Seperti kita ketahui Gerabah dibentuk dari bahan baku tanah liat, didapat dari daerah sekitar kampung. Tanah liat dari desa Besuk ini tanpa diolah pun sudah memenuhi syarat sebagai bahan baku gerabah.
Teknik pembuatan pembentukan barancetakan dilakukan dengan teknik pilin yaitu dengan membuat pilinan tanah yang panjang, kemudian dibentuk dengan dilingkarkan dan di tumpuk, sehingga membentuk seperti tabung. Kemudian baru dibentuk lagi dengan tangan sesuai dengan keinginan. Kemudian diketemukan teknik putar yang yang pemakaiannya dibantu oleh kaki atau tangan.
Untuk membuat gerabah berupa anglo (tempat menanak nasi) yang besar dilakukan dengan teknik pukul, yaitu memakai alat pemukul dari kayu yang disebut paddle dan landasannya disebut anvil. Biasanya untuk dasar anglo ini dibuat dengan teknik putar lambat. Untuk memperlebar bentuk, di bagian atas ditambah gumpalan tanah, dari luar di pukul dengan kayu, dari dalam ditahan oleh batu. Dengan demikian tanah lebih dipadatkan dan lebih kuat.
Gerabah yang dihasilkan di desa besuk salah satunya oleh Bapak Raqid Ababil yang memproduksi berbagai bentuk macam gerabah mulai anglo, wajan, dan berbagai macam bentuk untuk alat dapur, kualitas gerabah yang dibuat tidak diragukan lagi, kualitas pasti dijamin ujar Raqid, disaping tahan lama gerabah ini mempunyai nilai tradisional yang tinggi.
Meski kalah dengan peralatan modern, Raqid yakin produksinya tetap mampu bersaing dipasar sebab peminat gerabahnya mempunyai konsumen tertentu terutama dikalangan pedesaan. Setelah gentong terbentuk , untuk lebih indah, ditambah motif hias. Dari zaman dahulu telah dikenal gentong dengan hiasan yang dibuat dari torehan, cungkilan pukulan, dan lain-lain. Hasilnya berbentuk motif geometris, anyaman, tumpal, pilin, dan lain-lain. Ada kalanya dibuat motif baru berupa bunga ceplok yang ditempelkan, biasanya mengelilingi bagian luar gentong. Sejalan dengan perkembangan motif batik, dikembangkan pula motif kangkungan, awan berarak, matahari (berupa titik dengan garis memancar di sekelilingnya).
Gipsum terbentuk dalam kondisi berbagai kemurnian dan ketebalan yang bervariasi. Gipsum merupakan garam yang pertama kali mengendap akibat proses evaporasi air laut diikuti oleh anhidrit dan halit, ketika salinitas makin bertambah. Sebagai mineral evaporit, endapan gypsum berbentuk lapisan di antara batuan-batuan sedimen batugamping, serpih merah, batupasir, lempung, dan garam batu, serta sering pula berbentuk endapan lensa-lensa dalam satuan-satuan batuan sedimen. Gipsum dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat terjadinya , yaitu: endapan
danau garam, berasosiasi dengan belerang, terbentuk sekitar fumarol volkanik, efflorescence pada tanah atau goa-goa kapur, tudung kubah garam, penudung oksida besi (gossan) pada endapan pirit di daerah batu gamping.
Dari Gipsun inilah Suyono pemilik UD Gipsun Profile di Desa Kedwaung kecamatan Kuripan membuka usaha dibidang profile perlengkapan interior ruangan, karya Suyono sudah dikenala di berbagai daerah, gipsun suyono memang mempunyai keunikan teseniri selain profil ukiran yang mengikuti selera konsumen moder juga harganya terjangkau baik kalangan atas maupun bawah, tidak heran sebagian ruangan rumah di Probolinggo dipasang Gipsum Suyono ini.
Model yang dijual beraneka ragam ada pinggiran dengan motif ikir majapahit atau gipsun llingkar untuk mempercantik gantungan lampu, Suyono disamping menjual juga melayani pemasangannya
Kini, kisah cinta itu berbuah sudah. Abdul Hamid sukses memelihara kupu-kupu dengan cara menangkarkan. Dan, itu juga berarti bisnis bernilai puluhan juta rupiah. Seekor kupu-kupu langka ia jual antara Rp 900.000 dan Rp 950.000.
Semua itu berkat kerja keras Abdul Hamid yang tak kenal putus asa. Ketika pertama kali mengikuti kupu-kupu ke sarangnya dan membawa pulang empat telur, percobaannya gagal total.
Akhirnya, ia tahu, misalnya, setiap kupu-kupu ternyata punya tanaman tertentu untuk menu ulatnya, kupu-kupu juga tidak boleh telat makan. Sebagian besar kupu-kupu menyukai bunga berwarnajingga, kuning, oranye, atau merah merekah. Jenis tanaman yang paling disukai kupu-kupu biasanya beraroma menyengat, seperti soka, kenikir, kembang kertas, kamboja jepang, kacapiring, cempaka, mawar, melati, sedap malam, dan kemuning. Kupukupu jenis Papilio, yang kebanyakan bersayap indah, umumnya menyukai bunga beraroma lemon.
Ada enam jenis kupu-kupu lain yang juga tergolong langka yang juga ia tangkarkan: tonos, Atopoera luxti, Papilio paris, Papilio memmum, Fineres, dan Crapium sarpedon.
Maka, secara tak langsung, Abdul Hamid di satu sisi ikut menyelamatkan kelahiran sejumlah kupu-kupu langka yang sebagian indah sayapnya, yaag sebagian lagi biasa-biasa saja. Di alam bebas belum tentu kupu-kupu yang menetas dari kepompong selamat — bisa dimakan burung, serangga lain, dan sebagainya. Tapi, karena yang lahir di kandanya ,ia tak dikembalikan ke hutan dan ia pun tak menangkapkan dalam arti kata sebenarnya–kupu-kupu dipelihara sampai bertelur di kandang–bisa juga dikatakan tak menambah apa pun bagi populasi kupu-kupu di Hutan Argopuro.
Juga belum jelas, adakah pembeli kupu-kupu langka, juga menangkapnya atau sekadar dijadikan koleksi dan bahan penelitian sampai kupu-kupu itu mati. Para pembeli kebanyakan memang pakar serangga atau pencinta lingkungan hidup, khusunya serangga.
Sebenarnya, menangkarkan kupu-kupu langka yang hidup di dataran tinggi takmenyita waktu sepanjang tahun. Masa berkembang biak kupu-kupu jenis ini hanya sekitar dua bulan dan masa penetasan ada di awal musim hujaul. Ditambah sekitar sebulan menyiapkan kandang berukuran 3 x 2,5 x 2,5 meter, yang diisi berbagai tanarnan perdu dan bunga untuk makanan ulat dan kupu-kupu bekerja tiga bulan untuk menangkarkan kupu-kupu itu. Tiga bulan selanjutnya adalah masa menanti pembeli. Hariyanto mengaku, rata-rata ia bisa memperoleh untung Rp 10 juta dalam dua kali penangkaran.
Bila Anda sempat menengok kandang penangkaran itu, jangan kaget bila di antara pepohonan perdu yang kebanyakan pohon kembang soka tampak batu-batu. Kata sang penangkar, kupu-kupu suka hinggap di batu dan berjemur di panas matahari. Dan selain mengisap nektar (cairan gula yang ada pada mahkota bunga), ada juga kupu-kupu yang minum dan mengekstraksi garam dari tanah yang lembap.
Seperti sudah disebutkan, sejauh ini sebenarnya Abdul Hamid hanya “memindahkan” penetasan telur atau pemeliharaan ulat dari hutan ke kandang di halaman rumahnya. Bila dipelihara mulai dari telur, telur itu ditempelkan pada daun. Agar telur aman dari predator bisa disimpan dalam plastik bekas air kemasan dan ditempatkan dalam lemari yang diberi kelambu–kalau menetas, ulatnya tidak merayap ke mana-mana. Bila dipelihara dari kepompong, setiap pagi kepompong itu harus disemprot agar kelembapan kulitnya yang biasanya selalu terkena embun di alam bebas terjaga. Kalau kulit kepompong kering, kupu-kupu muda sulit keluar dari “selimut”.
Sudah juga disinggung, kupu-kupu di kandang tak lamakeberadaannya sehingga tak sampai bertelur. Bila kupu-kupu itu tak laku dibeli orang, ini agak kejam juga–disuntik mati. Jasadnya, yang tetap indah, dijadikan isi berbagai hiasan dari resin.
Bagaimana pemasarannya ? kupu-kupu yang diawetkannya, mencetaknya sejumlah yang diperlukan, lalu di tiap belakang foto itu ada pemberitahuan: barangsiapa ingin beli kupukupu hidup atau mati, silakan datang ke rumahnya; di bawahnya ada narna dan alamatnya.
Usaha yang digeluti Nito panggilan panggilan Anshori pria asli Wonomerto memang tergolong cukup langka bagaimana tidak produk yang dihasilkan Pak Nito lain dari pada usaha yang digeluti kebanyakan orang, Pak Nito memproduksi tali “Tongar” tali yang berukuran 3 meteran dengan kombinasi warna merah biru dikhususkan untuk seekor sapi yang dililitkan dihidung sampai kebelakang.
Tali Tongar memang asing bagi telinga orang awam, tapi bagi pemilik sapi tali ini merupakan kebutuhan untuk mengendalikan keseimbangan sapi-sapi yang dimiliki para peternak, tali disamping berperan untuk mejaga keseimbangan sapi juga untuk menjaga keamanan sapi jika sewaktu waktu llepas.
Tongar diproduksi oleh Pak Nito sejak sepuluh tahun yang lalu, berbahan tali raffia yang khusus didatangkan dari Surabaya, tali raffia diolah , dipilah dan dianyam sedemikian rupa hingga membentuk tali yang kuat dan sintetis.
Menurut Nito “ sebulan ia mampu memproduksi 5 ton tali yang sudah dispesan oleh pembelinnya, selain tali tongar saya juga memproduksi tali raffia yang digulung kecil-kecil untuk dijual kembali”
Bagi Nito ayah dua putra ini, menggeluti usaha tali sudah merupakan garis hidupnya, dengan usaha ini ia sudah mampu mencukupi keluarga dan 12 karyawannya, apalagi usahanya masih belum ada pesaing, jadi ia satu-satunya yang memproduksi tongar ini.
Tongar Nito dipasarkan keberbagai daerah terutama daerah madura, Surabaya, dan Pasuruan, yang menjadi kendala bagi Nito adalah kesediaaan bahan baku, kadang-kadang begitu pesanan mulai mengalir bahan baku yang dipesan masih belum ada, hal ini yang menghambat hasil produksinya, kalau sudah begini kami hanya bisa menunggu bersama 12 karyawannya.
Tali Tongar memang asing bagi telinga orang awam, tapi bagi pemilik sapi tali ini merupakan kebutuhan untuk mengendalikan keseimbangan sapi-sapi yang dimiliki para peternak, tali disamping berperan untuk mejaga keseimbangan sapi juga untuk menjaga keamanan sapi jika sewaktu waktu llepas.
Tongar diproduksi oleh Pak Nito sejak sepuluh tahun yang lalu, berbahan tali raffia yang khusus didatangkan dari Surabaya, tali raffia diolah , dipilah dan dianyam sedemikian rupa hingga membentuk tali yang kuat dan sintetis.
Menurut Nito “ sebulan ia mampu memproduksi 5 ton tali yang sudah dispesan oleh pembelinnya, selain tali tongar saya juga memproduksi tali raffia yang digulung kecil-kecil untuk dijual kembali”
Bagi Nito ayah dua putra ini, menggeluti usaha tali sudah merupakan garis hidupnya, dengan usaha ini ia sudah mampu mencukupi keluarga dan 12 karyawannya, apalagi usahanya masih belum ada pesaing, jadi ia satu-satunya yang memproduksi tongar ini.
Tongar Nito dipasarkan keberbagai daerah terutama daerah madura, Surabaya, dan Pasuruan, yang menjadi kendala bagi Nito adalah kesediaaan bahan baku, kadang-kadang begitu pesanan mulai mengalir bahan baku yang dipesan masih belum ada, hal ini yang menghambat hasil produksinya, kalau sudah begini kami hanya bisa menunggu bersama 12 karyawannya.
Kekhasan corak industri kayu jati di kawasan Probolinggo, hingga Pasuruan mengundang minat pembeli asing. Terutama yang kini banyak diburu adalah kombinasi antara mebel kuno dengan menambah bahan baku baru (reproduksi)Telah lama produksi hasil mebel kayu jati di kawasan Pantura ini selalu menjadi incaran pedagang Bali. Yang kemudian oleh pedagang diexpor lagi ke mancanegara dengan harga yang tentu jauh lebih mahal. Bahkan , kini pedagang Balipun harus bersaing keras dengan para pedagang asing yang mulai aktif mendatangi para industri mebel.
Sudah menjadi hal yang llumrah munculnya para ”tengkulak asing ” yang berkeliling ke kampung-kampung mencari usaha mebel antiq untuk dijual lagi ke luar negeri.
Salah satu mebel yang diburu pemain asing adalah ” Pegon Madura Antique” milik Muklhis, dengan lokasi di pinggir jalan
pantura tepat di Jalan Raya Lemah Kembar Kecamatan Sumberasih Probolinggo tidak heran produk mebelnya diburu para kolektor diluar negeri apalagi showroom milik mebel paling menonjol dan memiliki area luas jadi tiap orang melewati jalan ini pasti mengetahui keberadaan Showroom milik Mukhlis.
Produk yang disajikan Mebel ini memang tergolong besar dan bermacam variasi bentuk mebel dengan kombinasi tradisional serta terkesan asli. Hal ini mendorong peminat asing untuk memburu mebel milik Mukhils.
Bentuk meja antiq dengan panjang hampir lima meter serta daun pintu jati yang berukuran dua kali tiga meter menjadil daya tarik bagi ebagian orang, ditambah berbagai jenis meja kursi, almari, meja rias, tempat tidur yang mempunyai corak asli tradisional melengkapi showroomnya.
Menurut Muklhis ” untuk mutu dan kualitas produsinya tidak ada yang meragukan, banyak konsumen mengakui produknya sudah mencapai standar mutu yang sempurna, ditambah dengan sentuhan ala kerajaan kuno” ujarnya bangga
”saat ini penjualannya memmang agak menurun namun permintaan akan mebelnya masih tetap ada terutama untuk expor keluar negeri.
Sudah menjadi hal yang llumrah munculnya para ”tengkulak asing ” yang berkeliling ke kampung-kampung mencari usaha mebel antiq untuk dijual lagi ke luar negeri.
Salah satu mebel yang diburu pemain asing adalah ” Pegon Madura Antique” milik Muklhis, dengan lokasi di pinggir jalan
pantura tepat di Jalan Raya Lemah Kembar Kecamatan Sumberasih Probolinggo tidak heran produk mebelnya diburu para kolektor diluar negeri apalagi showroom milik mebel paling menonjol dan memiliki area luas jadi tiap orang melewati jalan ini pasti mengetahui keberadaan Showroom milik Mukhlis.
Produk yang disajikan Mebel ini memang tergolong besar dan bermacam variasi bentuk mebel dengan kombinasi tradisional serta terkesan asli. Hal ini mendorong peminat asing untuk memburu mebel milik Mukhils.
Bentuk meja antiq dengan panjang hampir lima meter serta daun pintu jati yang berukuran dua kali tiga meter menjadil daya tarik bagi ebagian orang, ditambah berbagai jenis meja kursi, almari, meja rias, tempat tidur yang mempunyai corak asli tradisional melengkapi showroomnya.
Menurut Muklhis ” untuk mutu dan kualitas produsinya tidak ada yang meragukan, banyak konsumen mengakui produknya sudah mencapai standar mutu yang sempurna, ditambah dengan sentuhan ala kerajaan kuno” ujarnya bangga
”saat ini penjualannya memmang agak menurun namun permintaan akan mebelnya masih tetap ada terutama untuk expor keluar negeri.
Memasuki rumah Sarimin di Desa Petunjungan Kecamatan Paiton, tidak menyangka bahwa rumah tersebut memiliki usaha mapan. Sebab, di lihat dari rumahnya yang sangat sederhana, hampir tidak mungkin Sarimin si pengerajin pande gong mampu menghasilkan jutaan rupiah.
Dari pembuatan bak mandi, gayung, ceret dan dandang dengan bahan dasar lembaran seng, Sarimin mampu mengantongi Rp. 4 juta setiap bulannya. Walaupun bukan angka yang besar bagi kebanyakan orang kota, Namun untuk ukuran keluarga Sarimin yang tinggal di desa terpencil di sebelah selatan Paiton, uang sebesar itu merupakan hal yang istimewa.
Sebelum menjadi pande gong, Sarimin yang memberi lebel UD. Sayang pada hasil karyanya, sempat menjadi pande besi di Kecamatan Besuk. Bermodal keterampilan pande besi tersbeut, dua tahun kemudian, Sarimin muda berpikir untuk beralih profesi menjadi pande gong. Namun profesi itu, dilakoninya sendiri bersama keluarganya dengan membuka usaha home industri.
Dirintis mulai tahun 1975, usaha pande gong Sarimin terus berkembang. Saat ini seantero Probolinggo telah mengenal dan berlangganan bak air, gayung, ceret dan dandang. “Tapi yang paling laris di Paiton sini bak air. Karena untuk bak air saya memang membuat khusus untuk menyiram tembakau dengan model runcing di bagian samping depan, “urainya bersemangat.
Perhitungan Sarimin untuk membuat bak air tembakau memang tepat. Pasalnya hampir sebagian besar masyarakat Paiton adalah Petani tembakau. Sehingga pesanan setiap harinya tidak pernah sepi. Jika di awal usahanya, Sarimin hanya mampu menghasilkan Rp. 1.400.000 / bulannya, kini sudah mencapai Rp. 4.000.000 / bulannya.
“Tekad untuk mendirikan usaha ini mamang karena faktor ekonomi. Alhamdulillah penghasilan sebesar itu, bagi saya sangat cukup untuk menghidupi istri, anak, menantu dan seorang cucu saya, “ucapnya bersyukur.
Selain karena faktor ekonomi, Sarimin mengaku usaha membuat bak air dll, dia tekuni selama puluhan tahun juga karena hobby. Ia merasa enjoy karena pembuatan bak air mudah. Dalam dua hari dari satu lembar seng yang dibelinya dengan harga Rp. 1 juta, ia bisa membuat 30 bak air besar. Kegiatan itu bisa dilakukan sambil bercanda dengan cucunya.
“Bagaimana tidak enjoy, saya bekerja sambil bercengkrama dengan keluarga dan ngudang cucu, makanya saya awet muda khan ?,”katanya berkelakar.
Namun, di balik kesederhananya itu, Sarimin mempunyai harapan besar, untuk mengikuti pelatihan-pelatihan terutama pelatihan pande besi. Agar ia mampu berkreasi mengikuti perkembangan jaman. Tentunya agar usahanya semakin meningkat baik dari dari segi kualitas juga finansial.
Karena itu, dia juga sangat berharap Pemkab bisa memberikan bantuan modal untuk mengembangkan usahanya. Sehingga hasil karya bisa di kenal hingga luar daerah.

Dari pembuatan bak mandi, gayung, ceret dan dandang dengan bahan dasar lembaran seng, Sarimin mampu mengantongi Rp. 4 juta setiap bulannya. Walaupun bukan angka yang besar bagi kebanyakan orang kota, Namun untuk ukuran keluarga Sarimin yang tinggal di desa terpencil di sebelah selatan Paiton, uang sebesar itu merupakan hal yang istimewa.
Sebelum menjadi pande gong, Sarimin yang memberi lebel UD. Sayang pada hasil karyanya, sempat menjadi pande besi di Kecamatan Besuk. Bermodal keterampilan pande besi tersbeut, dua tahun kemudian, Sarimin muda berpikir untuk beralih profesi menjadi pande gong. Namun profesi itu, dilakoninya sendiri bersama keluarganya dengan membuka usaha home industri.
Dirintis mulai tahun 1975, usaha pande gong Sarimin terus berkembang. Saat ini seantero Probolinggo telah mengenal dan berlangganan bak air, gayung, ceret dan dandang. “Tapi yang paling laris di Paiton sini bak air. Karena untuk bak air saya memang membuat khusus untuk menyiram tembakau dengan model runcing di bagian samping depan, “urainya bersemangat.
Perhitungan Sarimin untuk membuat bak air tembakau memang tepat. Pasalnya hampir sebagian besar masyarakat Paiton adalah Petani tembakau. Sehingga pesanan setiap harinya tidak pernah sepi. Jika di awal usahanya, Sarimin hanya mampu menghasilkan Rp. 1.400.000 / bulannya, kini sudah mencapai Rp. 4.000.000 / bulannya.
“Tekad untuk mendirikan usaha ini mamang karena faktor ekonomi. Alhamdulillah penghasilan sebesar itu, bagi saya sangat cukup untuk menghidupi istri, anak, menantu dan seorang cucu saya, “ucapnya bersyukur.
Selain karena faktor ekonomi, Sarimin mengaku usaha membuat bak air dll, dia tekuni selama puluhan tahun juga karena hobby. Ia merasa enjoy karena pembuatan bak air mudah. Dalam dua hari dari satu lembar seng yang dibelinya dengan harga Rp. 1 juta, ia bisa membuat 30 bak air besar. Kegiatan itu bisa dilakukan sambil bercanda dengan cucunya.
“Bagaimana tidak enjoy, saya bekerja sambil bercengkrama dengan keluarga dan ngudang cucu, makanya saya awet muda khan ?,”katanya berkelakar.
Namun, di balik kesederhananya itu, Sarimin mempunyai harapan besar, untuk mengikuti pelatihan-pelatihan terutama pelatihan pande besi. Agar ia mampu berkreasi mengikuti perkembangan jaman. Tentunya agar usahanya semakin meningkat baik dari dari segi kualitas juga finansial.
Karena itu, dia juga sangat berharap Pemkab bisa memberikan bantuan modal untuk mengembangkan usahanya. Sehingga hasil karya bisa di kenal hingga luar daerah.
Tak semua orang mempunyai mimpi untuk membuat daerahnya lebih dikenal masyarakat dengan ciri khas potensi daerahnya. Salah satunya, Hj. Chotimatul Husnah. Ia mempunyai cita-cita besar untuk menjadikan Paiton Kota Batik. Terinspirasi dari keinginan untuk melanjutkan warisan nenek moyang di daerah Paiton tempo doloe, yang rata-rata adalah pengerajin batik. Maka sejak 3 tahun
lalu, ibu 3 orang anak ini, memulai usahanya memproduksi batik tradisional khas Probolinggo, dengan lebel UD. Mutiara.
Menurut dia tidak mudah memuai usaha batik.Karena tidak semua orang bisa dan mau membatik. Karena itu, setahun sebelum memulai usaha batinya, ia lebih dulu mengikuti berbagai pelatihan batik sekaligus magang di luar kota. Seperti di Pekalongan, Banyuwangi bahkan Yogyakarta.
Dari pelatihan dan magang tersebut ia muali mencari tenaga kerja di sekitar tempat tinggalnya yakni Desa Sukodadi Kecamatan Paiton. Itupun tidak mudah. Sebab, tidak semua orang bisa dan mau mbatik.
“Orang yang mau mbatik itu harus disiplin, sabar, tekun dan ikhlas,”terangnya menerawang.Dari 10 orang tenaga kerja kini usaha batiknya terus berkembang. Sehingga ia pun membutuhkan 25 tenaga kerja, untuk proses produksi mulai dari pengecapan, pewarnaan, nglorod hingga penjemuran.

sehari ia mampu memproduksi 25 – 30 potong kain batik. Dengan harga per potong, Rp. 40.000. Sehingga dalam sebulan produksi batik Mutiara rata-rata mencapai 900 potong. Namun di moment tertentu, seperti pemilu baru-baru ini, pesanan bisa melonjak hingga 1.500 potong.Tak heran omzet yang ia dapat pun mencapai Rp. 30.000 – Rp. 60.000 setiap bulannya.
Selain melayani pesanan lokal, ibu yang masih terlihat muda di usia menjelang 40 tahun ini, juga melayani pesanan dari luar daerah seperti Pasuruan dan Lumajang.
Ke depan, ia mempunyai keinginan untuk lebih fokus ke batik painting, yang sekarang sedang menjadi trend masyarakat. Dengan batik painting itu pula Chotimatul berencana membidik dunia pendidikan melalui produksi seragam batik SD hingga SMA.
Penghargaan Sebagai Perempuan Inovatif
Memiliki suami yang juga sibuk di bidang jasa pemberangkatan haji dan 3 orang anak yang masih kecil, tidak menghalangi Hj. Chtimatul untuk berkarya dan berinovasi. Melalui ide-ide kreatifnya, ia mampu memberdayakan kaum perempuan di desa dan sekitarnya untuk memperoleh penghasilan keluarga. Selain memiliki usaha batik, ia juga mempunyai 3 kelompok usaha binaan yang tersebar di Sukodadi dan sekitarnya.
Diantaranya, usaha produksi rengginang, pengerajin kulit kerang dan payet. Tidak hanya memberikan pembinaan, Hj. Chotimatul yang dalam penampilannya selalu menutup aurat ini, juga membantu pemasaran dari hasil usaha kelompok binaannya
Dari usaha kerasnya memperdayakan ekonomi mayarakat lokal tersebut, tahun 2006 lalu ia dinobatkan sebagai Perempuan Inovatif oleh Kantor Pemberdayaan Perempuan Propinsi Jawa Timur. Melalui Program Pembangunan Pemberdayaan Ekonomi Lokal akhirnya ia memperoleh bantuan Dana sebesar 25 juta rupiah.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas penghargaan ini. Walaupun jujur saya tidak terpikir sama sekali usaha saya untuk membantu masyarakat dihargai oleh pemerintah,”urainya bersemangat.

Namun di tengah kebahagiaannya itu, Hj. Chotimatul masih menyimpan impian dan cita-cita besar yang belum terwujud yakni menjadikan Paiton sebagai Kota Batik. SELAMAT BU, TERUSLAH BERJUANG UNTUK CITA-CITAMU !!!!.
lalu, ibu 3 orang anak ini, memulai usahanya memproduksi batik tradisional khas Probolinggo, dengan lebel UD. Mutiara.
Menurut dia tidak mudah memuai usaha batik.Karena tidak semua orang bisa dan mau membatik. Karena itu, setahun sebelum memulai usaha batinya, ia lebih dulu mengikuti berbagai pelatihan batik sekaligus magang di luar kota. Seperti di Pekalongan, Banyuwangi bahkan Yogyakarta.
Dari pelatihan dan magang tersebut ia muali mencari tenaga kerja di sekitar tempat tinggalnya yakni Desa Sukodadi Kecamatan Paiton. Itupun tidak mudah. Sebab, tidak semua orang bisa dan mau mbatik.
“Orang yang mau mbatik itu harus disiplin, sabar, tekun dan ikhlas,”terangnya menerawang.Dari 10 orang tenaga kerja kini usaha batiknya terus berkembang. Sehingga ia pun membutuhkan 25 tenaga kerja, untuk proses produksi mulai dari pengecapan, pewarnaan, nglorod hingga penjemuran.
sehari ia mampu memproduksi 25 – 30 potong kain batik. Dengan harga per potong, Rp. 40.000. Sehingga dalam sebulan produksi batik Mutiara rata-rata mencapai 900 potong. Namun di moment tertentu, seperti pemilu baru-baru ini, pesanan bisa melonjak hingga 1.500 potong.Tak heran omzet yang ia dapat pun mencapai Rp. 30.000 – Rp. 60.000 setiap bulannya.
Selain melayani pesanan lokal, ibu yang masih terlihat muda di usia menjelang 40 tahun ini, juga melayani pesanan dari luar daerah seperti Pasuruan dan Lumajang.
Ke depan, ia mempunyai keinginan untuk lebih fokus ke batik painting, yang sekarang sedang menjadi trend masyarakat. Dengan batik painting itu pula Chotimatul berencana membidik dunia pendidikan melalui produksi seragam batik SD hingga SMA.
Penghargaan Sebagai Perempuan Inovatif
Memiliki suami yang juga sibuk di bidang jasa pemberangkatan haji dan 3 orang anak yang masih kecil, tidak menghalangi Hj. Chtimatul untuk berkarya dan berinovasi. Melalui ide-ide kreatifnya, ia mampu memberdayakan kaum perempuan di desa dan sekitarnya untuk memperoleh penghasilan keluarga. Selain memiliki usaha batik, ia juga mempunyai 3 kelompok usaha binaan yang tersebar di Sukodadi dan sekitarnya.
Diantaranya, usaha produksi rengginang, pengerajin kulit kerang dan payet. Tidak hanya memberikan pembinaan, Hj. Chotimatul yang dalam penampilannya selalu menutup aurat ini, juga membantu pemasaran dari hasil usaha kelompok binaannya
Dari usaha kerasnya memperdayakan ekonomi mayarakat lokal tersebut, tahun 2006 lalu ia dinobatkan sebagai Perempuan Inovatif oleh Kantor Pemberdayaan Perempuan Propinsi Jawa Timur. Melalui Program Pembangunan Pemberdayaan Ekonomi Lokal akhirnya ia memperoleh bantuan Dana sebesar 25 juta rupiah.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas penghargaan ini. Walaupun jujur saya tidak terpikir sama sekali usaha saya untuk membantu masyarakat dihargai oleh pemerintah,”urainya bersemangat.
Namun di tengah kebahagiaannya itu, Hj. Chotimatul masih menyimpan impian dan cita-cita besar yang belum terwujud yakni menjadikan Paiton sebagai Kota Batik. SELAMAT BU, TERUSLAH BERJUANG UNTUK CITA-CITAMU !!!!.
Kekayaan alam dan budaya yang begitu besar bila dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat mampu memberikan manfaat yang tak terhingga, terutama untuk meningkatkan pendapatan keluarga.
Bahkan tumbuhan yang semula dianggap tidak berguna dengan sentuhan seni tinggi mampu bernilai jual tinggi, bahkan mampu
mengangkat derajat seseorang yang semula hanya sebagai petani biasa hingga menjadi seorang pengusaha cukup sukses, dan mampu menopang kehidupan keluarga.
Sumarwi merupakan contoh pengusaha kerajinan sukses asal Desa Pesawahan Kec. Tiris, Kabupaten Probolinggo, selain mampu menjadi seorang pengusaha kerajinan yang cukup sukses ia juga mampu memotivasi masyarakat sekitar termasuk pembantu rumah tangganya untuk menjadi pengrajin, sekaligus pengusaha kerajinan yang sukses.
Selain membantu masyarakat sekitar untuk sama-sama memanfaatkan potensi yang ada di Kabupaten Probolinggo untuk dijadikan kerajianan tangan yang enak dipandang mata, Sumarwi yang kini sukses membangun usaha kerajinan songkok bambu bernilai seni, juga menghimpun para pengrajin untuk bisa sama-sama memasarkan hasil produk yang telah mereka buat.
Sukses yang sekarang diperoleh Sumarwi bukan tanpa hambatan. Jatuh bangun usaha yang dirintisnya mulai dari bawah ini pernah mengalami kegagalan yang membuat kami sekeluarga harus hidup prihatin. Namun berkat kerja keras, disiplin dan prinsip tidak mudah menyerah akhirnya impian untuk dapat mendirikan usaha kerajinan bisa terwujud seperti sekarang ini.
Songkok yang dihasilkan dibagi berbagai jenis dan warna yang khas, songkok bambu Semarwi asli Tiris merupakan songkok lain dari yang lain, biasanya songkok identik dengan warna hitam, produk nya warna asli bambu coklat kekuning-kuningan.
Bahkan tumbuhan yang semula dianggap tidak berguna dengan sentuhan seni tinggi mampu bernilai jual tinggi, bahkan mampu
mengangkat derajat seseorang yang semula hanya sebagai petani biasa hingga menjadi seorang pengusaha cukup sukses, dan mampu menopang kehidupan keluarga.
Sumarwi merupakan contoh pengusaha kerajinan sukses asal Desa Pesawahan Kec. Tiris, Kabupaten Probolinggo, selain mampu menjadi seorang pengusaha kerajinan yang cukup sukses ia juga mampu memotivasi masyarakat sekitar termasuk pembantu rumah tangganya untuk menjadi pengrajin, sekaligus pengusaha kerajinan yang sukses.
Selain membantu masyarakat sekitar untuk sama-sama memanfaatkan potensi yang ada di Kabupaten Probolinggo untuk dijadikan kerajianan tangan yang enak dipandang mata, Sumarwi yang kini sukses membangun usaha kerajinan songkok bambu bernilai seni, juga menghimpun para pengrajin untuk bisa sama-sama memasarkan hasil produk yang telah mereka buat.
Sukses yang sekarang diperoleh Sumarwi bukan tanpa hambatan. Jatuh bangun usaha yang dirintisnya mulai dari bawah ini pernah mengalami kegagalan yang membuat kami sekeluarga harus hidup prihatin. Namun berkat kerja keras, disiplin dan prinsip tidak mudah menyerah akhirnya impian untuk dapat mendirikan usaha kerajinan bisa terwujud seperti sekarang ini.
Songkok yang dihasilkan dibagi berbagai jenis dan warna yang khas, songkok bambu Semarwi asli Tiris merupakan songkok lain dari yang lain, biasanya songkok identik dengan warna hitam, produk nya warna asli bambu coklat kekuning-kuningan.

Alat Dapur Produk Muchlis Tak Kalah dengan Produk Modern
Probolinggo - Seiring perkembangan teknologi, alat dapur serba otomatis kini banyak mewarnai pasaran. Namun kemajuan zaman ini tidak serta merta membuat produsen tradisional menyerah pada keadaan. Di Kabupaten Probolinggo misalnya, seorang produsen alat dapur mampu bertahan meski hanya bekerja dengan alat sederhana.
Aktivitas produksi alat dapur yang dilakukan Muchlis, warga Desa Pajurangan, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo tersebut telah ditekuninya sejak tahun 1995. Ia memproduksi berbagai jenis alat dapur menggunakan alat-alat sederhana.
Meski alat yang digunakan jauh tertinggal dibanding alat pabrikan, namun Muchlis tidak berkecil hati. Bahkan, dia mengaku produksinya memiliki konsumen fanatik. Dibantu 12 karyawannya, Muchlis mengolah sendiri bahan baku dasar berbentuk lempengan aluminium yang dibelinya dari Surabaya. Untuk menjamin kebersihan produksi, dia juga melakukan sistem pemanasan menggunakan soda api. Eksistensi usaha Muchlis putra asli Sidoarjo ini tidak sekadar bermodal kenekatan. Meski hanya mengantongi ijazah SLTA, keahliannya di bidang pengelasan sangat mendukung kualitas
barang yang diciptakan. Tidak heran, jika alat dapur berbahan dasar aluminium seperti alat penggorengan, tungku hingga alat menanak nasi memiliki nilai lebih dibanding produk modern. Selain lapisannya lebih tebal, alat dapur buatannya juga tahan lama. Karena pertimbangan kualitas, Muchlis mengaku tidak tertarik mengembangkan usahanya menggunakan alat modern. Sebab, dengan alat produksi sederhana pun omzet penjualan produknya telah mencapai hasil jutaan rupiah per bulan
Muchlis berharap penjualannya akan mempunyai prospek yang besar terutama untuk pemasaraan didaerah probolinggo dan sekitarnya.
Aktivitas produksi alat dapur yang dilakukan Muchlis, warga Desa Pajurangan, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo tersebut telah ditekuninya sejak tahun 1995. Ia memproduksi berbagai jenis alat dapur menggunakan alat-alat sederhana.
Meski alat yang digunakan jauh tertinggal dibanding alat pabrikan, namun Muchlis tidak berkecil hati. Bahkan, dia mengaku produksinya memiliki konsumen fanatik. Dibantu 12 karyawannya, Muchlis mengolah sendiri bahan baku dasar berbentuk lempengan aluminium yang dibelinya dari Surabaya. Untuk menjamin kebersihan produksi, dia juga melakukan sistem pemanasan menggunakan soda api. Eksistensi usaha Muchlis putra asli Sidoarjo ini tidak sekadar bermodal kenekatan. Meski hanya mengantongi ijazah SLTA, keahliannya di bidang pengelasan sangat mendukung kualitas
barang yang diciptakan. Tidak heran, jika alat dapur berbahan dasar aluminium seperti alat penggorengan, tungku hingga alat menanak nasi memiliki nilai lebih dibanding produk modern. Selain lapisannya lebih tebal, alat dapur buatannya juga tahan lama. Karena pertimbangan kualitas, Muchlis mengaku tidak tertarik mengembangkan usahanya menggunakan alat modern. Sebab, dengan alat produksi sederhana pun omzet penjualan produknya telah mencapai hasil jutaan rupiah per bulan
Muchlis berharap penjualannya akan mempunyai prospek yang besar terutama untuk pemasaraan didaerah probolinggo dan sekitarnya.
PANDAI besi di Desa Tandun Sentul, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, boleh dikata bekerja dengan naluri. Mereka menyesuaikan produksinya dengan situasi pasar. Misalnya, saat petani turun ke sawah, maka produksi yang diutamakan adalah perkakas untuk pertanian, seperti cangkul, sekop, sabit, dan garu.
Uniknya, selain sebagai pandai besi, mereka juga petani. Mereka tahu mengatur waktu kapan saatnya harus bertani, dan kapan saatnya berada di dapur pembakaran besi menjadi pandai besi. Tentu saja sebagai petani tradisional mereka membuat perkakas bertani untuk keperluan diri sendiri.
Salah satu hasil produksi perkakas pertanian yang terkenal dari Desa ini adalah sekop/pacul yang kualitasnya tak kalah dengan barang impor buatan Cina atau Taiwan. Kuat dan tangguh serta bentuknya disesuaikan dengan keinginan para petani Lumbang dan daerah sekitarnya. Karena kualitasnya dan banyak dicari oleh petani maka Wagito (40) pembuatnya berani menjaga kulaitas produknya . Selain sekop, Wagito juga membuat cangkul, garu, sabit, dan berbagai perkakas bertani tradisional lainnya.
Meski produknya bermutu dan pasarnya luas, namun usaha itu nampak sulit berkembang karena keterbatasan teknologi dan modal.
Wagito memang harus bekerja dengan naluri. Artinya kalau akan musim sawah, mereka pasti membuat perkakas besi untuk bertani padi. Kalau akan memasuki makmeugang (hari memotong bulan puasa), mereka membuat pisau dan parang. Pokoknya, produk mereka disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Meskipun begitu tetap ada spesialisasi produk karena sudah dikenal mutunya.
Pemasaran produknya juga tidak sulit karena hampir semua perkakas besi untuk bertani dan perkakas rumah tangga sudah lama terkenal karena mutunya itu. Para pedagang setiap hari datang membeli berbagai perkakas dan kemudian menjualnya lagi ke pengecer toko atau kedai berbagai kota dan desa hampir seluruh Probolinggo
Tak jarang pada musim bertani atau sedang ada pameran kesenian, para pedagang lebih dulu memesannya dalam jumlah besar dengan pembayaran di muka. Pesanan dalam jumlah besar, misalnya, untuk souvenir, rencong, pedang , pisau, dan perkakas rumah tangga.
Uniknya, selain sebagai pandai besi, mereka juga petani. Mereka tahu mengatur waktu kapan saatnya harus bertani, dan kapan saatnya berada di dapur pembakaran besi menjadi pandai besi. Tentu saja sebagai petani tradisional mereka membuat perkakas bertani untuk keperluan diri sendiri.
Salah satu hasil produksi perkakas pertanian yang terkenal dari Desa ini adalah sekop/pacul yang kualitasnya tak kalah dengan barang impor buatan Cina atau Taiwan. Kuat dan tangguh serta bentuknya disesuaikan dengan keinginan para petani Lumbang dan daerah sekitarnya. Karena kualitasnya dan banyak dicari oleh petani maka Wagito (40) pembuatnya berani menjaga kulaitas produknya . Selain sekop, Wagito juga membuat cangkul, garu, sabit, dan berbagai perkakas bertani tradisional lainnya.
Meski produknya bermutu dan pasarnya luas, namun usaha itu nampak sulit berkembang karena keterbatasan teknologi dan modal.
Wagito memang harus bekerja dengan naluri. Artinya kalau akan musim sawah, mereka pasti membuat perkakas besi untuk bertani padi. Kalau akan memasuki makmeugang (hari memotong bulan puasa), mereka membuat pisau dan parang. Pokoknya, produk mereka disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Meskipun begitu tetap ada spesialisasi produk karena sudah dikenal mutunya.
Pemasaran produknya juga tidak sulit karena hampir semua perkakas besi untuk bertani dan perkakas rumah tangga sudah lama terkenal karena mutunya itu. Para pedagang setiap hari datang membeli berbagai perkakas dan kemudian menjualnya lagi ke pengecer toko atau kedai berbagai kota dan desa hampir seluruh Probolinggo
Tak jarang pada musim bertani atau sedang ada pameran kesenian, para pedagang lebih dulu memesannya dalam jumlah besar dengan pembayaran di muka. Pesanan dalam jumlah besar, misalnya, untuk souvenir, rencong, pedang , pisau, dan perkakas rumah tangga.
Berkunjung ke Probolinggo pastinya akan mengetahui bahwa kota ini terkenal akan buah mangga dan anggur, hampir disetiap rumah bila anda menyelusuri ruas jalan kota ini ditanami mangga dan anggur. Bagi para wisatawan mengunjungi daerah wisata tentu kurang sreg tanpa membawa pulang oleh-oleh buat keluarga & kerabat dirumah, namun bagi sebagian orang tentu
akan menemui kesulitan memilih oleh-oleh khas Probolinggo selain mangga dan anggur.
Di jalan raya Kebon Agung Km 125 Kraksaan-Probolinggo terdapat barang tempat penjual khas souvenir unik dari kayu jati asli. Nama toko itu cukup panjang sesuai yang tertera didepan nama depan toko yang terpampang tulisan ” Unique Antique, Primitive Furniture Cipta Graha Craft.
Didepan toko tak tampak dijumpai keramaian seperti layaknya sebuah toko, ternyata keramaian ada dibelakang toko yang juga menjadi bengkel kerja sekaligus show room. Toko ini terletak sebelah kiri jalan arah menuju Probolinggo dari Situbondo.
Toko ini menjual segala jenis souvenir unik terbuat dari bahan kayu jati asli, ada juga kalung-kalung dari kerang. Semua jenis souvenir unik disukai pelancong bule/turis. Ada buku telepon mini, Replika perahu dari kayu, asbak rokok, album foto, miniatur
burung yang kesemuanya terbuat dari bahan kayu jati asli. Selain itu ditoko ini juga menerima pesanan perabot rumah tangga seperti perhiasan pajangan, rak lampu, meja makan, kursi serta pajangan lain yang tentunya semua terbuat dari kayu jati asli yang didaur ulang dan memiliki nilai seni.
Menurut Irianto, usaha yang dijalankan baru berumur 5 tahun. ”Awalnya saya tertarik dengan kreasi seni dari kayu, kemudian saya berimprovisasi dan berkreasi dengan kayu jati ” ungkap Irianto yang memiliki latar belakang sebagai dr. Gigi.

Proses pembuatan semua barang yang ada ditoko Irianto, berbahan baku dari jati bekas pakai yang disuplai agen / pengepul dari daerah Probolinggo dan sekitarnya. Semua kayu yang dipilih haruslah memenuhi kriteria tertentu, seperti masih alami, tidak keropos, tidak dirayapi, serta punya texture asli. Kemudian dibentuklah kayu ini sesuai dengan pesanan atau sesuai imajinasi pemiliknya, tentu mengikuti pola asli dan tekno kayu jasti asli yang didapat. Design kayu tidak mengalami perubahan berarti, kayu bekas kandang kuda atau bekas kayu perahu, dibuatlah sesuai imajinasi didesign secara unik.
Harga per item barang antik ini sesuai dengan besar kecilnya ”barang seni” mulai dari Rp. 20.000,- sampai yang puluhan juta
rupiah. Usaha Irianto ini dijalankan secara profesional walaupun terkesan terlihat apa adanya, tapi untuk promosi dilakukan melalui berbagai media yang di suport dan difasilitasi oleh Pemerintah daerah.
Produk Irianto, sudah mempunyai beberapa show room dikota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan bali, bahkan kreasi seni ini sudah menjajaki dalam ajang pameran diberbagai negara.
akan menemui kesulitan memilih oleh-oleh khas Probolinggo selain mangga dan anggur.
Di jalan raya Kebon Agung Km 125 Kraksaan-Probolinggo terdapat barang tempat penjual khas souvenir unik dari kayu jati asli. Nama toko itu cukup panjang sesuai yang tertera didepan nama depan toko yang terpampang tulisan ” Unique Antique, Primitive Furniture Cipta Graha Craft.
Didepan toko tak tampak dijumpai keramaian seperti layaknya sebuah toko, ternyata keramaian ada dibelakang toko yang juga menjadi bengkel kerja sekaligus show room. Toko ini terletak sebelah kiri jalan arah menuju Probolinggo dari Situbondo.
Toko ini menjual segala jenis souvenir unik terbuat dari bahan kayu jati asli, ada juga kalung-kalung dari kerang. Semua jenis souvenir unik disukai pelancong bule/turis. Ada buku telepon mini, Replika perahu dari kayu, asbak rokok, album foto, miniatur
burung yang kesemuanya terbuat dari bahan kayu jati asli. Selain itu ditoko ini juga menerima pesanan perabot rumah tangga seperti perhiasan pajangan, rak lampu, meja makan, kursi serta pajangan lain yang tentunya semua terbuat dari kayu jati asli yang didaur ulang dan memiliki nilai seni.
Menurut Irianto, usaha yang dijalankan baru berumur 5 tahun. ”Awalnya saya tertarik dengan kreasi seni dari kayu, kemudian saya berimprovisasi dan berkreasi dengan kayu jati ” ungkap Irianto yang memiliki latar belakang sebagai dr. Gigi.
Proses pembuatan semua barang yang ada ditoko Irianto, berbahan baku dari jati bekas pakai yang disuplai agen / pengepul dari daerah Probolinggo dan sekitarnya. Semua kayu yang dipilih haruslah memenuhi kriteria tertentu, seperti masih alami, tidak keropos, tidak dirayapi, serta punya texture asli. Kemudian dibentuklah kayu ini sesuai dengan pesanan atau sesuai imajinasi pemiliknya, tentu mengikuti pola asli dan tekno kayu jasti asli yang didapat. Design kayu tidak mengalami perubahan berarti, kayu bekas kandang kuda atau bekas kayu perahu, dibuatlah sesuai imajinasi didesign secara unik.
Harga per item barang antik ini sesuai dengan besar kecilnya ”barang seni” mulai dari Rp. 20.000,- sampai yang puluhan juta
rupiah. Usaha Irianto ini dijalankan secara profesional walaupun terkesan terlihat apa adanya, tapi untuk promosi dilakukan melalui berbagai media yang di suport dan difasilitasi oleh Pemerintah daerah.
Produk Irianto, sudah mempunyai beberapa show room dikota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan bali, bahkan kreasi seni ini sudah menjajaki dalam ajang pameran diberbagai negara.
onomerto, Kayunya Sejenis Bahan Kapal Nabi Nuh Munarto memulai karir usaha produksi tasbih dari titik nol. Dari belajar sampai bisa membuat tasbih sendiri. Tak sia-sia, kini tasbih berbahan kayu kokka yang dihasilkannya bahkan masuk pasaran ekspor ke Malaysia, Brunei dan Arab Saudi. Suara mesin pemotong kayu, gerenda dan mesin bubut bercampur menjadi satu. Tujuh orang karyawan Munarto tampak khusuk menekuni pekerjaannya masing-masing. Memotong kayu, membuat kasaran, melubangi, dan menghaluskan bentukan tasbih dari kayu kokka.
Ketujuh orang itu sehari-hari memang bekerja membuat tasbih di UD BK HAS Patalan, Wonomerto Probolinggo. Dari tangan-tangan terampil mereka tercipta ratusan bahkan ribuan tasbih yang siap dipasarkan ke seluruh Indonesia dan luar negeri.
Kayu kokka saat ini memang lagi musim untuk bahan tasbih. Kayu yang dibeli Munarto dari Turki itu konon dipercaya memiliki sejumlah khasiat. Air bekas celupan tasbih kayu itu dipercaya berkhasiat menyembuhkan sejumlah penyakit.
Kayu yang hanya berbuah setiap 50 tahun sekali itu berbentuk lonjong serupa buah gambir itu hanya ada di Timur Tengah dan Afrika. Munarto mengaku mendapatkannya dari Iran, Nigeria, Mesir dan Turki.
Bahkan, kayu yang konon dikabarkan sejenis dengan bahan kapal Nabi Nuh dan tongkat Nabi Musa itu juga dipercaya bisa menolak balak. "Semua ciptaan Allah itu hanya perantara. Semuanya kembali pada kekuasaan dan izin Allah," ujar Munarto sambil menunjukkan tasbih-tasbihnya.
Sebab dipercaya memiliki khasiat itu, tasbih berbahan kayu kokka menjadi mahal harganya. Otomatis secara bisnis juga bakal lebih
menguntungkan. "Harga satu tasbih berkisar antara Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta. Bahkan ada yang lebih. Kalau tasbih biasa harganya paling banter Rp 25 ribu," ujarnya.
Munarto mengaku menekuni bisnis tasbih sejak 1995 lalu. Ilmu membuat tasbih didapatkannya dari seseorang di tempatnya dulu bekerja. "Dulu saya hanya bekerja pada orang. Lalu sedikit demi sedikit saya belajar. Sampai akhirnya bisa buka usaha sendiri," ujarnya.
Menjadi pengusaha tasbih mungkin sudah menjadi garis tangan Munarto. Ia sukses melakoni bisnis alat hitung berdzikir itu. Memulai dengan modal Rp 5 juta Munarto membeli alat-alat untuk membuat tasbih.
"Pertama kali punya alat manual. Kemudian berkembang sedikit demi sedikit. Saya juga pernah dapat bantuan peralatan dari pemerintah zaman Pak Harto. Waktu mesinnya masih pakai tenaga kayuh. Itu alatnya yang berwarna kuning Golkar," ujar Munarto sambil tertawa.
Dengan berkembangnya usaha, Munarto pun berusaha meng-up grade alat-alat kerjanya. Dari yang manual menjadi bermesin.
Dari yang sederhana menjadi teknologis. Munarto juga sudah bisa mempekerjakan 10 orang karyawan dengan gaji borongan.
"Sistem bayarannya borongan. Untuk setiap tasbih seorang tukang gergaji kayu mendapatkan upah Rp 1.500,- pembuat kasaran (kayu-kayu yang belum dibentuk) upahnya Rp 200-300 untuk setiap hasil tasbih. Pekerja bagian penghalus Rp 1000 tiap tasbih dan pelubang Rp 1.500,- untuk tiap tasbih," ujarnya.
Munarno menyebut tasbih berbahan kayu kokka saat ini sedang diminati banyak orang. Bahkan, ia mengaku pemesannya lebih banyak dari luar negeri. "Untuk yang lokal biasanya suka bahan tulang karena harganya lebih murah. Tapi kalau yang kayu kokka, kita kirim ke Malaysia, Brunei dan Arab Saudi," ujarnya.
Ketujuh orang itu sehari-hari memang bekerja membuat tasbih di UD BK HAS Patalan, Wonomerto Probolinggo. Dari tangan-tangan terampil mereka tercipta ratusan bahkan ribuan tasbih yang siap dipasarkan ke seluruh Indonesia dan luar negeri.
Kayu kokka saat ini memang lagi musim untuk bahan tasbih. Kayu yang dibeli Munarto dari Turki itu konon dipercaya memiliki sejumlah khasiat. Air bekas celupan tasbih kayu itu dipercaya berkhasiat menyembuhkan sejumlah penyakit.
Kayu yang hanya berbuah setiap 50 tahun sekali itu berbentuk lonjong serupa buah gambir itu hanya ada di Timur Tengah dan Afrika. Munarto mengaku mendapatkannya dari Iran, Nigeria, Mesir dan Turki.
Bahkan, kayu yang konon dikabarkan sejenis dengan bahan kapal Nabi Nuh dan tongkat Nabi Musa itu juga dipercaya bisa menolak balak. "Semua ciptaan Allah itu hanya perantara. Semuanya kembali pada kekuasaan dan izin Allah," ujar Munarto sambil menunjukkan tasbih-tasbihnya.
Sebab dipercaya memiliki khasiat itu, tasbih berbahan kayu kokka menjadi mahal harganya. Otomatis secara bisnis juga bakal lebih
menguntungkan. "Harga satu tasbih berkisar antara Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta. Bahkan ada yang lebih. Kalau tasbih biasa harganya paling banter Rp 25 ribu," ujarnya.
Munarto mengaku menekuni bisnis tasbih sejak 1995 lalu. Ilmu membuat tasbih didapatkannya dari seseorang di tempatnya dulu bekerja. "Dulu saya hanya bekerja pada orang. Lalu sedikit demi sedikit saya belajar. Sampai akhirnya bisa buka usaha sendiri," ujarnya.
Menjadi pengusaha tasbih mungkin sudah menjadi garis tangan Munarto. Ia sukses melakoni bisnis alat hitung berdzikir itu. Memulai dengan modal Rp 5 juta Munarto membeli alat-alat untuk membuat tasbih.
"Pertama kali punya alat manual. Kemudian berkembang sedikit demi sedikit. Saya juga pernah dapat bantuan peralatan dari pemerintah zaman Pak Harto. Waktu mesinnya masih pakai tenaga kayuh. Itu alatnya yang berwarna kuning Golkar," ujar Munarto sambil tertawa.
Dengan berkembangnya usaha, Munarto pun berusaha meng-up grade alat-alat kerjanya. Dari yang manual menjadi bermesin.
Dari yang sederhana menjadi teknologis. Munarto juga sudah bisa mempekerjakan 10 orang karyawan dengan gaji borongan.
"Sistem bayarannya borongan. Untuk setiap tasbih seorang tukang gergaji kayu mendapatkan upah Rp 1.500,- pembuat kasaran (kayu-kayu yang belum dibentuk) upahnya Rp 200-300 untuk setiap hasil tasbih. Pekerja bagian penghalus Rp 1000 tiap tasbih dan pelubang Rp 1.500,- untuk tiap tasbih," ujarnya.
Munarno menyebut tasbih berbahan kayu kokka saat ini sedang diminati banyak orang. Bahkan, ia mengaku pemesannya lebih banyak dari luar negeri. "Untuk yang lokal biasanya suka bahan tulang karena harganya lebih murah. Tapi kalau yang kayu kokka, kita kirim ke Malaysia, Brunei dan Arab Saudi," ujarnya.
Ramai Tiap Bulan Ruwah
Bila melintas di desa Jorongan , Anda dengan mudah menemui rumah bapak M. Kosim perajin batu nisan. Dipayungi terpal atau di belakang rumah dibawah pohon rindang, usaha nisan batu bernilai jutaan rupiah ini, setiap hari tampak beraktivitas. Meski tidak banyak, nisan jenis batu masih dicari masyarakat.
Usaha tersebut rata-rata sudah berjalan puluhan tahun. Seperti yang dilakoni M. Kosim (41), warga Jorongan, Kecamatan Leces, Probolinggo. Ia memulai usaha ini bersama seorang tukangnya, sejak 10 tahun yang lalu dengan berlatih secara otodidak.
"Mula-mula yang memiliki usaha ini adalah orangtua saya. Saya ikut-ikutan. Lama-lama saya bisa membuat sendiri," ujarnya sambil terus menatah bongkahan batu tersebut. Tidak banyak batu nisan yang dibuatnya. Dalam satu bulan dia hanya mampu membuat 4 - 5 nisan saja. Rata-rata satu batu nisan dikerjakan selama 1-2 minggu. "Maklum. Pembantu saya hanya satu. Yang penting bisa melayani pesanan dan tidak nganggur."
Para perajin nisan biasanya mendapat bahan baku dari tanah liat. Pasokan bahan baku ini relatif lancar. Namun jika musim hujan ''beraktivitas'', maka kiriman bahan baku akan tersendat. "Kemarin waktu wabah hujan melandan wilayahnya, pasokan berhenti selama satu bulan.

Ukuran nisan tentu bisa disesuaikan dengan pesanan dan akan ditetapkan harga tersendiri. Rata-rata sebuah batu nisan berukuran panjang 2 meter dijual Rp 350 ribu. Sedang ukuran paling kecil (balita) dijual Rp 150.000.-Konsumennya datang dari sekitar probolinggo dan beberapa kota di Jawa Timur.
Telaten
Menatah tanah liat dari bongkahan menjadi batu nisan bukan perkara mudah karena dibutuhkan ketelatenan dan jiwa seni agar bisa membuat ukiran yang indah. Macam ukirannya pun beragam, di antaranya lung-lungan, wiron, penthol polos, ceplok, dan canden.
Menurut M. Kosim, ukiran yang banyak menjadi favorit konsumennya adalah jenis lung-lungan. "Ini saya sedang membuat nisan ukir lung-lungan, pesanan dari seseorang. Jenis ini memang banyak yang suka," katanya sambil menghisap rokok kretek dalam-dalam.
"Teknik ini lebih lama membuatnya, sehingga harganya juga lebih mahal. Pembeli terkena biaya tambahan Rp 25.000,-" ujarnya.
Nisan batu masih diminati karena perawatannya lebih mudah dan lebih kuat dibanding nisan keramik. "Nisan keramik itu mudah
pecah, saya sengaja tidak menjualnya. Kalau dari tanah liat kan awet," kata M. Kosim
Soal perawatan, Kosim mengatakan, nisan hanya perlu disikat dengan air dan di cat ulang agar tampak seperti baru. Sedangkan nisan keramik, warnanya mudah pudar dan rawan pecah.
Hidup para perajin ini memang terkait dengan kematian. Bila mengharap order meningkat berarti juga mengharap kabar buruk bagi pihak lain. Pesanan mulai ramai bila memasuki bulan Ruwah (menjelang bulan Ramadhan).
"Kalau Ruwahan, saya bisa menjual sampai 20 buah, karena masyarakat Jawa masih setia menjaga leluhurnya. Tapi di luar bulan itu paling hanya 3 - 4 buah saja." katanya.
Bisnis ini terbilang menguntungkan karena konsumen jarang menawar untuk kebutuhan ini.
Usaha tersebut rata-rata sudah berjalan puluhan tahun. Seperti yang dilakoni M. Kosim (41), warga Jorongan, Kecamatan Leces, Probolinggo. Ia memulai usaha ini bersama seorang tukangnya, sejak 10 tahun yang lalu dengan berlatih secara otodidak.
"Mula-mula yang memiliki usaha ini adalah orangtua saya. Saya ikut-ikutan. Lama-lama saya bisa membuat sendiri," ujarnya sambil terus menatah bongkahan batu tersebut. Tidak banyak batu nisan yang dibuatnya. Dalam satu bulan dia hanya mampu membuat 4 - 5 nisan saja. Rata-rata satu batu nisan dikerjakan selama 1-2 minggu. "Maklum. Pembantu saya hanya satu. Yang penting bisa melayani pesanan dan tidak nganggur."
Para perajin nisan biasanya mendapat bahan baku dari tanah liat. Pasokan bahan baku ini relatif lancar. Namun jika musim hujan ''beraktivitas'', maka kiriman bahan baku akan tersendat. "Kemarin waktu wabah hujan melandan wilayahnya, pasokan berhenti selama satu bulan.
Ukuran nisan tentu bisa disesuaikan dengan pesanan dan akan ditetapkan harga tersendiri. Rata-rata sebuah batu nisan berukuran panjang 2 meter dijual Rp 350 ribu. Sedang ukuran paling kecil (balita) dijual Rp 150.000.-Konsumennya datang dari sekitar probolinggo dan beberapa kota di Jawa Timur.
Telaten
Menatah tanah liat dari bongkahan menjadi batu nisan bukan perkara mudah karena dibutuhkan ketelatenan dan jiwa seni agar bisa membuat ukiran yang indah. Macam ukirannya pun beragam, di antaranya lung-lungan, wiron, penthol polos, ceplok, dan canden.
Menurut M. Kosim, ukiran yang banyak menjadi favorit konsumennya adalah jenis lung-lungan. "Ini saya sedang membuat nisan ukir lung-lungan, pesanan dari seseorang. Jenis ini memang banyak yang suka," katanya sambil menghisap rokok kretek dalam-dalam.
"Teknik ini lebih lama membuatnya, sehingga harganya juga lebih mahal. Pembeli terkena biaya tambahan Rp 25.000,-" ujarnya.
Nisan batu masih diminati karena perawatannya lebih mudah dan lebih kuat dibanding nisan keramik. "Nisan keramik itu mudah
pecah, saya sengaja tidak menjualnya. Kalau dari tanah liat kan awet," kata M. Kosim
Soal perawatan, Kosim mengatakan, nisan hanya perlu disikat dengan air dan di cat ulang agar tampak seperti baru. Sedangkan nisan keramik, warnanya mudah pudar dan rawan pecah.
Hidup para perajin ini memang terkait dengan kematian. Bila mengharap order meningkat berarti juga mengharap kabar buruk bagi pihak lain. Pesanan mulai ramai bila memasuki bulan Ruwah (menjelang bulan Ramadhan).
"Kalau Ruwahan, saya bisa menjual sampai 20 buah, karena masyarakat Jawa masih setia menjaga leluhurnya. Tapi di luar bulan itu paling hanya 3 - 4 buah saja." katanya.
Bisnis ini terbilang menguntungkan karena konsumen jarang menawar untuk kebutuhan ini.

Tangan tangan pekerja itu begitu telaten membentuk tanah liat menjadi hiasan. Mengaduk adonan cat, memolesnya kebenda yang telah jadi. Itulah kegiatan usaha di salah satu pabrik kreamik terbesar di Kabupaten Probolinggo, Kris Paulus 54 tahun. Masyarakat memanggilnya Paulo. Usianya tak lagi muda. Namun, matanya tajam memperhatikan keramik – keramik made in miliknya.
Kualitas kata yang tak bisa ditawar baginya. Saat saya berkunjung di pabriknya
Bisnis ini salah satu bisnis yang menjanjikan. Belum banyak saingan menjadi salah satu peluang untuk mengembangkan bisnis tersebut. , Paulo mengaku, dia telah menjual kerajinan itu keseluruh daerah di Jawa Timur.
Produksi kerajinan ini telah hadir di berbagai kota terutama di saentero jawa
Untuk mengembangkan lebih luas, dia mengaku telah mengikuti beberapa even pameran baik dalam negeri maupun luar negeri
Keramik yang diproduksi Paulo, terbilang up to date. Selain model-model yang telah biasa dibuatnya, dia selalu mengikuti perkembangan zaman seni pembuatan keramik. Caranya, membeli koran dan majalah. Informasi perkembangan model terbaru didapatkannya dari media.
Paulo mengawali karier usaha keramik berawal tahun 1977, kala itu ia hanya sebagai pegawai biasa disalah satu perusahaan keramik lokal di probolinggo, 14 tahun hanya sebagai pekerja, paulo berkeinginan untuk mendirikan sendiri pabrik keramik,
Sejak tahun 1992 ia mulai membuat keramik sendiri dengan sistim home industri dengan jumlah karyawan 10 orang, dengan ketekunan dan keuletan bapak 2 putra ini, usahanya berkembang
terus hingga tahun 2009 sudah bisa mendirikan pabrik sendiri dengan jumlah karyawan lebih kurang 300 orang.
Paulo menceritakan tentang pabriknya, berdiri tepatnya tanggal 18 mei 2009 usahanya dinamakan PT. Keramik Paulo berloksai di jalan Prof. Dr. Buya Hamka, Desa laweyan Sumberasih, Probolinggo, alasan mendirikan pabrik karena mudah memperoleh tenaga kerja, dalam proses produksi membutuhkan pemakaian air bersih dalam jumlah besar, dikatakannya di daerah ini dapat dipenuhi serta akses jalan yang dekat dengan jalan raya memudahkan pengangkutan bahan baku dan bahan jadi
Sedangkan pangsa pasar yang dibidik oleh perusahaannya adalah penjulan grosir ataupun eceran, hotel , bank, restaurant, sedangkan produk yang dihasilkan antara lain, guci air, roster, cangkir, piring, mangkok, tempat sabun, vas, peralatan hotel, souvenir untuk
pernikahan, dan produk yang dihasilkan memiliki beberapa tipe, seperti tempat air memiliki berbagai macam bentuk, warna dan gambar.
PT. Paolo ini merupakan perusahaan manufaktur yang berproduksi atas dasar pesanan dari pelanggan, pesanan produk yang diterima dari pelanggan sebagian besar berupa produk guci air (tempat air), pada awal berdiri pemasaran hanya terbatas di daerah probolinggo, pasuruan. Sidoarjo, malang dan surabaya sekitarnya, sekarang dengan peralatan yang modern, dan tenaga kerja yang berkualitas dan saluran distribusi yang makin luas, pabrik paolo mampu mengembangkan sayapnya semakin luas meliputi kota-kota di jawa timur, jawa tengah, jawa barat, bali dan lombok, serta beberap negara lain.
Cris Paolo diakhir perbincangan dengan kami menyampaikan Pabrik miliknya dalam proses produksi memiliki beberapa tahapan mulai dari desaign atau cetakan, laborat, casting, finishing, glosir, dekorasi, klin, sortir dan terakhir packing.
Kualitas kata yang tak bisa ditawar baginya. Saat saya berkunjung di pabriknya
Bisnis ini salah satu bisnis yang menjanjikan. Belum banyak saingan menjadi salah satu peluang untuk mengembangkan bisnis tersebut. , Paulo mengaku, dia telah menjual kerajinan itu keseluruh daerah di Jawa Timur.
Produksi kerajinan ini telah hadir di berbagai kota terutama di saentero jawa
Untuk mengembangkan lebih luas, dia mengaku telah mengikuti beberapa even pameran baik dalam negeri maupun luar negeri
Keramik yang diproduksi Paulo, terbilang up to date. Selain model-model yang telah biasa dibuatnya, dia selalu mengikuti perkembangan zaman seni pembuatan keramik. Caranya, membeli koran dan majalah. Informasi perkembangan model terbaru didapatkannya dari media.
Paulo mengawali karier usaha keramik berawal tahun 1977, kala itu ia hanya sebagai pegawai biasa disalah satu perusahaan keramik lokal di probolinggo, 14 tahun hanya sebagai pekerja, paulo berkeinginan untuk mendirikan sendiri pabrik keramik,
Sejak tahun 1992 ia mulai membuat keramik sendiri dengan sistim home industri dengan jumlah karyawan 10 orang, dengan ketekunan dan keuletan bapak 2 putra ini, usahanya berkembang
terus hingga tahun 2009 sudah bisa mendirikan pabrik sendiri dengan jumlah karyawan lebih kurang 300 orang.
Paulo menceritakan tentang pabriknya, berdiri tepatnya tanggal 18 mei 2009 usahanya dinamakan PT. Keramik Paulo berloksai di jalan Prof. Dr. Buya Hamka, Desa laweyan Sumberasih, Probolinggo, alasan mendirikan pabrik karena mudah memperoleh tenaga kerja, dalam proses produksi membutuhkan pemakaian air bersih dalam jumlah besar, dikatakannya di daerah ini dapat dipenuhi serta akses jalan yang dekat dengan jalan raya memudahkan pengangkutan bahan baku dan bahan jadi
Sedangkan pangsa pasar yang dibidik oleh perusahaannya adalah penjulan grosir ataupun eceran, hotel , bank, restaurant, sedangkan produk yang dihasilkan antara lain, guci air, roster, cangkir, piring, mangkok, tempat sabun, vas, peralatan hotel, souvenir untuk
pernikahan, dan produk yang dihasilkan memiliki beberapa tipe, seperti tempat air memiliki berbagai macam bentuk, warna dan gambar.
PT. Paolo ini merupakan perusahaan manufaktur yang berproduksi atas dasar pesanan dari pelanggan, pesanan produk yang diterima dari pelanggan sebagian besar berupa produk guci air (tempat air), pada awal berdiri pemasaran hanya terbatas di daerah probolinggo, pasuruan. Sidoarjo, malang dan surabaya sekitarnya, sekarang dengan peralatan yang modern, dan tenaga kerja yang berkualitas dan saluran distribusi yang makin luas, pabrik paolo mampu mengembangkan sayapnya semakin luas meliputi kota-kota di jawa timur, jawa tengah, jawa barat, bali dan lombok, serta beberap negara lain.
Cris Paolo diakhir perbincangan dengan kami menyampaikan Pabrik miliknya dalam proses produksi memiliki beberapa tahapan mulai dari desaign atau cetakan, laborat, casting, finishing, glosir, dekorasi, klin, sortir dan terakhir packing.

ITEMUI di rumahnya Di Kecamatan Tongas, Miftahul Huda, 42, tengah sibuk berbincang dengan salah seorang sales kaligrafi. Sesekali dia juga sibuk melayani dering telepon seluler dan telepon rumah miliknya yang dijadikan kantor.
Maklum, relasi bisnisnya cukup luas dari berbagai daerah. Di tengah kesibukannya mengelola usaha, Huda-intim disapa- tetap ramah menerima tamu-termasuk wartawan ini yang hendak mewawancarainya.
Penampilannya sederhana. Berkat kerja kerasnya, kini usaha Huda makin luas. Di bawah tangan dinginnya, usaha yang dikelolanya dalam delapan tahun terakhir telah merambah seluruh jawa timur Mulai Surabaya, Banyuwangi, sampai Madura. Ia sebelumnya. Miftahul Hudapun menceritakan awal mula merintis usahanya. Sebagai pengusaha yang berangkat dari nol, tentu banyak liku-liku dan tantangan yang harus dihadapi.
Menurut Huda, sebelumnya sebagai petani, ia mencoba cari penghasilan lain. Ia nyambi sebagai pelukis kaligrafi di rumah temannya jombang.
"Dari situlah, sedikit demi sedikit saya tertarik dengan usaha kaligrafi. Di tempat itulah, saya banyak belajar dan mengasah bakat atau keahlian menulis kaligrafi," ceritanya.
Tidak hanya itu. "Saya juga belajar cara memproduksi sekaligus belajar manajemen pemasaran sebagai marketing," ujar bapak dua anak
Proses belajar dan membantu temannya berlangsung kurang lebih selama dua tahun. Selama itu pula, dia mampu mengembangkan
pemasaran kaligrafi temannya di sepanjang jalur pantura Jawa. Yakni mulai gresik, jombang, Surabaya, hingga Jakarta.
Bahkan wilayah Jogjakarta pun dirambah. Yang menarik, meski sibuk mencari pelanggan, dia juga masih menyempatkan diri menjadi petani
"Saya tetap mencari upah sendiri untuk keluarga. Setiap hari harus ada masukan pendapatan, meski kecil," katanya. Apa yang dilakukan Huda patut diacungi jempol.
Sebab dialah yang merintis pemasaran penjualan kaligrafitemannya itu ke berbagai daerah.
Waktu itu, kata dia, belum banyak pesaing sehingga tantangan usaha tak seberat sekarang. Saat ia masih membantu temannyaTenaga kerja yang dimiliki baru 4 orang. Pemasarannya pun masih terbatas.
Di wilayah Probolinggo, dia memasarkan kaligrafi di kawasan wisata dan rumah kerumah. Dalam perjalanan selanjutnya, usahanya berkembang pesat.
"Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bagi saya dalam memasarkan barang kaligrafi. Karena itulah, yang saya pikir waktu itu adalah bagaimana tetap memajukan usaha ke depan dan tidak mau memikirkan kerugian ," tuturnya.
Dalam perkembangannya, Huda banting stir lagi. Dia mulai menekuni kembali usaha kaligrafi secara mandiri dan tak terkait
dengan usaha temannya
"Keluarga saya mendorong agar tetap menekuni usaha yang dulu lagi. Untuk mendirikan usaha itu saya dipinjami uang dengan jumlah total Rp 10 juta. Uang itu saya kumpulkan dari 10 saudara saya. Setiap orang membantu meminjami dana sebesar Rp 1 jutaan untuk modal," katanya.
Ia kembali merintis usahanya. Kali ini Huda dibantu 10 tenaga kerja dengan hasil produksi sekitar 200 kaligrafi per hari. Para pelanggan setia yang pernah bekerjasama dengannya juga kembali melakukan pemesanan.
Bahkan saat ini tenaga kerjanya bertambah menjadi 20 orang. Tak hanya itu. Untuk memperluas pemasaran, Hadi memiliki 200 jaringan sales yang bertugas menjual kaligrafinya. Masing-masing sales dibantu 20 tenaga untuk memasarkan door to door ke setiap rumah warga.
Dengan tenaga kerja yang ada, saat ini setiap hari dia mampu memproduksi sebanyak 1.250 kaligrafi. Penjualan di wilayah Jawa timur
Sedangkan barang yang dikirim ke luar Jawa menggunakan truk melalui pelabuhan. Dari penjualan itu, omzet per Minggu kini bisa mencapai antara Rp 9 juta hingga Rp 10 juta. Artinya, dalam sebulan, omzetnya bisa mencapai Rp 40 juta.
"Awal usaha pendapatan hanya mencapai antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per Minggu. Tapi sekarang Alhamdulillah terus meningkat," ucapnya merendah. Menurut Dullah sebelum diproduksi menjadi kaligrafi, dia lebih dulu membuat figura. Figura yang terbuat dari kayu pinus tersebut ia produksi di Mojokerto, JawaTimur.
Setelah itu, figura diproses menjadi bingkai kaligrafi Dikatakan, pekerjaan yang dikelolanya dilakukan siang dan malam secara bergantian. Menurutnya, karena sudah menekuni usaha kaligrafi dan figura itulah dia tak lagi menjadi petani Dalam berusaha itu, ia berprinsip selalu konsisten melayani konsumen tepat waktu, jujur, pasti dan bertanggungjawab.
"Apalagi yang saya jual adalah kaligrafi dari ayat-ayat Alquran. Jadi segala sesuatunya saya selalu berhati-hati dan berusaha sekuat tenaga bahwa apa yang saya lakukan dalam mengembangkan usaha sesuai dengan nilai-nilai Alquran itu. Karena itu, nilai keikhlasan selalu saya ke depankan dalam setiap melangkah. Meski kadang-kadang saya ditipu orang. Tapi, silahkan .... saya tetap maju berkembang."
Mengenalkan produk lewat dunia maya

Candra Irawan – merintis bisnis sudah lebih dari enam tahun. Dari kegiatan positifnya itu, dia memang belum mendapatkan penghasilan yang siginifikan. Namun hal itu tidak membuatnya putus asa atau tak berpengharapan. Pasalnya, ya itu tadi, berbisnis mebel butuh kerja keras dan ketekunan. Candra Irawan yakin jika proses itu telah dilalui, maka penghasilan (baik dalam bentuk rupiah maupun dolar) akan mengalir dengan sendirinya
Dalam proses menunggu, Candra Irawan juga tak henti-henti belajar seperti membaca buku, tentang strategi marketing, dan bertanya kepada siapa pun yang peduli dengan mebel ini.

Tapidalam soal membikin disegin, Candra Irawan sudah sangat menguasai. Pengetahuan yang sekarang sedang ditingkatkan adalah bagaimana membuta design yang mengikuti selera pasar.
“Sebab, sepandai-pandainya kita merancang mebel , kalau tidak pernah di-update, jangan berharap mebel kita bisa laku dipasar, saat ini para konsumen mencari jenis mebel punya seni khas sendiri” kata Candra
Saat ini, Candra Irawan memiliki sejumlah koleksi mebel dan untuk memasarkan dia mencoba memasarkan melalui internet . Lewat internet ini, Candra Irawan menawarkan produk mebelnya yang mampu mengikuti selera pasar ,Anda berminat? Silakan masuk ke webnya. Lewat dunia maya ini lambat llaun usahanya dikenal di berbagai dunia, selain menjual secara partai di pasar lokal, melalui internet ini Candra mendapat banyak pesanan, terutama dari negeri paman sam Amerika serikat, produk mebelnya banyak diekspor keluar negeri.
Tidak cuma itu, Candra Irawan menjalin kemitraan dengan produsen mebel di berbagai penjuru tanah airdan manca negara saat ini penghasilannya sekitar Rp. 150 – 200 juta sebulan. Candra Irawan yang kini berusia 50 tahun mempunyai dua orang anak yang semuanya telah dewasa. Dalam usianya yang telah 50 tahun, Candra Irawan tetap berusaha kreatif, mencoba sesuatu yang baru dan membangun relasi dengan banyak orang
Dalam proses menunggu, Candra Irawan juga tak henti-henti belajar seperti membaca buku, tentang strategi marketing, dan bertanya kepada siapa pun yang peduli dengan mebel ini.
Tapidalam soal membikin disegin, Candra Irawan sudah sangat menguasai. Pengetahuan yang sekarang sedang ditingkatkan adalah bagaimana membuta design yang mengikuti selera pasar.
“Sebab, sepandai-pandainya kita merancang mebel , kalau tidak pernah di-update, jangan berharap mebel kita bisa laku dipasar, saat ini para konsumen mencari jenis mebel punya seni khas sendiri” kata Candra
Saat ini, Candra Irawan memiliki sejumlah koleksi mebel dan untuk memasarkan dia mencoba memasarkan melalui internet . Lewat internet ini, Candra Irawan menawarkan produk mebelnya yang mampu mengikuti selera pasar ,Anda berminat? Silakan masuk ke webnya. Lewat dunia maya ini lambat llaun usahanya dikenal di berbagai dunia, selain menjual secara partai di pasar lokal, melalui internet ini Candra mendapat banyak pesanan, terutama dari negeri paman sam Amerika serikat, produk mebelnya banyak diekspor keluar negeri.
Tidak cuma itu, Candra Irawan menjalin kemitraan dengan produsen mebel di berbagai penjuru tanah airdan manca negara saat ini penghasilannya sekitar Rp. 150 – 200 juta sebulan. Candra Irawan yang kini berusia 50 tahun mempunyai dua orang anak yang semuanya telah dewasa. Dalam usianya yang telah 50 tahun, Candra Irawan tetap berusaha kreatif, mencoba sesuatu yang baru dan membangun relasi dengan banyak orang
Ikon Generasi Baru
Mebel Antik Probolinggo
PROBOLINGGO - Darus, bernama lengkap Darusman lahir di Probolinggo 36 tahun silam. Dia dapat disebut sebagai ikon generasi baru disainer meubel di kabupaten Probolinggo. Memulai karier sebagai tukang ukir diberbagai perusahaan meubel mulai dari malang hingga jawa barat ia jalani. Dia membuat ukiran meubel dalam gaya yang lebih modern, terutama mengambil bentuk abstrak dan benda-benda alam.
Ayah tiga orang putra ini memulai karier sejak tahun 1987, setelah berhenti disalah satu perusahaan meubel, lalu mendirikan sendiri usahanya, awalnya saya mengerjakan sendiri mulai dari cari bahan sampai mengukir hinggga memasarkan “ ungkap Darusman di Galerinya

Dia menggumuli usaha meubel ukir mulai dari hobby hingga ke Profesi Pengusaha. Bermula dari hobby mendesain ukiran kayu sendiri dan membuat perhiasan dari kayu, serta sering mengikuti ajang pameran kerajinan, pada tahun 1987, darusman mendirikan Perusahaan Duplicat Antique. berdedikasi tinggi dan kerja keras menghasilkan sentuhan kreasi seni, mebel Darusman banyak digemari tidak hanya di Kabupaten tetapi juga di luar kota. Dalam mengembangankan usaha dia berkerja sama dengan Dinas Koperasi Kabupaten Probolinggo terutama dalam hal pemasaran, ajang pameran merupakan tempat yang tepat untuk memasarkan hasil meubelnya, bahkan ia memulai mendesain ukiran mebelnya dengan sentuhan motif Asmat, kala itu peminatnya besar, bahkan ia bisa mencapai keuntungan 50 juta perbulan“ pada tahun 2005 – 2006 saya kebanjiran order hingga Jakarta, saat itu benar-benar kewalahan menerima order
terutama ukiran yang bermotif asmat . Produksi Meubel dilaksanakan di tempat tinggalnya tepatnya di Jalan Banjarsari km 90 Sumberasih – Probolinggo,
Teknik produksinya dikerjakan di bengkel sendiri maupun secara kooperatif dengan pekerjanya bagian tukang ukir dan mebel , sampai finishing dan quality control sentuhan terakhirnya.
Produk Darusman ini dijual/dipasarkan secara retail, maupun melalui ajang-ajang pameran yang diikutinya, ia berharap pemerintah daerah sering-sering melaksanakan ajang pameran terutama di Jakarta dan kota-kota besar, karena dari ajang itu ia dapat meraih keuntungan yang besar.
Sebagai generasi muda Darusman memang mempunyai cirri khas tersendiri dalam hal ukir mengukir, apalagi sentuhan darah seni membuat koleksitas ukirnya diakui oleh pasar, saat ini ia ingin membuat ukiran khas probolinggo, yang nantinya dipromosikan keluar daerah, ia masih meramu konsep khas ukiran probolinggo, sebab saat ini ukiran khas masih didominasi oleh ukiran jepara madura dan Bali.
Darusman adalah sosok generasi yang patut dicontoh oleh generasi muda lainnya, dengan usia relatif muda dia sudah menciptakan berbagai karya ukir dengan sentuhan nilai tinggi (
Ayah tiga orang putra ini memulai karier sejak tahun 1987, setelah berhenti disalah satu perusahaan meubel, lalu mendirikan sendiri usahanya, awalnya saya mengerjakan sendiri mulai dari cari bahan sampai mengukir hinggga memasarkan “ ungkap Darusman di Galerinya
Dia menggumuli usaha meubel ukir mulai dari hobby hingga ke Profesi Pengusaha. Bermula dari hobby mendesain ukiran kayu sendiri dan membuat perhiasan dari kayu, serta sering mengikuti ajang pameran kerajinan, pada tahun 1987, darusman mendirikan Perusahaan Duplicat Antique. berdedikasi tinggi dan kerja keras menghasilkan sentuhan kreasi seni, mebel Darusman banyak digemari tidak hanya di Kabupaten tetapi juga di luar kota. Dalam mengembangankan usaha dia berkerja sama dengan Dinas Koperasi Kabupaten Probolinggo terutama dalam hal pemasaran, ajang pameran merupakan tempat yang tepat untuk memasarkan hasil meubelnya, bahkan ia memulai mendesain ukiran mebelnya dengan sentuhan motif Asmat, kala itu peminatnya besar, bahkan ia bisa mencapai keuntungan 50 juta perbulan“ pada tahun 2005 – 2006 saya kebanjiran order hingga Jakarta, saat itu benar-benar kewalahan menerima order
terutama ukiran yang bermotif asmat . Produksi Meubel dilaksanakan di tempat tinggalnya tepatnya di Jalan Banjarsari km 90 Sumberasih – Probolinggo,
Teknik produksinya dikerjakan di bengkel sendiri maupun secara kooperatif dengan pekerjanya bagian tukang ukir dan mebel , sampai finishing dan quality control sentuhan terakhirnya.
Produk Darusman ini dijual/dipasarkan secara retail, maupun melalui ajang-ajang pameran yang diikutinya, ia berharap pemerintah daerah sering-sering melaksanakan ajang pameran terutama di Jakarta dan kota-kota besar, karena dari ajang itu ia dapat meraih keuntungan yang besar.
Sebagai generasi muda Darusman memang mempunyai cirri khas tersendiri dalam hal ukir mengukir, apalagi sentuhan darah seni membuat koleksitas ukirnya diakui oleh pasar, saat ini ia ingin membuat ukiran khas probolinggo, yang nantinya dipromosikan keluar daerah, ia masih meramu konsep khas ukiran probolinggo, sebab saat ini ukiran khas masih didominasi oleh ukiran jepara madura dan Bali.
Darusman adalah sosok generasi yang patut dicontoh oleh generasi muda lainnya, dengan usia relatif muda dia sudah menciptakan berbagai karya ukir dengan sentuhan nilai tinggi (

Berdayakan Masyarakat Sekitar dengan UKM
Keberhasilan seseorang menekuni suatu usaha disamping ditentukan kerja keras dan ketekunan, tak jarang pula berkat bakat yang dimilikinya. Berkat bakat yang dimilikinya, Rusyami kini sukses sebagai pengusaha handy craft dan payet berlabel Rizky Handy Craft. Keterkaitannya untuk menekuni usaha kerajinan ini berawal dari saat Rusyami berekreasi ke Bali awal tahun 2001. Ketika itu dia
melihat sebuah tas dengan hiasan manik-manik yang menarik. Saya beli satu dan saya pelajari cara pembuatannya. Awalnya coba-coba dan ternyata saya bisa, kisah Rusyami.
Tahun 2001 ia mulai merintis usahanya dengan membuat tas payet. Dibantu dua orang tetangganya yang membantu membuat payet dan memasang manik-manik, ibu tiga anak ini bisa menghasilkan 10 tas yang kemudian dijual dari toko ke toko di Malang. “ Dulu saya menjajakan sendiri produk tas payet ke Malang untuk dititipkan ketoko-toko dan ternyata laku” kisahnya. Ternyata tas payet buatannya banyak diminati. Permintaan terus meningkat. Tahun 2004 Rusyami mulai mengembangkan usaha di Jatiurip Kecamatan Krejengan. Permohonannya untuk mendapatkan pinjaman kredit dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Probolinggo disetujui. Tahun 2006 usahanya mendapatkan suntikan dana Kredit Modal Kerja UKM ( KMK UKM ) sebesar Rp. 5 juta. Setahun kemudian ia kembali mendapatkan tambahan pinjaman sebesar Rp. 7,5 juta dari
bantuan permodalan yang sama. Usahanya yang terus berkembang dengan omzet yang terus meningkat menjadi pertimbangan propinsi untuk memberikan bantuan kredit KAPEL sebesar Rp. 200 juta. Dana tersebut dimanfaatkan untuk menambah modal usaha dan memperluas pemasaran produk. Kini Rusyami tidak hanya memproduksi tas payet dan tas wanita saja tapi juga tas kantor dan tas souvenir. Disamping itu usahanya berkembang pada usaha konveksi dan pembuatan kerudung. Produk aksesoris dan souvenirnya lebih bervariasi. Untuk memperkenalkan produk usahanya tersebut, Rusyami sering mengikuti kegiatan pameran dibeberapa kota baik skala regional maupun nasional. Bahkan pernah mengikuti pameran sampai kenegeri malaysia dalam event “ Home Decoration” tahun 2007. Pemasaran produknyapun menjangkau beberapa kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta. “ Yang rutin adalah ke Bali, kami punya langganan yang memasok produk kami disana. Bahkan tiap tahun ada agenda rutin sekaligus pemasaran produk kerajinan ” Jelas alumnus IAIN Malang ini. Dari usaha kecil yang awalnya hanya dibantu dua orang tetangga, kini ia dapat memberikan pekerjaan pada 160 orang disekitar rumahnya didesa Jati Urip. Mereka tidak semuanya bekerja ditempat usaha Rusyami,
melainkan tersebar dirumah-rumah penduduk. “ Yang mereka kerjakan bermacam-macam tergantung ketrampilannya. Berkat keberhasilannya memberdayakan masyarakat sekitar khususnya ibu-ibu dan remaja putri tersebut, pada tahun 2006 Rusyami mendapatkan penghargaan sebagai juara I Pemuda Pelopor se Jawa Timur. Tak hanya itu, tahun 2007 ia kembali mendapatkan peringkat I Usaha Peningkatan Pendapatan Kelaurga Sejahtera (UPPKS) dari Bupati Probolinggo. Kini usahanya berkembang pesat. Omset perharipun mencapai angka juataan rupiah. Mesin-mesin yang dimilikinya cukup banyak dan berbervariasi seiring dengan variatifnya produk yang dihasilkan. Untuk usaha konveksi, Rusyami dibantu Anshori suaminya. Meskipun demikian, Rusyami memberikan kesempatan kepada siapa saja yang mau belajar. Bahkan ia menyediakan fasilitas baik peralatan maupun bahan. Dia berharap apa yang dilakukannya dapat memacu semangat generasi muda khususnya remaja putri untuk berkreasi.
melihat sebuah tas dengan hiasan manik-manik yang menarik. Saya beli satu dan saya pelajari cara pembuatannya. Awalnya coba-coba dan ternyata saya bisa, kisah Rusyami.
Tahun 2001 ia mulai merintis usahanya dengan membuat tas payet. Dibantu dua orang tetangganya yang membantu membuat payet dan memasang manik-manik, ibu tiga anak ini bisa menghasilkan 10 tas yang kemudian dijual dari toko ke toko di Malang. “ Dulu saya menjajakan sendiri produk tas payet ke Malang untuk dititipkan ketoko-toko dan ternyata laku” kisahnya. Ternyata tas payet buatannya banyak diminati. Permintaan terus meningkat. Tahun 2004 Rusyami mulai mengembangkan usaha di Jatiurip Kecamatan Krejengan. Permohonannya untuk mendapatkan pinjaman kredit dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Probolinggo disetujui. Tahun 2006 usahanya mendapatkan suntikan dana Kredit Modal Kerja UKM ( KMK UKM ) sebesar Rp. 5 juta. Setahun kemudian ia kembali mendapatkan tambahan pinjaman sebesar Rp. 7,5 juta dari
bantuan permodalan yang sama. Usahanya yang terus berkembang dengan omzet yang terus meningkat menjadi pertimbangan propinsi untuk memberikan bantuan kredit KAPEL sebesar Rp. 200 juta. Dana tersebut dimanfaatkan untuk menambah modal usaha dan memperluas pemasaran produk. Kini Rusyami tidak hanya memproduksi tas payet dan tas wanita saja tapi juga tas kantor dan tas souvenir. Disamping itu usahanya berkembang pada usaha konveksi dan pembuatan kerudung. Produk aksesoris dan souvenirnya lebih bervariasi. Untuk memperkenalkan produk usahanya tersebut, Rusyami sering mengikuti kegiatan pameran dibeberapa kota baik skala regional maupun nasional. Bahkan pernah mengikuti pameran sampai kenegeri malaysia dalam event “ Home Decoration” tahun 2007. Pemasaran produknyapun menjangkau beberapa kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta. “ Yang rutin adalah ke Bali, kami punya langganan yang memasok produk kami disana. Bahkan tiap tahun ada agenda rutin sekaligus pemasaran produk kerajinan ” Jelas alumnus IAIN Malang ini. Dari usaha kecil yang awalnya hanya dibantu dua orang tetangga, kini ia dapat memberikan pekerjaan pada 160 orang disekitar rumahnya didesa Jati Urip. Mereka tidak semuanya bekerja ditempat usaha Rusyami,
melainkan tersebar dirumah-rumah penduduk. “ Yang mereka kerjakan bermacam-macam tergantung ketrampilannya. Berkat keberhasilannya memberdayakan masyarakat sekitar khususnya ibu-ibu dan remaja putri tersebut, pada tahun 2006 Rusyami mendapatkan penghargaan sebagai juara I Pemuda Pelopor se Jawa Timur. Tak hanya itu, tahun 2007 ia kembali mendapatkan peringkat I Usaha Peningkatan Pendapatan Kelaurga Sejahtera (UPPKS) dari Bupati Probolinggo. Kini usahanya berkembang pesat. Omset perharipun mencapai angka juataan rupiah. Mesin-mesin yang dimilikinya cukup banyak dan berbervariasi seiring dengan variatifnya produk yang dihasilkan. Untuk usaha konveksi, Rusyami dibantu Anshori suaminya. Meskipun demikian, Rusyami memberikan kesempatan kepada siapa saja yang mau belajar. Bahkan ia menyediakan fasilitas baik peralatan maupun bahan. Dia berharap apa yang dilakukannya dapat memacu semangat generasi muda khususnya remaja putri untuk berkreasi.

Saman Hariyanto
Belajar dari Pengalaman Buka Usaha Sendiri
Mencari dan memilih jenis usaha pernah saya rasakan seperti mencari jarum yang jatuh pada rerumputan,juga seperti mencari mutiara di lautan yang luas,luasanya lautan seperti halnya luas dan banyaknya peluang-peluang di sekitar kita
banyaknya tawaran peluang usaha ,kadang membikin kita juga pusing dan bingung bahkan dari sekian ribu peluang itu tak satupun yang kita realisasikan
Tak bisa dipungkiri kadang saya sendiri sering menghakimi peluang2 yang berpotensi itu dengan pertanyaan2,bisnis ini cocok tidak dengan saya? laku tidak nantinya,bagaimana kalau bangrut ? perlu modal besar dan masih banyak lagi pertannyaan senada, yang ujung - ujungnya tidak ada satupun usaha yang pernah kita jalani,dan saya menyadarinya kemudian bahwa dalam bisnis itu harus dikedepankan adalah “Take Action”
mungkin kata lainnya berbisnis bukan hanya dibayangkan tapi harus dilakukan, Walaupun dalam hal ini saya tidak mengesampingkan masalah survey dan uji kelayakan sebelumnya,tetapi jangan berlebihan dalam hal ini, singkatnya Realistis dengan kondisi yang ada.Nah itulah setidaknya yang pernah saya rasakan ketika memulai usaha lampu hias pada tahun 1998. ujar Saman laki-laki kelahiran Probolinggo 30 tahun lalu
Merintis usaha dari nol. Itulah awal keberhasilan yang kini dirasakan oleh Saman. Berawal dari hobi membuat hiasan lampu yang berbahan baku kayu , tanpa disangka mampu menghidupi Saman, sehingga bisa bertahan hidup hingga sekarang.Usaha membuat hiasan lampu ini diawali ketika ia lulus SLTA, dan ia bingung mau mencari kerja dimana
Di tengah kebingungan tersebut, muncul gagasan untuk membuka usaha kerajinan hiasan lampu meja. “Saya memang
punya hobi membuat hiasan lampu. Tapi tak pernah terbersit produk dari hobi saya ini bisa mendatangkan rezeki melimpah,”
kata Saman. Dari modal sebesar Rp 400.000 tersebut, sebanyak Rp 250.000 dipergunakan untuk modal. Ia pun membeli kayu untuk dibuat lampu hias.
Persisnya hiasan lampu buatan Saman ini berupa dudukan penyangga lampu meja.Setelah jadi, Saman menawarkan kepada beberapa teman dekatnya. Saat itu untuk sebuah hiasan lampu, Saman menjualnya rata-rata Rp 50.000. Respon teman-temannya ternyata cukup bagus. Dalam waktu tidak lama, hiasan lampu buatan Kuncono laku keras. Bahkan melalui teman-temannya, mulailah banyak pesanan dari orang lain.
Pemasaran melalui mulut ke mulut ini membuat hiasan lampu yang dibuat Saman semakin dikenal oleh masyarakat. Pasar produk hiasan lampu Saman .kini tidak lagi hanya dipasarkan di kawasan Griya Bandung Asri, tempat tinggalnya. Hiasan lampu Saman pun mulai dipasarkan di Probolinggo dan sekitarnya. Tak puas dengan pasar di dalam Kota , Saman mencoba menembus pasar di daerah lain, antara lain,Jogjakarta, Surabaya dan Bali. Caranya, yakni dengan mengikuti berbagai pameran yang diselenggarakan di kota-kota tersebut. Cara ini terbukti berhasil. Produk hiasan lampu buatan Saman ini banyak diminati.
Saman menjelaskan Produk lampu hias yang didesain atas ide sendiri, model desain perpaduan gaya khas lampu jepang dengan sentuhan motif tradisional, koalisi perpaduan model jepang -
tradisional menjadikan lampu hias saman lain dari pada yang lain
Ada 3 jenis hiasan lampu ala japan yang dibuatnya. Pertama hiasan lampu duduk yang kini dijual seharga Rp 150.000. Kemudian hiasan lampu tinggi dengan harga jual Rp 350.000 serta hiasan lampu didnding yang mirip lampiun yang dijual antara Rp 125.000 hingga Rp 225.000 per buah. Ketelatenan Saman kini memang telah membuahkan hasil. Menurutnya, setiap tahunnya omset penjualan yang dapat dikantonginya mencapai Rp 30 juta. Omset ini sendiri diakui sebenarnya telah menurun dibandingkan pada awal tahun 2001.”Sekitar tahun 2001, setahun omset saya bisa sampai Rp 50 juta,” papar Saman.
Dengan memiliki usaha sendiri, bersama keluarganya. Bahkan melalui usaha yang dirintisnya dari nol ini, Saman memberikan pekerjaan bagi penduduk sekitar . Saman mengakui dirinya tak mungkin bisa sukses tanpa dukungan dari para karyawannya., setiap bulan mampu memproduksi hiasan lampu antara 50-30 buah.Kesuksesan Saman ini agaknya menjadi contoh tepat bahwa tidak selamanya sebuah usaha yang dirintis membutuhkan modal banyak.
