lumayan, Rohman mengaku tidak akan bisa melupakan perjalanan hidupnya meniti sukses seperti sekarang. "Tidak tiba-tiba seperti ini. Ada proses yang panjang
sampai akhirnya saya memutuskan bisnis minuman limun di sini," ujarnya.
Rohman bercerita, dulu saat masih muda, ia sempat menjajal diri menjadi TKI di Riyadh Arab Saudi. Hanya dua tahun, akhirnya ia tak kerasan dan memutuskan pulang kembali ke tanah air. "Waktu itu pertimbangannya saya merasa sudah tua dan ingin menikah," katanya. Tak lama sesampai di tanah air, Rohman menyunting Lilik Suryani, gadis asal Blitar yang hingga kini menjadi istrinya.
Sepulang dari Arab, Rohman sempat bekerja sebagai karyawan sebuah pabrik plastik. Posisi sebagai supervisor di pabrik tersebut ternyata tak membuatnya puas. Buktinya Rohman memilih keluar.
Ia lebih memilih berdikari melakukan bisnis dan menjajal berbagai usaha untuk menghidupi keluarganya. Petualangan pertamanya di dunia niaga dilakoninya sebagai pengusaha angkutan. Namun itu hanya berjalan beberapa tahun saja.
Merasa usaha itu tak cocok dengan peruntungannya, Rohman pun berbelok menekuni usaha dagang kain. Namun, lagi-lagi usaha itu tak cukup mengundang laba ke kantongnya. "Kain tak pernah bisa habis total. Sebab selera pasar sangat dipengaruhi oleh tren yang terus berkembang," tegasnya.
Gagal di kain, Rohman mencoba berjualan jamu sebagai usaha berikutnya. Entah karena apa, usaha itupun juga gagal. Gagal di
berjualan kain, jamu dan angkutan tak membuat bapak dua anak ini patah arang.
Sampai akhirnya muncul ide membuat usaha minuman limun. "Awalnya saya sering melihat di warung-warung. Para pemilik warung mengaku bahwa mereka sering kehabisan stok. Padahal peminatnya banyak. Saya berpikir akan sangat menguntungkan, kalau seandainya saya menangkap peluang itu," kenangnya.
Dengan tekad bulat, Rohman akhirnya memilih jenis usaha minuman itu sebagai pilihannya. Tak main-main, ia sempat menjalani kursus singkat membuat limun berbiaya tinggi. "Kursusnya Rp 1 juta untuk dua jam. Saya ikut di Blitar pada 2001 lalu," ujarnya.
Hasilnya mengagumkan. Ia pun menguasai teknis membuat limun dalam enam rasa. Ia bisa mengolah air putih yang disaring, lalu dicampur dengan sejumlah zat kimia menjadi minuman berkarbonase dalam rasa nanas, strawberi, kopi, mocca, jambu biji, jeruk dan leci.
Kemahiran dan teknik saja ternyata tidak cukup. Rohman harus merayu istrinya agar merelakan kalung miliknya dijual untuk modal. Dan, barangkali sudah sesuai garis tangannya bisnis minuman itupun berhasil sampai sekarang. Perusahaannya juga sudah terdaftar di Departemen Kesehatan Pusat.
"Awalnya saya memasarkan sendiri dengan menggunakan satu motor. Lalu berkembang menjadi dua motor. Berkembang lagi sekarang saya memiliki Tossa dan lima orang karyawan bagian pemasaran," ujarnya dengan muka berbinar
onomerto, Kayunya Sejenis Bahan Kapal Nabi Nuh Munarto memulai karir usaha produksi tasbih dari titik nol. Dari belajar sampai bisa membuat tasbih sendiri. Tak sia-sia, kini tasbih berbahan kayu kokka yang dihasilkannya bahkan masuk pasaran ekspor ke Malaysia, Brunei dan Arab Saudi. Suara mesin pemotong kayu, gerenda dan mesin bubut bercampur menjadi satu. Tujuh orang karyawan Munarto tampak khusuk menekuni pekerjaannya masing-masing. Memotong kayu, membuat kasaran, melubangi, dan menghaluskan bentukan tasbih dari kayu kokka.
Ketujuh orang itu sehari-hari memang bekerja membuat tasbih di UD BK HAS Patalan, Wonomerto Probolinggo. Dari tangan-tangan terampil mereka tercipta ratusan bahkan ribuan tasbih yang siap dipasarkan ke seluruh Indonesia dan luar negeri.
Kayu kokka saat ini memang lagi musim untuk bahan tasbih. Kayu yang dibeli Munarto dari Turki itu konon dipercaya memiliki sejumlah khasiat. Air bekas celupan tasbih kayu itu dipercaya berkhasiat menyembuhkan sejumlah penyakit.
Kayu yang hanya berbuah setiap 50 tahun sekali itu berbentuk lonjong serupa buah gambir itu hanya ada di Timur Tengah dan Afrika. Munarto mengaku mendapatkannya dari Iran, Nigeria, Mesir dan Turki.
Bahkan, kayu yang konon dikabarkan sejenis dengan bahan kapal Nabi Nuh dan tongkat Nabi Musa itu juga dipercaya bisa menolak balak. "Semua ciptaan Allah itu hanya perantara. Semuanya kembali pada kekuasaan dan izin Allah," ujar Munarto sambil menunjukkan tasbih-tasbihnya.
Sebab dipercaya memiliki khasiat itu, tasbih berbahan kayu kokka menjadi mahal harganya. Otomatis secara bisnis juga bakal lebih
menguntungkan. "Harga satu tasbih berkisar antara Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta. Bahkan ada yang lebih. Kalau tasbih biasa harganya paling banter Rp 25 ribu," ujarnya.
Munarto mengaku menekuni bisnis tasbih sejak 1995 lalu. Ilmu membuat tasbih didapatkannya dari seseorang di tempatnya dulu bekerja. "Dulu saya hanya bekerja pada orang. Lalu sedikit demi sedikit saya belajar. Sampai akhirnya bisa buka usaha sendiri," ujarnya.
Menjadi pengusaha tasbih mungkin sudah menjadi garis tangan Munarto. Ia sukses melakoni bisnis alat hitung berdzikir itu. Memulai dengan modal Rp 5 juta Munarto membeli alat-alat untuk membuat tasbih.
"Pertama kali punya alat manual. Kemudian berkembang sedikit demi sedikit. Saya juga pernah dapat bantuan peralatan dari pemerintah zaman Pak Harto. Waktu mesinnya masih pakai tenaga kayuh. Itu alatnya yang berwarna kuning Golkar," ujar Munarto sambil tertawa.
Dengan berkembangnya usaha, Munarto pun berusaha meng-up grade alat-alat kerjanya. Dari yang manual menjadi bermesin.
Dari yang sederhana menjadi teknologis. Munarto juga sudah bisa mempekerjakan 10 orang karyawan dengan gaji borongan.
"Sistem bayarannya borongan. Untuk setiap tasbih seorang tukang gergaji kayu mendapatkan upah Rp 1.500,- pembuat kasaran (kayu-kayu yang belum dibentuk) upahnya Rp 200-300 untuk setiap hasil tasbih. Pekerja bagian penghalus Rp 1000 tiap tasbih dan pelubang Rp 1.500,- untuk tiap tasbih," ujarnya.
Munarno menyebut tasbih berbahan kayu kokka saat ini sedang diminati banyak orang. Bahkan, ia mengaku pemesannya lebih banyak dari luar negeri. "Untuk yang lokal biasanya suka bahan tulang karena harganya lebih murah. Tapi kalau yang kayu kokka, kita kirim ke Malaysia, Brunei dan Arab Saudi," ujarnya.
Ketujuh orang itu sehari-hari memang bekerja membuat tasbih di UD BK HAS Patalan, Wonomerto Probolinggo. Dari tangan-tangan terampil mereka tercipta ratusan bahkan ribuan tasbih yang siap dipasarkan ke seluruh Indonesia dan luar negeri.
Kayu kokka saat ini memang lagi musim untuk bahan tasbih. Kayu yang dibeli Munarto dari Turki itu konon dipercaya memiliki sejumlah khasiat. Air bekas celupan tasbih kayu itu dipercaya berkhasiat menyembuhkan sejumlah penyakit.
Kayu yang hanya berbuah setiap 50 tahun sekali itu berbentuk lonjong serupa buah gambir itu hanya ada di Timur Tengah dan Afrika. Munarto mengaku mendapatkannya dari Iran, Nigeria, Mesir dan Turki.
Bahkan, kayu yang konon dikabarkan sejenis dengan bahan kapal Nabi Nuh dan tongkat Nabi Musa itu juga dipercaya bisa menolak balak. "Semua ciptaan Allah itu hanya perantara. Semuanya kembali pada kekuasaan dan izin Allah," ujar Munarto sambil menunjukkan tasbih-tasbihnya.
Sebab dipercaya memiliki khasiat itu, tasbih berbahan kayu kokka menjadi mahal harganya. Otomatis secara bisnis juga bakal lebih
menguntungkan. "Harga satu tasbih berkisar antara Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta. Bahkan ada yang lebih. Kalau tasbih biasa harganya paling banter Rp 25 ribu," ujarnya.
Munarto mengaku menekuni bisnis tasbih sejak 1995 lalu. Ilmu membuat tasbih didapatkannya dari seseorang di tempatnya dulu bekerja. "Dulu saya hanya bekerja pada orang. Lalu sedikit demi sedikit saya belajar. Sampai akhirnya bisa buka usaha sendiri," ujarnya.
Menjadi pengusaha tasbih mungkin sudah menjadi garis tangan Munarto. Ia sukses melakoni bisnis alat hitung berdzikir itu. Memulai dengan modal Rp 5 juta Munarto membeli alat-alat untuk membuat tasbih.
"Pertama kali punya alat manual. Kemudian berkembang sedikit demi sedikit. Saya juga pernah dapat bantuan peralatan dari pemerintah zaman Pak Harto. Waktu mesinnya masih pakai tenaga kayuh. Itu alatnya yang berwarna kuning Golkar," ujar Munarto sambil tertawa.
Dengan berkembangnya usaha, Munarto pun berusaha meng-up grade alat-alat kerjanya. Dari yang manual menjadi bermesin.
Dari yang sederhana menjadi teknologis. Munarto juga sudah bisa mempekerjakan 10 orang karyawan dengan gaji borongan.
"Sistem bayarannya borongan. Untuk setiap tasbih seorang tukang gergaji kayu mendapatkan upah Rp 1.500,- pembuat kasaran (kayu-kayu yang belum dibentuk) upahnya Rp 200-300 untuk setiap hasil tasbih. Pekerja bagian penghalus Rp 1000 tiap tasbih dan pelubang Rp 1.500,- untuk tiap tasbih," ujarnya.
Munarno menyebut tasbih berbahan kayu kokka saat ini sedang diminati banyak orang. Bahkan, ia mengaku pemesannya lebih banyak dari luar negeri. "Untuk yang lokal biasanya suka bahan tulang karena harganya lebih murah. Tapi kalau yang kayu kokka, kita kirim ke Malaysia, Brunei dan Arab Saudi," ujarnya.
Ramai Tiap Bulan Ruwah
Bila melintas di desa Jorongan , Anda dengan mudah menemui rumah bapak M. Kosim perajin batu nisan. Dipayungi terpal atau di belakang rumah dibawah pohon rindang, usaha nisan batu bernilai jutaan rupiah ini, setiap hari tampak beraktivitas. Meski tidak banyak, nisan jenis batu masih dicari masyarakat.
Usaha tersebut rata-rata sudah berjalan puluhan tahun. Seperti yang dilakoni M. Kosim (41), warga Jorongan, Kecamatan Leces, Probolinggo. Ia memulai usaha ini bersama seorang tukangnya, sejak 10 tahun yang lalu dengan berlatih secara otodidak.
"Mula-mula yang memiliki usaha ini adalah orangtua saya. Saya ikut-ikutan. Lama-lama saya bisa membuat sendiri," ujarnya sambil terus menatah bongkahan batu tersebut. Tidak banyak batu nisan yang dibuatnya. Dalam satu bulan dia hanya mampu membuat 4 - 5 nisan saja. Rata-rata satu batu nisan dikerjakan selama 1-2 minggu. "Maklum. Pembantu saya hanya satu. Yang penting bisa melayani pesanan dan tidak nganggur."
Para perajin nisan biasanya mendapat bahan baku dari tanah liat. Pasokan bahan baku ini relatif lancar. Namun jika musim hujan ''beraktivitas'', maka kiriman bahan baku akan tersendat. "Kemarin waktu wabah hujan melandan wilayahnya, pasokan berhenti selama satu bulan.

Ukuran nisan tentu bisa disesuaikan dengan pesanan dan akan ditetapkan harga tersendiri. Rata-rata sebuah batu nisan berukuran panjang 2 meter dijual Rp 350 ribu. Sedang ukuran paling kecil (balita) dijual Rp 150.000.-Konsumennya datang dari sekitar probolinggo dan beberapa kota di Jawa Timur.
Telaten
Menatah tanah liat dari bongkahan menjadi batu nisan bukan perkara mudah karena dibutuhkan ketelatenan dan jiwa seni agar bisa membuat ukiran yang indah. Macam ukirannya pun beragam, di antaranya lung-lungan, wiron, penthol polos, ceplok, dan canden.
Menurut M. Kosim, ukiran yang banyak menjadi favorit konsumennya adalah jenis lung-lungan. "Ini saya sedang membuat nisan ukir lung-lungan, pesanan dari seseorang. Jenis ini memang banyak yang suka," katanya sambil menghisap rokok kretek dalam-dalam.
"Teknik ini lebih lama membuatnya, sehingga harganya juga lebih mahal. Pembeli terkena biaya tambahan Rp 25.000,-" ujarnya.
Nisan batu masih diminati karena perawatannya lebih mudah dan lebih kuat dibanding nisan keramik. "Nisan keramik itu mudah
pecah, saya sengaja tidak menjualnya. Kalau dari tanah liat kan awet," kata M. Kosim
Soal perawatan, Kosim mengatakan, nisan hanya perlu disikat dengan air dan di cat ulang agar tampak seperti baru. Sedangkan nisan keramik, warnanya mudah pudar dan rawan pecah.
Hidup para perajin ini memang terkait dengan kematian. Bila mengharap order meningkat berarti juga mengharap kabar buruk bagi pihak lain. Pesanan mulai ramai bila memasuki bulan Ruwah (menjelang bulan Ramadhan).
"Kalau Ruwahan, saya bisa menjual sampai 20 buah, karena masyarakat Jawa masih setia menjaga leluhurnya. Tapi di luar bulan itu paling hanya 3 - 4 buah saja." katanya.
Bisnis ini terbilang menguntungkan karena konsumen jarang menawar untuk kebutuhan ini.
Usaha tersebut rata-rata sudah berjalan puluhan tahun. Seperti yang dilakoni M. Kosim (41), warga Jorongan, Kecamatan Leces, Probolinggo. Ia memulai usaha ini bersama seorang tukangnya, sejak 10 tahun yang lalu dengan berlatih secara otodidak.
"Mula-mula yang memiliki usaha ini adalah orangtua saya. Saya ikut-ikutan. Lama-lama saya bisa membuat sendiri," ujarnya sambil terus menatah bongkahan batu tersebut. Tidak banyak batu nisan yang dibuatnya. Dalam satu bulan dia hanya mampu membuat 4 - 5 nisan saja. Rata-rata satu batu nisan dikerjakan selama 1-2 minggu. "Maklum. Pembantu saya hanya satu. Yang penting bisa melayani pesanan dan tidak nganggur."
Para perajin nisan biasanya mendapat bahan baku dari tanah liat. Pasokan bahan baku ini relatif lancar. Namun jika musim hujan ''beraktivitas'', maka kiriman bahan baku akan tersendat. "Kemarin waktu wabah hujan melandan wilayahnya, pasokan berhenti selama satu bulan.
Ukuran nisan tentu bisa disesuaikan dengan pesanan dan akan ditetapkan harga tersendiri. Rata-rata sebuah batu nisan berukuran panjang 2 meter dijual Rp 350 ribu. Sedang ukuran paling kecil (balita) dijual Rp 150.000.-Konsumennya datang dari sekitar probolinggo dan beberapa kota di Jawa Timur.
Telaten
Menatah tanah liat dari bongkahan menjadi batu nisan bukan perkara mudah karena dibutuhkan ketelatenan dan jiwa seni agar bisa membuat ukiran yang indah. Macam ukirannya pun beragam, di antaranya lung-lungan, wiron, penthol polos, ceplok, dan canden.
Menurut M. Kosim, ukiran yang banyak menjadi favorit konsumennya adalah jenis lung-lungan. "Ini saya sedang membuat nisan ukir lung-lungan, pesanan dari seseorang. Jenis ini memang banyak yang suka," katanya sambil menghisap rokok kretek dalam-dalam.
"Teknik ini lebih lama membuatnya, sehingga harganya juga lebih mahal. Pembeli terkena biaya tambahan Rp 25.000,-" ujarnya.
Nisan batu masih diminati karena perawatannya lebih mudah dan lebih kuat dibanding nisan keramik. "Nisan keramik itu mudah
pecah, saya sengaja tidak menjualnya. Kalau dari tanah liat kan awet," kata M. Kosim
Soal perawatan, Kosim mengatakan, nisan hanya perlu disikat dengan air dan di cat ulang agar tampak seperti baru. Sedangkan nisan keramik, warnanya mudah pudar dan rawan pecah.
Hidup para perajin ini memang terkait dengan kematian. Bila mengharap order meningkat berarti juga mengharap kabar buruk bagi pihak lain. Pesanan mulai ramai bila memasuki bulan Ruwah (menjelang bulan Ramadhan).
"Kalau Ruwahan, saya bisa menjual sampai 20 buah, karena masyarakat Jawa masih setia menjaga leluhurnya. Tapi di luar bulan itu paling hanya 3 - 4 buah saja." katanya.
Bisnis ini terbilang menguntungkan karena konsumen jarang menawar untuk kebutuhan ini.

Tangan tangan pekerja itu begitu telaten membentuk tanah liat menjadi hiasan. Mengaduk adonan cat, memolesnya kebenda yang telah jadi. Itulah kegiatan usaha di salah satu pabrik kreamik terbesar di Kabupaten Probolinggo, Kris Paulus 54 tahun. Masyarakat memanggilnya Paulo. Usianya tak lagi muda. Namun, matanya tajam memperhatikan keramik – keramik made in miliknya.
Kualitas kata yang tak bisa ditawar baginya. Saat saya berkunjung di pabriknya
Bisnis ini salah satu bisnis yang menjanjikan. Belum banyak saingan menjadi salah satu peluang untuk mengembangkan bisnis tersebut. , Paulo mengaku, dia telah menjual kerajinan itu keseluruh daerah di Jawa Timur.
Produksi kerajinan ini telah hadir di berbagai kota terutama di saentero jawa
Untuk mengembangkan lebih luas, dia mengaku telah mengikuti beberapa even pameran baik dalam negeri maupun luar negeri
Keramik yang diproduksi Paulo, terbilang up to date. Selain model-model yang telah biasa dibuatnya, dia selalu mengikuti perkembangan zaman seni pembuatan keramik. Caranya, membeli koran dan majalah. Informasi perkembangan model terbaru didapatkannya dari media.
Paulo mengawali karier usaha keramik berawal tahun 1977, kala itu ia hanya sebagai pegawai biasa disalah satu perusahaan keramik lokal di probolinggo, 14 tahun hanya sebagai pekerja, paulo berkeinginan untuk mendirikan sendiri pabrik keramik,
Sejak tahun 1992 ia mulai membuat keramik sendiri dengan sistim home industri dengan jumlah karyawan 10 orang, dengan ketekunan dan keuletan bapak 2 putra ini, usahanya berkembang
terus hingga tahun 2009 sudah bisa mendirikan pabrik sendiri dengan jumlah karyawan lebih kurang 300 orang.
Paulo menceritakan tentang pabriknya, berdiri tepatnya tanggal 18 mei 2009 usahanya dinamakan PT. Keramik Paulo berloksai di jalan Prof. Dr. Buya Hamka, Desa laweyan Sumberasih, Probolinggo, alasan mendirikan pabrik karena mudah memperoleh tenaga kerja, dalam proses produksi membutuhkan pemakaian air bersih dalam jumlah besar, dikatakannya di daerah ini dapat dipenuhi serta akses jalan yang dekat dengan jalan raya memudahkan pengangkutan bahan baku dan bahan jadi
Sedangkan pangsa pasar yang dibidik oleh perusahaannya adalah penjulan grosir ataupun eceran, hotel , bank, restaurant, sedangkan produk yang dihasilkan antara lain, guci air, roster, cangkir, piring, mangkok, tempat sabun, vas, peralatan hotel, souvenir untuk
pernikahan, dan produk yang dihasilkan memiliki beberapa tipe, seperti tempat air memiliki berbagai macam bentuk, warna dan gambar.
PT. Paolo ini merupakan perusahaan manufaktur yang berproduksi atas dasar pesanan dari pelanggan, pesanan produk yang diterima dari pelanggan sebagian besar berupa produk guci air (tempat air), pada awal berdiri pemasaran hanya terbatas di daerah probolinggo, pasuruan. Sidoarjo, malang dan surabaya sekitarnya, sekarang dengan peralatan yang modern, dan tenaga kerja yang berkualitas dan saluran distribusi yang makin luas, pabrik paolo mampu mengembangkan sayapnya semakin luas meliputi kota-kota di jawa timur, jawa tengah, jawa barat, bali dan lombok, serta beberap negara lain.
Cris Paolo diakhir perbincangan dengan kami menyampaikan Pabrik miliknya dalam proses produksi memiliki beberapa tahapan mulai dari desaign atau cetakan, laborat, casting, finishing, glosir, dekorasi, klin, sortir dan terakhir packing.
Kualitas kata yang tak bisa ditawar baginya. Saat saya berkunjung di pabriknya
Bisnis ini salah satu bisnis yang menjanjikan. Belum banyak saingan menjadi salah satu peluang untuk mengembangkan bisnis tersebut. , Paulo mengaku, dia telah menjual kerajinan itu keseluruh daerah di Jawa Timur.
Produksi kerajinan ini telah hadir di berbagai kota terutama di saentero jawa
Untuk mengembangkan lebih luas, dia mengaku telah mengikuti beberapa even pameran baik dalam negeri maupun luar negeri
Keramik yang diproduksi Paulo, terbilang up to date. Selain model-model yang telah biasa dibuatnya, dia selalu mengikuti perkembangan zaman seni pembuatan keramik. Caranya, membeli koran dan majalah. Informasi perkembangan model terbaru didapatkannya dari media.
Paulo mengawali karier usaha keramik berawal tahun 1977, kala itu ia hanya sebagai pegawai biasa disalah satu perusahaan keramik lokal di probolinggo, 14 tahun hanya sebagai pekerja, paulo berkeinginan untuk mendirikan sendiri pabrik keramik,
Sejak tahun 1992 ia mulai membuat keramik sendiri dengan sistim home industri dengan jumlah karyawan 10 orang, dengan ketekunan dan keuletan bapak 2 putra ini, usahanya berkembang
terus hingga tahun 2009 sudah bisa mendirikan pabrik sendiri dengan jumlah karyawan lebih kurang 300 orang.
Paulo menceritakan tentang pabriknya, berdiri tepatnya tanggal 18 mei 2009 usahanya dinamakan PT. Keramik Paulo berloksai di jalan Prof. Dr. Buya Hamka, Desa laweyan Sumberasih, Probolinggo, alasan mendirikan pabrik karena mudah memperoleh tenaga kerja, dalam proses produksi membutuhkan pemakaian air bersih dalam jumlah besar, dikatakannya di daerah ini dapat dipenuhi serta akses jalan yang dekat dengan jalan raya memudahkan pengangkutan bahan baku dan bahan jadi
Sedangkan pangsa pasar yang dibidik oleh perusahaannya adalah penjulan grosir ataupun eceran, hotel , bank, restaurant, sedangkan produk yang dihasilkan antara lain, guci air, roster, cangkir, piring, mangkok, tempat sabun, vas, peralatan hotel, souvenir untuk
pernikahan, dan produk yang dihasilkan memiliki beberapa tipe, seperti tempat air memiliki berbagai macam bentuk, warna dan gambar.
PT. Paolo ini merupakan perusahaan manufaktur yang berproduksi atas dasar pesanan dari pelanggan, pesanan produk yang diterima dari pelanggan sebagian besar berupa produk guci air (tempat air), pada awal berdiri pemasaran hanya terbatas di daerah probolinggo, pasuruan. Sidoarjo, malang dan surabaya sekitarnya, sekarang dengan peralatan yang modern, dan tenaga kerja yang berkualitas dan saluran distribusi yang makin luas, pabrik paolo mampu mengembangkan sayapnya semakin luas meliputi kota-kota di jawa timur, jawa tengah, jawa barat, bali dan lombok, serta beberap negara lain.
Cris Paolo diakhir perbincangan dengan kami menyampaikan Pabrik miliknya dalam proses produksi memiliki beberapa tahapan mulai dari desaign atau cetakan, laborat, casting, finishing, glosir, dekorasi, klin, sortir dan terakhir packing.

ITEMUI di rumahnya Di Kecamatan Tongas, Miftahul Huda, 42, tengah sibuk berbincang dengan salah seorang sales kaligrafi. Sesekali dia juga sibuk melayani dering telepon seluler dan telepon rumah miliknya yang dijadikan kantor.
Maklum, relasi bisnisnya cukup luas dari berbagai daerah. Di tengah kesibukannya mengelola usaha, Huda-intim disapa- tetap ramah menerima tamu-termasuk wartawan ini yang hendak mewawancarainya.
Penampilannya sederhana. Berkat kerja kerasnya, kini usaha Huda makin luas. Di bawah tangan dinginnya, usaha yang dikelolanya dalam delapan tahun terakhir telah merambah seluruh jawa timur Mulai Surabaya, Banyuwangi, sampai Madura. Ia sebelumnya. Miftahul Hudapun menceritakan awal mula merintis usahanya. Sebagai pengusaha yang berangkat dari nol, tentu banyak liku-liku dan tantangan yang harus dihadapi.
Menurut Huda, sebelumnya sebagai petani, ia mencoba cari penghasilan lain. Ia nyambi sebagai pelukis kaligrafi di rumah temannya jombang.
"Dari situlah, sedikit demi sedikit saya tertarik dengan usaha kaligrafi. Di tempat itulah, saya banyak belajar dan mengasah bakat atau keahlian menulis kaligrafi," ceritanya.
Tidak hanya itu. "Saya juga belajar cara memproduksi sekaligus belajar manajemen pemasaran sebagai marketing," ujar bapak dua anak
Proses belajar dan membantu temannya berlangsung kurang lebih selama dua tahun. Selama itu pula, dia mampu mengembangkan
pemasaran kaligrafi temannya di sepanjang jalur pantura Jawa. Yakni mulai gresik, jombang, Surabaya, hingga Jakarta.
Bahkan wilayah Jogjakarta pun dirambah. Yang menarik, meski sibuk mencari pelanggan, dia juga masih menyempatkan diri menjadi petani
"Saya tetap mencari upah sendiri untuk keluarga. Setiap hari harus ada masukan pendapatan, meski kecil," katanya. Apa yang dilakukan Huda patut diacungi jempol.
Sebab dialah yang merintis pemasaran penjualan kaligrafitemannya itu ke berbagai daerah.
Waktu itu, kata dia, belum banyak pesaing sehingga tantangan usaha tak seberat sekarang. Saat ia masih membantu temannyaTenaga kerja yang dimiliki baru 4 orang. Pemasarannya pun masih terbatas.
Di wilayah Probolinggo, dia memasarkan kaligrafi di kawasan wisata dan rumah kerumah. Dalam perjalanan selanjutnya, usahanya berkembang pesat.
"Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bagi saya dalam memasarkan barang kaligrafi. Karena itulah, yang saya pikir waktu itu adalah bagaimana tetap memajukan usaha ke depan dan tidak mau memikirkan kerugian ," tuturnya.
Dalam perkembangannya, Huda banting stir lagi. Dia mulai menekuni kembali usaha kaligrafi secara mandiri dan tak terkait
dengan usaha temannya
"Keluarga saya mendorong agar tetap menekuni usaha yang dulu lagi. Untuk mendirikan usaha itu saya dipinjami uang dengan jumlah total Rp 10 juta. Uang itu saya kumpulkan dari 10 saudara saya. Setiap orang membantu meminjami dana sebesar Rp 1 jutaan untuk modal," katanya.
Ia kembali merintis usahanya. Kali ini Huda dibantu 10 tenaga kerja dengan hasil produksi sekitar 200 kaligrafi per hari. Para pelanggan setia yang pernah bekerjasama dengannya juga kembali melakukan pemesanan.
Bahkan saat ini tenaga kerjanya bertambah menjadi 20 orang. Tak hanya itu. Untuk memperluas pemasaran, Hadi memiliki 200 jaringan sales yang bertugas menjual kaligrafinya. Masing-masing sales dibantu 20 tenaga untuk memasarkan door to door ke setiap rumah warga.
Dengan tenaga kerja yang ada, saat ini setiap hari dia mampu memproduksi sebanyak 1.250 kaligrafi. Penjualan di wilayah Jawa timur
Sedangkan barang yang dikirim ke luar Jawa menggunakan truk melalui pelabuhan. Dari penjualan itu, omzet per Minggu kini bisa mencapai antara Rp 9 juta hingga Rp 10 juta. Artinya, dalam sebulan, omzetnya bisa mencapai Rp 40 juta.
"Awal usaha pendapatan hanya mencapai antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per Minggu. Tapi sekarang Alhamdulillah terus meningkat," ucapnya merendah. Menurut Dullah sebelum diproduksi menjadi kaligrafi, dia lebih dulu membuat figura. Figura yang terbuat dari kayu pinus tersebut ia produksi di Mojokerto, JawaTimur.
Setelah itu, figura diproses menjadi bingkai kaligrafi Dikatakan, pekerjaan yang dikelolanya dilakukan siang dan malam secara bergantian. Menurutnya, karena sudah menekuni usaha kaligrafi dan figura itulah dia tak lagi menjadi petani Dalam berusaha itu, ia berprinsip selalu konsisten melayani konsumen tepat waktu, jujur, pasti dan bertanggungjawab.
"Apalagi yang saya jual adalah kaligrafi dari ayat-ayat Alquran. Jadi segala sesuatunya saya selalu berhati-hati dan berusaha sekuat tenaga bahwa apa yang saya lakukan dalam mengembangkan usaha sesuai dengan nilai-nilai Alquran itu. Karena itu, nilai keikhlasan selalu saya ke depankan dalam setiap melangkah. Meski kadang-kadang saya ditipu orang. Tapi, silahkan .... saya tetap maju berkembang."
RENYAHNYA KERUPUK MUNENG
Probolinggo - Kreatifitas bukan miliknya orang kota saja. Di desa pun cukup banyak orang yang kreatif dan pekerja keras. Seperti halnya Diding Dutisna, seorang pengusaha kerupuk – dia mampu mempekerjakan puluhan orang di desanya muneng Kecamatan Sumberasih
Memulai usaha tahun 2003 silam, Diding – panggilan akrab Diding Dutisna, terus berusaha mengembangkan bisnisnya. Sejak awal dia memang bertekad bisa menciptakan lapangan kerja bagi warga setempat. Begitu lah bisnis ini dia jalankan, mulai kecil hingga menjadi seperti sekarang.
Lokasi usaha yang berada sedikit di pedalaman, tidak menghalangi diding untuk maju. Dia bahkan tampil menjadi tokoh pemuda yang mampu memberdayakan desanya. Produknya dikenal di seluruh desa muneng hingga Probolinggo.
”Sudah banyak konsumen yang minta kerupuk , tapi kita belum mampu memenuhinya. Produk kita sekarang ini sebagian besar untuk pasokan didaerah sekitar, itu pun masih kurang,” Meski lokasi usahanya tidak terlalu luas, berada persis di pinggiran sungai Seruway, namun usaha kerupuk ikan ini mampu mempekerjakan sekitar 21 orang, yaitu 15 orang sebagai pekerja produksi (pengolahan) dan 6 orang sebagai saleman. Sebagian besar pekerjanya adalah perempuan.
Diding memang memilih konsep ekonomi kerakyatan untuk bisnisnya tersebut. Baginya, lebih penting bila bisa memberdayakan masyarakat di desanya, ketimbang hanya sekedar maraih keuntungan.
”Bila masyarakat bisa kita berdayakan, otomatis bisnis kita juga akan maju. Bila bisnis maju, ya sudah pasti ada keuntungannya,” lanjut diding
Semangat itu pula yang mengawali bisnis kerupuk tersebut.
Menurutnya, dia memulai usaha karena rasa keprihatinannya melihat banyak orang yang menganggur.
Kini Diding sudah sukses memproduksi krupuk buatannya tinggal bagaimana memperbesar produksi dan memperluar pasar.
Memulai usaha tahun 2003 silam, Diding – panggilan akrab Diding Dutisna, terus berusaha mengembangkan bisnisnya. Sejak awal dia memang bertekad bisa menciptakan lapangan kerja bagi warga setempat. Begitu lah bisnis ini dia jalankan, mulai kecil hingga menjadi seperti sekarang.
Lokasi usaha yang berada sedikit di pedalaman, tidak menghalangi diding untuk maju. Dia bahkan tampil menjadi tokoh pemuda yang mampu memberdayakan desanya. Produknya dikenal di seluruh desa muneng hingga Probolinggo.
”Sudah banyak konsumen yang minta kerupuk , tapi kita belum mampu memenuhinya. Produk kita sekarang ini sebagian besar untuk pasokan didaerah sekitar, itu pun masih kurang,” Meski lokasi usahanya tidak terlalu luas, berada persis di pinggiran sungai Seruway, namun usaha kerupuk ikan ini mampu mempekerjakan sekitar 21 orang, yaitu 15 orang sebagai pekerja produksi (pengolahan) dan 6 orang sebagai saleman. Sebagian besar pekerjanya adalah perempuan.
Diding memang memilih konsep ekonomi kerakyatan untuk bisnisnya tersebut. Baginya, lebih penting bila bisa memberdayakan masyarakat di desanya, ketimbang hanya sekedar maraih keuntungan.
”Bila masyarakat bisa kita berdayakan, otomatis bisnis kita juga akan maju. Bila bisnis maju, ya sudah pasti ada keuntungannya,” lanjut diding
Semangat itu pula yang mengawali bisnis kerupuk tersebut.
Menurutnya, dia memulai usaha karena rasa keprihatinannya melihat banyak orang yang menganggur.
Kini Diding sudah sukses memproduksi krupuk buatannya tinggal bagaimana memperbesar produksi dan memperluar pasar.
